Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Bab 170 Sekretaris Hendra


__ADS_3

Sekretaris Hendra mendatangi rumah orang tuan Kai.


Tuan Aska terlihat sedang sibuk di ruang kerjanya sementara nyonya Raya ia sibuk membuat kue.


"Selamat siang nyonya" Sapa Hendra begitu melihat Raya di dapur.


"Hai Hendra, kenapa kemari tidak mengabari?"


"Maaf nyonya, saya mencari tuan Kai"


"Kai? ia tidak kemari"


"Kalau tuan Deniz?"


"Deniz sudah berangkat ke Admaja Group pagi-pagi sekali"


"Oh baiklah, apakah saya bisa bertemu tuan Aska?"


"Ayo aku akan mengantar mu" Hendra mengikuti langkah Raya menuju ruang kerja Aska.


"Pa, ada Hendra"


Aska berdiri dari duduknya dan menyapa Hendra.


"Ada apa Hen? bukankah seharusnya kau ikut meeting dengan Kai?"


"Benar tuan, meeting besar sebentar lagi di mulai tapi tuan Kai dan tuan Deniz tidak ada di tempat"


"Kemana mereka? kenapa di jam sepenting ini malah pergi tidak jelas?"


"Saya kurang tahu tuan tapi saya sudah mencoba menghubungi dan mencari tuan Kai hanya saja belum ketemu"


"Kenapa kau tidak mewakili dulu di meeting itu?"


"Saya tidak berani tuan, di meeting nanti akan hadir tuan besar jadi kalau saya yang memimpin pasti beliau menolak"


"Baiklah aku akan ikut dengan mu"


"Raya siapkan stelan kerja ku, aku akan ke Admaja Group sekarang"

__ADS_1


"Baiklah" Raya melangkah ke kamarnya membuka lemari dan meraih stelan jas berwarna hitam.


Sudah lama rasanya ia tidak menyiapkan stelan kerja untuk Aska. Rutinitas pagi nya dulu adalah memasangkan dasi untuk suaminya. Sekarang Aska lebih banyak bekerja dari rumah karena Kai dan Deniz sudah di tempatkan untuk memimpin perusahaan.


"Kemana anak-anak itu?!"


"Sabar pa mungkin Kai dan Deniz ada urusan di luar"


"Tapi meeting kali ini sangat penting Raya, anak-anak mu membuat ku heran"


Raya tersenyum, ia selesai mengikat dasi untuk Aska.


"Hendra apa kau sudah bertanya pada Nara?"


"Nona Nara?"


"Iya dia kan istri Kai mungkin ia tahu di mana Kai sekarang dan ada urusan apa"


"Saya belum bertanya pada nona Nara nyonya, akan saya coba nanti"


"Baiklah"


Sementara Deniz ia sibuk mengikuti pergerakan Kai secara diam-diam. Ia tahu kakaknya punya rencana yang tidak di ketahui Deniz.


Gedung Admaja Group.


Tuan Aska memimpin meeting di temani Hendra. Sejak tadi wajah tuan besar sudah terlihat kurang senang. Ia sepertinya kecewa dengan cucunya. Disaat sedang penting mereka malah menghilang entah kemana.


"Aska papa mau bicara" kata tuan besar.


"Kemana Kai? bukankah dia presiden direktur di Admaja Group? kenapa di meeting sepenting ini ia berani absen"


"Mungkin Kai ada urusan penting pa"


"Memang urusan apa yang jauh lebih penting dari Admaja Group?"


"Nanti saya akan menasehati Kai dan Deniz agar lebih serius memimpin perusahaan. tapi tidak biasanya Kai seperti ini"


"Deniz juga sama saja, papa berharap besar pada anak itu tapi kau lihat sekarang dua-duanya membuat kecewa saja"

__ADS_1


Aska tidak bisa membela Kai maupun Deniz. Kedua anaknya memang melakukan kesalahan.


"Hendra cari Kai dan bawa di ke rumah, aku mau bicara"


"Baik tuan Aska"


Hendra pergi ke toko bunga milik Nara. Di sana Nara sedang melayani pembeli.


"Nona saya minta waktu anda sebentar"


"Ada apa sekretaris?"


"Apa tuan Kai kemari?"


"Tuan Kai? bukankah ia berangkat ke kantor bersama mu dan Deniz?"


"Benar nona, tapi tadi tuan bilang akan mengurus sesuatu dan sampai sekarang belum kembali ke kantor"


"Apa ponselnya tidak aktif"


"Benar"


"Tapi tuan Kai tidak kemari"


"Baiklah kalau begitu saya permisi"


"Tunggu sekretaris, ada yang ingin ku tanyakan pada mu"


"Silahkan nona"


"Akhir-akhir ini tuan Kai selalu bicara aneh pada ku, ia seolah ingin memberitahu ku kalau Bastian masih hidup. Apa kau tahu sesuatu?"


"Maaf nona saya tidak tahu"


Nara tidak percaya jika Hendra tidak tahu, ia pasti bungkam karena takut Kai marah.


"Baiklah terimakasih sekretaris"


Hendra melangkah menuju mobilnya meninggalkan toko bunga Nara.

__ADS_1


__ADS_2