
Nara duduk dengan tenang di kursi ruang tamu. Bapak dan ibu sambungnya sedang harap-harap cemas menunggu kedatangan si tuan kaya.
Tidak berapa lama tiba sebuah mobil mewah di halaman rumah Kusmanto. Sekretaris Hendra muncul membukakan pintu untuk seorang laki-laki muda.
Nara memandang laki-laki itu dari balik pintu yang terbuka sedikit.
Laki-laki itu berjalan dengan angkuh di iringi Hendra di belakangnya.
Melihat dari tampang dan stratanya untuk apa laki-laki itu ngotot menikahi ku?
Memangnya dia sudah tidak bisa membedakan mana gadis yang cantik dan yang biasa saja seperti ku?
Kai berdiri di ambang pintu terdiam sejenak memandang ke arah Nara yang sedang duduk di sofa. Gadis itu menunduk terdiam tanpa menyambut kedatangan Kai.
Tatapan Kai bisa diartikan datar tanpa ekspresi. Ia tidak tersenyum tidak juga terlihat kagum saat memandang Nara. Hanya biasa saja dingin tanpa arti.
"Silakan masuk tuan, mari silahkan duduk" kata Kusmanto dan Dewi bersamaan.
Nara terlihat muak dengan tingkah bapak dan ibu sambungnya.
Sekretaris Hendra mengeluarkan sapu tangan dan membersihkan sofa yang akan di duduki oleh Kai.
"Dengan satu gerakan elegan Kai duduk tanpa memandang Nara yang terlihat sedang *******-***** jarinya.
"Aku ingin pernikahan di adakan secepatnya" kata Kai.
"Baik tuan kami setuju"
"Setelah menikah dia akan ikut tinggal di rumah ku dan bukan disini"
"Baik tuan"
"Dan untuk mu Nara, ku dengar calon suamimu mengalami tabrak lari. Jika kau ada sangkut paut dengan hukum segera cabut dan selesaikan. Aku tidak ingin menikah dengan gadis yang masih mengurusi masa lalunya"
__ADS_1
"Apa?!"
Enak saja dia meminta aku mencabut laporan ku pada polisi. memangnya siapa dia? kau tidak tahu betapa berartinya Bastian untuk ku!
"Anda jangan cemas tuan, kami pastikan anak kami akan terbebas dari sangkut paut hukum. Iyakan Nara?" Kusmanto melirik tajam anak gadisnya. Nara hanya terdiam seribu bahasa.
"Baiklah, ku rasa semua sudah jelas dan paham dengan semua ini. Hendra ayo kita pergi"
"Baik tuan muda"
Sebelum pergi Hendra menyerahkan amplop coklat berisi uang tunai. Mata Kusmanto dan Dewi terbelalak melihatnya. Air liur mereka seperti menetes melihat tumpukan uang di dalam amplop itu.
Nara berlari kekamarnya, ia tidak bisa melakukan apapun kecuali menangis sembari memeluk bingkai foto Bastian.
"Maafkan aku Bastian, bukan maksud ku untuk menghianati cinta kita. Aku tidak memiliki pilihan. Bapak mendesakku menikahi laki-laki itu" gumam Nara sambil terisak.
***
Kai tiba dan seperti biasa ia mengobrol lebih dulu di ruang tengah dengan sang ayah yaitu tuan Aska.
"Ayo kita makan" Nyonya Raya menghampiri suami dan anak sulungnya agar bergegas ke meja makan. Deniz sudah duduk disana menunggu ayah dan kakaknya.
Kai mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jas dan menumpulkan ponsel itu bersama ponsel lainnya di meja kecil dekat ruang tamu.
Tuan Aska dengan ketat memberikan peraturan pada anggota keluarganya agar ketika berkumpul tidak memegang ponsel apa lagi asyik memainkan ponsel.
Di meja makan semua fokus pada makan, obrolan dan candaan. Tidak ada satu pun yang makan sembari main ponsel.
Hendra di dapur duduk di meja yang sudah disediakan untuk staf dan para pelayan. Ia menikmati segelas jus dan sandwich sambil menunggu Kai selesai makan.
"Pa...ma ada yang ingin Kai katakan"
"Ada apa Kai kenapa terlihat serius sekali?" nyonya Raya memandang anak sulungnya dengan cemas.
__ADS_1
"Kai akan menikah Minggu depan"
"Uhukk!" Deniz tersedak makanannya. Sementara tuan Aska dan nyonya Raya saling pandang.
"Benarkah? dengan siapa? kenapa tidak bilang? mana calonnya mama mau lihat,"
"Ma....tenang...Kai akan bawa calon istri Kai kemari bertemu papa dan mama. Tapi..."
"Tapi apa?" tanya tuan Aska.
"Dia gadis biasa dari kalangan keluarga yang sederhana"
Tuan Aska menghela napasnya. Ia lalu tersenyum memandang Raya.
"Tidak masalah bawa dia kemari"
"Baik pa"
Deniz menyenggol kaki Kai dan mengisyaratkan untuk bicara. Keduanya menuju kamar Deniz setelah acara makan bersama selesai.
"Kakak mau menikah? dengan siapa?"
"Dengan gadis yang calon suaminya kau tabrak!"
Deniz langsung terdiam, ia pasrah dan tidak berani lagi bertanya. Ia yang membuat masalah dan kakaknya yang menanggung akibatnya.
"Maaf kan Deniz kak"
"Sudahlah Deniz lain kali belajarlah berhati-hati dan bertanggung jawab. Kau pria sejati jadi kau harus bisa belajar menyelesaikan masalah mu sendiri. Kakak tidak selamanya bisa membantu mu"
Deniz mengangguk penuh penyesalan.
"Gadis itu minta kasus kecelakaan itu di usut tuntas. Tapi kau jangan cemas Kakak sudah menghandel semua"
__ADS_1