Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 119 Gaun Pengantin


__ADS_3

"Raya mana dasi ku?" Sura Aska terdengar sampai ke kamar anak-anak.


"Sebentar sayang" Raya sedang memakaikan baju seragam sekolah untuk Kai.


"Suster tolong lanjutkan ya, sekalian pakaian Deniz dan Dizya"


"Baik nona"


Raya bergegas ke kamarnya menemui Aska yang sedang berdiri di depan kaca rias sembari mengancingkan kemejanya. Raya membuka lemari aksesoris yang di dalamnya terdapat jajaran dasi milik Aska yang sudah tertata dengan rapi. Ia meraih satu dasi dan memantaskan dengan kemeja yang Aska pakai.


"Ini bagus kan?" tanya Raya sembari berjinjit untuk memasangkan dasi itu ke leher Aska.


"Dari mana saja kau?" gumam Aska, ia menarik kursi rias dengan sebelah kakinya.


"Naiklah" perintahnya, Raya bergegas menaiki kursi rias itu agar tinggi mereka sejajar.


"Sayang nanti siang aku mau mengantar Yuki fitting gaun pengantin, boleh ya?"


"Kenapa bukan Tan yang mengantar nya?"


"Tan juga fitting baju ke desainer khusus untuk baju pengantin pria"


Aska memasukan kedua tangannya kedalam saku celana. Ia memandang Raya dengan tatapan lembut. Aska ingat sewaktu menikah dulu, Raya mengenakan gaun sederhana dan pernikahan mereka yang seharusnya di gelar sangat mewah dan meriah juga di gelar secara biasa karena terganjal restu orang tua Aska.


"Apa kau juga ingin memesan satu gaun untuk mu?" tanya Aska sembari mengusap pipi Raya.


"Untuk ku? untuk apa?" Raya mengentikan aktivitas merapikan dasi Aska. Ia memandang suaminya.


"Mungkin bisa kau kenakan nanti ketika ulangtahun pernikahan kita"

__ADS_1


"Apa itu tidak berlebihan?" Raya merasa aneh jika ia mengenakan gaun pengantin di acara anniversary mereka nanti.


"Tidak juga, malah akan sangat bagus nanti. Kau pakai gaun indah dan aku akan pakai stelan tuxedo dengan dasi kupu-kupu"


"Lalu kita berdansa di iringi musik klasik?" Raya terlihat antusias dan matanya berbinar.


"Hmmmm"


Aska mengecup bibir Raya dengan lembut. Ia ingin memberikan kebahagiaan yang dulu tidak Raya dapatkan saat pesta pernikahan mereka.


Raya memeluk Aska dengan erat betapa ia begitu mencintai suaminya. Raya bersyukur setelah perjuangan panjang cinta mereka akhirnya bisa bersatu dan memiliki kebahagiaan yang utuh.


"Aku akan memesan satu gaun yang cantik untuk ku" kata Raya dengan mata berkaca-kaca dan senyum mengembang di bibir manisnya.


***


Tan pergi ke kantor Rama di jam istirahat. Sekretaris Rama mengantarkan Tan menuju ruang kerja pimpinan perusahaan itu.


"Oh Tan kemarilah" kata Rama salah tingkah.


Kalila terlihat cuek dan melanjutkan makan siangnya.


"Maaf kalau saya mengganggu"


"Sama sekali tidak, Kalila memaksaku mencoba masakan yang ia buat" kata Rama sembari mengerlingkan sebelah matanya. Kalila langsung cemberut.


Tidak bisakah ia menyanjungku sedikit saja di depan mantan kekasih ku yang sekarang hampir menikah ini?


"Saya kemari ingin menyerahkan undangan ini pada anda"

__ADS_1


"Oh undangan pernikahan mu, baiklah aku pasti datang" kata Rama sembari menepuk bahu Tan.


Sebelum pergi Tan merogoh saku jas bagian dalam. Ia mengeluarkan sebuah undangan dan menyerahkannya pada Kalila.


"Ini untuk anda nona Kalila"


Kalila berdiri dari duduknya dan menerima undangan itu. Tidak di pungkiri ada sesuatu rasa perih menjalar di hatinya.


Bukan berarti ia masih menyukai Tan hanya saja ia merasa tertinggal dari mantan kekasihnya itu.


Rama memperhatikan reaksi Kalila yang menerima undangan pernikahan dari Tan.


"Kalau begitu saya permisi" kata Tan.


Kalila terdiam sesaat setelah Tan pergi meninggalkan ruang kerja Rama.


"Ehmm!" Rama berdehm sengaja membuyarkan lamunan Kalila. Dengan gugup Kalila segera memasukan undangan itu kedalam tasnya dan ia membereskan kotak bekal makan siang yang ia bawa untuk Rama.


"Aku belum selesai memakan bekal yang kau buat untuk ku" kata Rama sembari terus mengamati wajah Kalila yang berubah menjadi pendiam.


"Lain kali saja akan ku buatkan makanan yang lebih enak untuk kakak" Kalila menyambar tasnya dan hampir berjalan pergi dari ruang kerja Rama.


"Tunggu!" Suara Rama menghentikan langkah Kalila.


"Kau cemburu pada cinta monyet mu itu?"


"Cemburu?! ku rasa kakak salah paham!"


"Kalau begitu kenapa kau langsung berubah menjadi pendiam dan sekarang kau buru-buru pergi dari hadapan ku?"

__ADS_1


"Ya...emmmm ...karena aku ingin pergi saja, lagi pula kak Rama tidak suka kan jika aku berlama-lama disini" Kalila tidak perduli lagi, ia membuka pintu dan bergegas pergi dari hadapan Rama.


Rama tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah Kalila.


__ADS_2