
"Tuan Kai, sepertinya Nara membuat laporan lengkap ke kantor polisi. Ia ingin kasus tabrak lari yang menimpa Bastian di usut sampai tuntas" Hendra memberikan laporan pagi pada bos nya.
Kai terlihat tetap tenang. Jemarinya masih sibuk mengetik di atas laptop nya.
"Kenapa kau laporkan berita sampah ini pada ku? apa tidak bisa kau handel semua?" Kai terdengar marah karena pagi-pagi Hendra sudah mengganggu moodnya.
"Maafkan saya tuan"
Hendra memundurkan langkahnya dan hampir beranjak pergi.
"Tunggu!"
Hendra menghentikan langkahnya dan dengan seksama mendengarkan perintah bos nya.
"Tawarkan sejumlah uang pada keluarga gadis bodoh itu. Kau bilang usaha percetakan ayahnya hampir bangkrut bukan? berikan suntikan dana, setelah itu bujuk Kusmanto untuk menikahkan anak gadis nya dengan ku"
Kusmanto adalah ayah Nara, ia memiliki usaha percetakan yang tidak begitu besar dan sekarang nyaris bangkrut karena kekurangan modal.
Kai sengaja memanfaatkan situasi itu untuk merayu keluarga Kusmanto.
"Baik tuan akan segera saya laksanakan, tapi bolehkah saya bertanya sesuatu?"
"Sejak kapan kau berani bertanya pada ku? kau membantah perintah ku?!"
"Tidak tuan muda saya hanya meyakinkan diri apakah benar tuan ingin menikahi gadis itu?"
"Hendra .....akan ku ajarkan satu pepatah kuno yang baik 'Sekali mendayung dua pulau terlampaui'. aku menyelesaikan masalah yang di buat Deniz dan aku juga bisa menuruti permintaan mama"
Hendra mengangguk ia tidak bernyali untuk bertanya lagi. Ia bergegas ke bank dan mencairkan sejumlah uang lalu membawanya kepada keluarga Kusmanto.
__ADS_1
Hendra tiba di rumah sederhana dengan halaman yang tidak terlalu luas. Seorang pria paruh baya menyambutnya dengan ramah. Dia adalah Kusmanto.
Hendra sudah membuat janji dengannya sebelum datang ke rumah itu.
"Silahkan tuan sekretaris" Kusmanto mempersilahkan Hendra memasuki rumahnya. Hendra duduk tenang di ruang tamu.
"Aku tidak perlu bertele-tele lagi. Ambil ini dan tepati janji mu" begitu kata Hendra sembari menyerahkan sebuah tas hitam berisi tumpukan uang.
Kusmanto yang se umur-umur baru melihat uang sebanyak itu terkejut. Tangannya gemetar dan wajahnya terlihat sangat senang. begitu juga Dewi istrinya.
"Baiklah tuan sekretaris saya akan membujuk anak gadis saya untuk menikah dengan tuan..." Kusmanto nampak mengingat nama yang masih terdengar asing baginya.
"Tuan muda Kai Admaja" kata Hendra sedikit geram.
"Ah benar sekali tuan muda Kai Admaja. Tapi apa beliau mau dengan anak gadis saya? begini tuan anak saya sebenarnya sudah hampir menikah tapi calon suaminya...."
"Tenang saja tuan saya akan menepati janji"
"Bagus, besok tuan muda Kai akan kemari menemui anak mu jadi persiapkan semua. Bisa saja kau mendapat lebih dari ini jika mood tuan muda sedang bagus"
"Lebih dari ini?" bibir Kusmanto bergetar membayangkan tumpukan uang yang akan ia dapatkan lagi.
"Kalau begitu aku pergi, ingat jika kau melanggar janji kau tahu akibatnya bukan?"
"Saya mengerti tuan , anda tidak perlu cemas"
Hendra mengancingkan kembali jasnya dan melangkah menuju mobil mewahnya yang terparkir di pinggir jalan.
***
__ADS_1
"Ayolah Nara untuk apa kau masih menunggu Bastian toh dia sudah tidak ada sekarang!"
"Bapak kenapa bicara begitu?" mata Nara berkaca-kaca.
"Pokoknya bapak tidak mau tahu cabut laporan mu ke polisi dan kau menikahlah dengan tuan muda kaya raya itu"
"Pak apa bapak tega melihat Nara tidak bahagia? siapa laki-laki itu? Nara sama sekali tidak kenal pak!"
"Nara apa kamu juga tega melihat usaha bapak bangkrut?! adik mu tidak selesai sekolah bahkan kuliah?! kamu jangan egois Nara!"
Nara tertunduk dan menangis tersedu, ia kesal dan sakit hati pada keinginan bapaknya.
Baru saja ia kehilangan laki-laki yang akan menjadi suaminya tapi bapaknya seperti tidak mau peduli.
"Bapak bilang Nara egois tapi bapak sendiri memaksakan kehendak pada Nara" kata Nara sembari menangis.
"Ah sudahlah, besok tuan kaya itu akan kemari jadi jangan kecewakan bapak dan ibu Dewi. Kau harus menurut pada kami"
Ibu Dewi adalah ibu sambung Nara. Ibu kandungnya telah lama tiada. Dari pernikahan dengan Dewi, Kusmanto memiliki seorang anak laki-laki yaitu adik tiri Nara yang sekarang duduk di bangku sekolah menengah.
Kusmanto keluar dari kamar anaknya dan membiarkan anak gadisnya menangis tersedu.
"Bagaimana pak? apa Nara setuju?" tanya Dewi.
"Tentu saja dia harus setuju"
Dewi tersenyum puas. Ia sedang berpikir jika Nara menikah dengan pria kaya, ia bisa memanfaatkannya untuk meminta barang-barang mahal.
Mulai sekarang hidup mereka akan enak dan tidak susah lagi.
__ADS_1