Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 115 Piknik


__ADS_3

Keluarga Admaja tiba di kebun binatang. Anak-anak sudah bersemangat ingin melihat binatang kesukaan mereka.


Sebenarnya Aska melarang anak-anak untuk membaur dengan para pengunjung lain. Ia bisa saja membeli kebun binatang itu dan menjadikan hak miliknya atau ia akan membuat kebun binatang di salah satu area kosong milik Admaja Group. Mudah saja bagi Aska melakukannya tapi Raya tidak setuju.


Kata Raya tidak seru jika kebun binatang sepi pengunjung, kegembiraan juga akan berkurang karena anak-anak cepat bosan jika memiliki kebun binatang sendiri.


Aska tidak mengerti dengan cara berpikir Raya, yang jelas cara berpikirnya itu sama dengan ibunya yaitu nyonya Ariani.


Sejak kecil ibunya mengajarkan Aska hidup seperti kebanyakan orang. Berbaur dengan orang lain, kuliner di kaki lima yang menyajikan makanan enak, ibunya bahkan mengajak Aska kegiatan sosial seperti membantu korban bencana, berkunjung ke panti asuhan dan ikut acara bazar buku.


Semua itu sangat berbeda ketika Aska bepergian dengan ayahnya yaitu tuan Bram. Jelas mereka akan menginap di hotel mewah berbintang. Makanan serba enak dan mahal yang di masak oleh koki handal. Tidak ada kerumunan orang apalagi mengantri semua serba private.


Aska tersenyum lalu mengecup rambut Raya. Ia selalu suka aroma shampo di rambut Raya sejak jaman sekolah aroma rambut itu tetap sama sampai sekarang tidak berubah.


"Papa ayo lihat gajah!" Deniz menarik tangan ayahnya ke kandang besar. Disana di isi beberapa ekor gajah. Deniz antusias ingin memberi makan gajah. Aska tak memperbolehkan karena menurutnya itu masih berbahaya bagi Deniz.


Sementara Raya menggandeng tangan Kai dan Tan menggendong Dizya menuju kandang Jerapah, mereka di susul oleh Aska yang kewalahan dengan Deniz.


Setelah berputar mengelilingi setiap kandang di kebun binatang itu akhirnya keluarga Borjuis itu bisa bersantai di bawah pohon yang rindang.


Raya mengeluarkan bekal yang ia bawa dari rumah. Menuangkan segelas jus segar ke dalam gelas dan menyerahkannya pada Aska.


"Tan coba ambil foto kita sekeluarga" kata Aska. Tan meraih sebuah kamera kecil dari saku jasnya. Ia menunggu keluarga itu berpose sembari mengatur kameranya. Aska merengkuh bahu Raya dan anak-anak berdiri di depan mereka.


Klik....!


Tan membidikan kameranya dan mengambil gambar yang cukup banyak.


***

__ADS_1


Di tempat lain Yuki terlihat bimbang sembari memegangi ponselnya. Ia ingin menelpon Tan dan mengajaknya bertemu. Sepertinya mereka harus berbicara agar semua jelas.


"Yuki ..." sebuah suara terdengar memanggil nama Yuki. Ia mengenali siapa pemilik suara itu.


"Kalila ....?" Yuki terkejut melihat Kalila nampak di restoran tempatnya bekerja.


Sejak kapan Kalila kembali kemari? bukankah ia seharusnya berada di Milan? apa dia kembali mendekati Tan?


"Kalila kau disini?"


"Aku baru saja kembali dari Milan, bagaimana kabar mu?" Kalila menarik tangan Yuki untuk ikut duduk di sebuah spot di restoran itu.


"Aku baik"


"Bagaimana kabar Tan?"


Kenapa Kalila menanyakan kabar Tan apa dia belum bertemu dengan pria itu? apa Kalila juga tidak tahu jika hubungan ku dengan Tan merenggang?


"Kami sudah tidak bersama" jawab Yuki sedih.


"Uhuk!" Kalila tersedak minumannya. Ia meraih tisue kering dan membersihkan area bibirnya.


"Apa maksud mu kalian sudah tidak bersama?"


"Dia marah kepadaku"


"Tan marah pada mu? kenapa Yuki?"


Yuki tersenyum pedih, ia tidak tahu harus bercerita pada Kalila atau tidak tentang kebodohannya sendiri.

__ADS_1


"Katakan pada ku ada apa sebenarnya?"


"Beberapa Minggu yang lalu Tan terluka dan di bawa ke rumah sakit. Aku tidak tahu dengan jelas tentang pekerjaannya, sebenarnya yang ia hadapi sampai membuatnya berada dalam bahaya"


Jeda sejenak, Kalila mengamati Yuki dan mendengarkan dengan seksama sembari meminum latte dingin pesanan nya tadi.


"Aku melakukan suatu kebodohan dengan mengajukan sebuah syarat padanya"


"Syarat? untuk apa?" tanya Kalila heran.


"Karena aku mencemaskan nya, aku memintanya untuk memilih pernikahan kami atau pekerjaannya"


"Maksud mu kau memintanya meninggalkan Admaja Group dan Kak Aska?"


Yuki mengangguk ragu ia terlihat malu jika mengingat permintaan itu pada Tan.


"Hahaha! kau ini ada-ada saja Yuki! mana mungkin Tan mau meninggalkan kak Aska. Ya aku tidak tahu pasti tapi diantara kakek Tan sudah ada perjanjian dengan keluarga Admaja. Bagi Tan keluarga Admaja adalah segalanya. Ia akan memastikan semua berjalan lancar dan baik-baik saja untuk tuan mudanya dan kau malah mengajukan permintaan aneh itu"


"Iya aku menyesal"


"Yuki sebenarnya kau juga tidak bersalah karena kalian akan menikah jadi wajar kau ketakutan dan cemas"


"Kalila apakah kau akan kembali bersama Tan?"


"Pertanyaan macam apa itu?! aku bukan orang plin plan yang akan memanfaatkan celah diantara kalian. Baiklah aku akan membantu mu untuk kembali padanya"


"Benar kah?" mata Yuki berbinar dan sedikit berkaca-kaca. Setidaknya Kalila mau membantunya.


"Kau sendiri apa kau sudah memiliki seorang kekasih?" tanya Yuki pada Kalila yang hanya di jawab dengan senyum mengembang di bibir Kalila.

__ADS_1


__ADS_2