
Aska mengenakan setelan jasnya ia sedang malas mengenakan dasi. "Tan kau bawa dasiku, nanti saja akan ku pakai kalau sudah sampai di kantor"
"Baik tuan"
"Tan bacakan schedule hari ini"
"Pagi ini anda akan ada pertemuan dengan tuan Hyuk untuk membahas kinerja para karyawan dan melakukan evaluasi, Siang ada meeting dengan kolega dari Jerman tuan, setelah itu anda akan ke bandara"
"Ke bandara? untuk apa?"
"Menjemput nona Sara tuan"
"Kenapa aku harus melakukannya?!"
"Maaf tuan tapi tuan besar meminta saya untuk memasukannya kedalam schedule tuan muda hari ini"
Aska menghela napas kesal. Ia mengenakan kacamata hitamnya dan berjalan menuju mobil. Tan membukakan pintu mobil untuk Aska.
__ADS_1
Di kantor Raya sudah terlihat sibuk dengan komputernya. Ia bahkan belum sempat sarapan karena tadi sibuk menata kue kedalam toples dan menghiasnya. Nanti malam ia harus ke rumah keluarga Admaja untuk mengantarkan pesanan kue dari nyonya Ariani.
"Selamat pagi tuan muda..." semua staff berdiri dan memberi sapaan hangat untuk bos tercinta. Seperti biasa tuan Aska hanya diam dan mengangguk pelan. Ia melirik ke arah Raya yang juga berdiri dan mengucap salam padanya.
"Kau ke ruangan ku sekarang" perintah Aska sambil lalu. Raya bergegas meraih bolpoin dan buku agendanya. ia berjalan cepat menuju ruang kerja tuan Aska.
"Tan serahkan dasi tadi padanya"
Oh jadi ini taktik anda ya tuan muda, anda sengaja meminta Raya untuk memasang dasi itu. Baiklah aku akui kelicikan anda kali ini tuan muda.
"Apa? saya harus memasang dasi lagi tuan?"
"Kenapa memangnya? kau keberatan?!" Aska terlihat kesal. Raya menggeleng ia sedang tidak ingin mencari masalah dengan bosnya itu karena nanti malam ia harus menyambangi rumah si bos mengantar kue dari ibunya.
"Kalau begitu lakukan" Aska berdiri dari duduknya dan meraih sebuah karton kecil dengan kakinya. Karton itu berisi tumpukan file yang belum di tata di lemari file oleh Tan.
"Naiklah dan pasang dasi itu untukku"
__ADS_1
Tan melongo dibuatnya, ia tidak menyangka tuan mudanya selicik ini pada gadis itu.
Raya menaiki karton itu dan mulai mengalungkan dasi ke leher Aska. Dengan teliti ia memakaikan dasi itu. Wajah mereka berdekatan tapi Raya tidak berani memandang tuan Aska. Ia fokus pada pekerjaannya memasang dasi.
Selesai memasang dasi, Raya bergegas untuk keluar ruangan kerja tuan Aska. "Raya..tunggu"
Raya menoleh ke arah tuan Aska.
"Terimakasih" kata tuan Aska sambil tersenyum manis. Raya langsung meleleh. Senyum yang Selama ini ia rindukan dari pria itu akhirnya benar-benar ia dapatkan pagi ini.Tebakan Belalang benar, Aska tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama bersikap angkuh pada Raya.
Belalang kau benar-benar peramal rupanya!.
Tan yang masih tidak habis pikir dengan kejadian pagi ini mencoba bersikap waras dengan segera kembali ke ruang kerjanya sendiri dan meninggalkan tuan Aska yang akan meeting.
Apa tuan muda salah makan atau ia sudah gila karena terlalu banyak beban kerja. Apa aku yang gila?!
Tan menggelengkan kepalanya dan merapikan penampilannya. ia bergegas menekuni laptop di hadapannya. Sesekali Tan melirik ke arah meja kerja raya yang terlihat dari ruangan Tan. Gadis itu terlihat tersenyum senang sejak kembali dari ruang kerja tuan Aska.
__ADS_1