
"Papa tidak mau jika Kai yang menguasai Admaja Group seutuhnya" tuan Bram terlihat berbicara dengan Aska.
"Kai tidak menguasai pa, ini hanya sementara. wewenang penuh tetap ada pada saya"
"Tetap saja papa tidak mau jika Kai menjadi presiden direktur Admaja Group. Itu adalah posisi yang terlalu tinggi. Seharusnya Deniz cucu kandung ku lah yang menguasai kursi Presdir"
"Pa saya sudah pernah bilang Kai juga anak kami. Anak ku dan Raya"
"Tapi dia tidak ada aliran darah dengan kita. Jika kau percayakan Admaja Group padanya itu terlalu berbahaya!"
"Baiklah tunggu sampai Deniz menyelesaikan pendidikannya di Amerika. Kita akan adakan meeting besar nanti"
"Pembagian tetap tidak bisa sama rata. Deniz harus tetap mendapat yang paling banyak saham Admaja Group. setelahnya Dizya"
"Lalu Kai bagaimana pa?"
"Terserah pada mu tapi aku tidak mau perusahaan sebesar ini jatuh ke tangan orang lain"
Aska kesal ia langsung pergi, lagi-lagi ayahnya membahas tentang hubungan darah.
Kai sangat pintar dan cerdas ia bahkan memajukan perusahaan lebih baik di banding masa kejayaan Aska dulu.
Benarkah anak ku Kai bisa merebut Admaja Group dari ku? apa benar suatu saat ia bisa berhianat pada ku karena kami tidak ada hubungan darah?
"Ada apa pa?" nyonya Raya muncul membawa secangkir teh camomile untuk Aska.
__ADS_1
"Aku hanya berpikir tentang anak-anak kita"
"Kai, Deniz dan Dizya. Ada apa dengan mereka?"
"Mereka sudah dewasa dan sebentar lagi Kai akan menikah, Deniz dan Dizya akan lulus kuliah lalu sebentar lagi mereka juga akan menikah"
Rasa haru menelusup kedalam kalbu Raya dan Aska di malam itu. Mereka duduk santai dan membicarakan anak-anak mereka yang sudah mulai dewasa.
"Oh ya pa besok kita ada tamu untuk makan malam bersama, mama sudah mengundang keluarga Kusmanto untuk datang"
"Keluarga Kusmanto?" tuan Aska seperti asing dengan nama itu.
"Calon besan kita pa"
"Oh ya ..baiklah undang mereka papa ingin tahu seperti apa mereka"
"Tidak masalah ma asal Kai senang dan itu adalah pilihannya"
"Oh ya ma telpon Kai dan suruh kemari, ada yang mau papa bicarakan soal pekerjaan"
"Iya pap"
Nyonya Raya menelpon anak sulungnya untuk datang ke rumah. Tahu Kai akan kerumah nyonya Raya langsung ke dapur membuat camilan kesukaan Kai.
Kalau malam seperti ini pasti Kai sudah makan. Jadi akan ku buatkan cemilan saja.
__ADS_1
Kai tiba di rumah orang tuanya. Ia menyapa ibunya di dapur dan langsung ke ruang kerja ayahnya.
"Ad apa pa?"
"Tutup pintunya Kai papa ingin bertanya sesuatu" wajah tuan Aska terlihat serius. Kai memandangi ayahnya. Ia baru tersadar jika ayahnya sudah sedikit beruban meski masih terlihat gagah dan tampan seperti biasanya.
"Kai jika suatu hari kakek memanggil mu dan bertanya soal perusahaan, kau terangkan saja secara profesional pada kakek"
"Baik pa, tapi ada apa ini? apa kakek bicara sesuatu pada papa soal kepemimpinan Kai? apa kakek kurang setuju?"
"Tidak, bukan begitu. Kakek hanya mau tahu perkembangan perusahaan. Wajar lah kalau kakek ingin tahu"
"Iya pa baik saya akan melakukan seperti apa yang papa bicarakan tadi"
"Bagus, oh ya besok keluarga calon istrimu akan makan malam kemari. Papa wanti-wanti kau jangan sampai terlambat. Jika ada meeting sampai malam cancel saja"
"Iya pa"
"Kai apa kau benar-benar merasa memilih wanita yang tepat?"
"Saya rasa begitu pa"
"Apa kau menyukainya?"
"Tentu saja, tapi masih kalah kalau di banding cinta papa pada mama"
__ADS_1
"Tentu saja, kau jangan main-main. Kau tidak akan mengerti jika papa jelaskan soal yang satu ini"
"Hahaha" Kai tertawa geli jika ayahnya sudah bucin.