
Nara termenung di ruang tunggu rumah sakit. Mengenang kebersamaannya dengan Kai selama ini. Sejak pertama bertemu sampai detik ini Nara masih mengingat semua.
Air mata Nara mengalir tanpa isakan dan suara. Hatinya terluka melihat Kai sekarang terbaring di ranjang rumah sakit.
Nyonya Raya memegang bahu menantunya memberi kekuatan.
"Ma, Kai pasti baik-baik saja kan?"
"Iya Nara, anak mama itu kuat sejak kecil ia pasti baik-baik saja"
Tuan Aska terdiam, ia juga cemas dengan kondisi Kai. Terlebih ia juga tahu siapa pelaku dibalik penusukan ini.
Pelakunya tak lain adalah Deniz adik Kai sendiri.
"Bagaimana dokter?" Nara langsung menghampiri dokter yang keluar dari ICU.
"Tenanglah nyonya, tuan Kai selamat sebentar lagi akan di pindahkan ke kamar rawat"
"Syukurlah..." Nyonya Raya menahan air matanya. Sementara Nara terlihat lega, ia berjalan melihat Kai dari balik dinding kaca.
***
Deniz tampak panik karena Kai kritis tertusuk senjata tajam. Ia tidak mengira orang suruhannya akan melakukan itu pada Kai.
Deniz hanya meminta orang itu mengerjai kakaknya tapi tidak sampai menusuknya.
"Bagaimana ini, papa sudah tahu jika aku pelakunya" Deniz nampak gusar, ia ingin tahu keadaan Kai tapi Deniz tidak berani menghadapi ayahnya.
"Deniz.." Deniz menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Disana tuan Aska berdiri dengan wajah datar.
"Pa....maafkan Deniz pa"
Tuan Aska tak bergeming hanya diam menahan amarahnya.
"Deniz tidak bermaksud menyakiti kakak pa" Deniz mulai menyesal dan menangis.
__ADS_1
"Papa tidak pernah mendidik mu untuk menjadi manusia serakah Deniz. Kau dan Kai adalah anak laki-laki papa. Kalian memiliki kedudukan yang sama"
"Iya pa maaf..."
"Kau tahu Deniz kakak mu kritis karena perbuatan mu. Apa kau pernah berpikir bagaimana perasaan Nara?"
Deniz begitu menyesal ia telah di butakan harta dan tahta.
"Pa Deniz harus bagaimana?"
"Kau laki-laki sejati Deniz, temui kakak mu di rumah sakit dan minta lah maaf padanya. Kau harus terima jika Kai tidak memaafkan mu dan melaporkan mu pada pihak berwenang"
Deniz setengah putus asa, ia tahu kesalahannya fatal.
Paginya Deniz ke rumah sakit menjenguk Kai yang sudah mulai sadar dan dalam pemulihan. Dengan ragu Deniz memasuki ruangan Kai.
Semua terdiam menunggu Kai bicara.
"Mama dan Nara kalian keluarlah aku akan bicara dengan Deniz"
Kai mengangguk seraya memegang tangan ibunya.
"Kak maafkan Deniz" kata Deniz sedih ia terlihat sangat menyesal.
"Deniz, aku marah padamu bukan karena kau menggantikan ku di Admaja Group tapi kenapa kau jadi pengecut? kita bisa bersaing sehat Deniz. Aku adalah orang yang akan mengalah untuk mu, aku yang akan berada di depan mu jika terjadi masalah. Aku yang paling utama akan membelamu adikku"
Deniz menangis tersedu di hadapan Kai.
"Dengar saudaraku, aku sudah memaafkan mu. Jadilah lebih baik" Kai menepuk bahu adiknya tanpa rasa dendam.
***
Deniz kembali ke Amerika, Admaja Group di pimpin tuan Aska dan Kai tetap menjalankan perusahaan miliknya yaitu Group K.
Kai kembali menatap hidupnya bersama Nara. Keduanya saling mencintai dan bahagia.
__ADS_1
Pagi itu Kai memberi kejutan pada Nara dengan menutup mata istrinya itu.
"Sayang kita akan kemana? Kenapa mataku di tutup?"
"Tenanglah aku akan membawamu ke mimpi mu,"
"Mimpi ku?"
"Ayo Hen kita berangkat"
Hendra menjalankan mobil menuju suatu tempat. Perjalanan cukup lama hampir dua jam dan selama itu Kai melarang Nara membuka tutup matanya.
"Kita sudah sampai kata Kai" ia menuntun istrinya turun dari mobil dan berjalan menuju suatu tempat.
Kai membuka tutup mata Nara. Di kejauhan nampak pemandangan bukit indah. Disana nampak sebuah rumah besar dengan ornamen kayu. Di dekat rumah itu ada danau dan tanah luas untuk berkebun.
Inilah yang dimaksud impian Nara. Kai benar-benar mewujudkannya.
Dengan haru Nara memeluk Kai. Lebih dari mimpi itu Nara hanya ingin tetap bersama Kai hingga keduanya menua bersama.
"Aku juga memiliki kejutan untuk mu" kata Nara sembari meraih tangan Kai dan meletakkannya di perutnya.
"Nara..kau..." Kai tidak percaya dan menahan haru.
"Iya sayang disini di dalam sini ada kehidupan dan harapan kita"
Nara telah mengandung tiga Minggu. Lengkap sudah rumah tangga Kai dan Nara.
Kai merengkuh Nara kedalam pelukannya. Keduanya tersenyum penuh bahagia.
Hendra memandang Kai dan Nara ikut merasakan getar kebahagiaan kedua insan itu.
Sepertinya aku ingin secepatnya berumah tangga juga. -Hendra-
TAMAT
__ADS_1