
Siang itu Ryan mengajak Aska untuk bertemu di taman kota. Aska tadinya tidak mau bertemu gadis itu tapi akhirnya ia datang juga.
Raya yang sudah menunggu Aska terlihat berdiri dari duduknya begitu pria itu berjalan ke arahnya. Raya memandangi perban di telapak tangan Aska.
"Kau terluka?" Raya menyentuh tangan Aska. Dengan cepat Aska menepis tangan Raya.
"Ada apa?" tanya Aska dengan nada dingin.
"Aku dengar dari Tan kau terluka dan membolos dari beberapa meeting penting"
"Bukan urusanmu!"
"Tuan muda, tolong jangan begini. Dewasalah dan hadapi semua, tolong jangan bersikap seperti ini"
"Kau meninggalkanku dan kau menceramahi ku sekarang, jangan ikut campur urusanku"
"Aska, jika aku memaksakan diri berada disamping mu, semua akan terasa lebih rumit"
"Kalau begitu pergilah aku tidak pernah menahan mu untuk disisiku"
Raya merasakan matanya memanas ada bulir bening meneteskan ke pipinya. Aska berdiri memunggunginya dan tidak mau menatap wajahnya.
"Baiklah, setidaknya aku sudah mencoba menemui mu dan aku tidak akan mengganggumu" Raya berjalan pergi meninggalkan Aska yang berdiri mematung. Aska memandangi Raya yang semakin jauh.
Kali ini benar-benar tidak ada kompromi diantara mereka. Aska sudah benar-benar melepas Raya.
Aska kembali ke rumahnya, ayahnya duduk di ruang tamu sambil menunggu Aska.
"Papa ingin bicara padamu Aska"
Aska menatap ibunya lalu berjalan mengikuti ayahnya menuju ruang kerja di lantai dua.
__ADS_1
"Apa yang terjadi denganmu Aska? papa tidak pernah mengajarimu menjadi pecundang"
"Maaf pa.."
"Apa karena gadis itu kau jadi tidak patuh lagi pada papa?"
"Tidak ada hubungannya dengan dia pa"
"Aska apa kau menyukai gadis itu? kau tertarik padanya?"
"Tidak pa"
"Membantah adalah sikap untuk melindungi seseorang, kau cemas jika gadis itu terkena Masalah besar karenamu?"
Aska terdiam, ia tidak akan bisa berbohong dengan ayahnya. Yang dikatakan ayahnya benar. Ia memang menyukai Raya. Sangat menyukainya tapi kali ini semua serba rumit. Jika ayahnya tahu pasti Raya akan terkena masalah besar. Ayahnya bisa saja membuat Raya dan keluarganya pergi selamanya dari kota ini dan pindah ke tempat yang jauh. Tempat di mana Aska tidak bisa lagi menemui Raya.
"Pa bukankah sudah ku bilang jika tidak menyukainya?"
"Baiklah pa"
Aska berbalik dan berjalan pergi meninggalkan ruang kerja ayahnya. Di depan pintu ibunya sudah menunggunya. Ibunya memeluk Aska dan menguatkan putranya itu.
"Ma Aska istirahat dulu...." kata Aska sembari berjalan pergi menuju kamarnya. Ia membanting badannya di atas ranjangnya. Aska memandang langit-langit kamarnya. Ia mengingat pertemuannya tadi dengan Raya.
Gadis itu memang mencintainya bahkan Raya sering bercerita pada sosok Belalang yang tidak lain adalah Aska sendiri.
tuk..tuk..
Pintu kamar Aska di ketuk, Aska bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke dekat pintu.
"Ada apa?" Maya terlihat segan dan takut.
__ADS_1
"Di luar ada tuan Rama, apa tuan muda ingin menemuinya?"
"Pergilah aku akan turun"
"Baik tuan muda" Maya bergegas menuju dapur. Entah kenapa ia selalu takut dengan tuan besar dan anak lelakinya di rumah itu. Kedua orang itu sungguh berkarisma dan menakutkan jika marah.
Aska menemui Rama di ruang depan. Keduanya duduk berbincang.
"Sejak kapan kau terluka di tanganmu?" tanya Rama basa-basi. Ia berteman dengan Aska sejak kecil. Ia sudah tahu perangai Aska dan sikap temperamennya. Pasti Aska bertengkar dengan Raya dan melampiaskannya pada dinding atau cermin hingga tangannya terluka.
Sejak kecil Aska sering bertingkah seperti itu jika sudah benar-benar marah.
"Ada apa kau kemari?" Aska tidak menghiraukan basa-basi dari Rama.
"Aku dengar Raya sudah tidak bekerja di perusahaannya lagi"
"Benar"
"Itu berarti kalian sudah berpisah?"
Aska terdiam, ia sudah tahu kemana arah pembicaraan Rama.
"Apakah aku boleh mendekati Raya?"
Aska menatap tajam ke arah Rama. Ia tahu Rama pasti mencari peluang di antara permasalahannya dengan Raya.
Aska berdiri dari duduknya dan bersiap pergi.
"Terserah tidak ada urusannya denganku" Aska berjalan pergi.
Kau belum melepaskannya Aska, aku tahu kau sangat menyukainya. Kita tumbuh besar bersama Aska, jadi kau tidak bisa mengelabuhi ku.
__ADS_1