
Siang itu Naila terlihat berada di rumah untuk menyelesaikan pembuatan vas yang sudah ia desain sebelumnya. Di rumah itu Naila memiliki tempat kerjanya sendiri yang menghadap ke arah taman samping. Dari sana Naila bisa memandang taman yang asri di rumah itu, ia jadi bisa memiliki banyak inspirasi untuk melukis vas yang ia kerjakan.
Tangan Naila berlumuran tanah liat basah. Kakinya terlihat lincah memutar poros meja yang di atasnya sudah di letakkan tanah liat. Jemari Naila sibuk membentuk pinggiran vas sesekali ia membasahi tangannya dengan air agar tanah mudah di bentuk.
Di ruang makan tidak jauh dari tempat kerja Naila Arsen duduk santai. Ia pulang lebih awal hari itu karena menjelang weekend. Arsen memandangi Naila sejak satu jam. Pitt yang muncul dari dapur membawakan secangkir kopi dan kue untuk Arsen terlihat mengikuti arah pandangan tuannya itu.
"Wanita saat melakukan sesuatu yang ia senangi ia akan terlihat bersinar tuan"
Arsen tersentak merasa salah tingkah dengan perkataan Pitt yang sok tahu tapi benar adanya.
Arsen meraih cangkir kopinya lalu menyesap isinya.
"Ahh panas!" Arsen melirik ke arah Pitt.
"Kenapa kau memberiku kopi yang masih panas!"
"Bukankah tadi tuan sendiri yang meminta agar kopi di seduh air panas dan tidak di tambah gula?"
Arsen terdiam rupanya perdebatannya soal kopi panas berhasil menarik perhatian Naila. Ia berjalan keluar dari ruang kerjanya dengan tangan masih berlumur tanah liat basah.
"Kau sudah pulang?" tanya Naila berjalan menghampiri Arsen.
__ADS_1
"Bisa bantu aku?" tanya Naila ragu.
"Apa?" jawab Arsen.
"Tolong ikatkan rambutku dengan tali di kantung bajuku" kata Naila sembari mengangkat kedua tangannya yang kotor. Arsen masih diam ia tidak mengira Naila akan mengajukan permintaan aneh itu.
"Oh kalau kau keberatan biar Pitt saja"
"Baik nyonya" Pitt sudah hampir bergerak dari tempatnya berdiri tapi dengan cepat Arsen mendorong Pit meminta asistennya itu memundurkan langkah.
Arsen menatap tajam ke arah Pitt. seolah bertanya "Apa yabg kau lakukan bodoh?!"
Arsen meraih tali dari dalam saku kemeja Naila. untuk pertama kali dalam pernikahan mereka Arsen menyentuh rambut Naila.
Ia membelainya lalu mengumpulkan menjadi satu dan mengikatnya serampangan terlihat kaku dan tidak terbiasa mengikat rambut.
"Emm lumayan, baiklah aku kembali ke pekerjaanku dulu" kata Naila cuek.
Arsen tetap berdiri di tempatnya masih memandang istrinya yang terlihat....bersinar.
***
__ADS_1
"Ini untuk mu" Naila menyerahkan sebuah kartu undangan pameran. Arsen meraihnya lalu membaca undangan itu.
"Aku sibuk"
"Yah aku tidak terlalu berharap kau bisa datang di sela kesibukanmu itu tapi setidaknya aku mengundang mu untuk datang" Naila melangkah pergi meninggalkan kamar Arsen.
Arsen terdiam mengamati undangan itu sekali lagi senyum samar terlihat di bibirnya. ia meraih ponselnya dan menelpon Pitt.
"Pitt tunda meeting besok, carikan kado untuk Naila"
"Apa besok ulang tahun nyonya? Saya kira baru bulan lalu nyonya berulang tahun"
"Apa aku hanya harus memberi kado jika orang itu ulang tahun?!"
"Maaf tuan"
"Besok Naila ada pameran untuk barang kerajinan di tokonya jadi aku akan datang dan bawakan kado untuknya!"
Arsen menutup telepon, ia ambruk di ranjang memandang langit-langit kamarnya. Sekilas melintas bayangan Naila yang sedang membuat vas terlihat cantik dan ....bersinar...
(wkkkkk thor pingin ketawa pas nulis ini)
__ADS_1