
"Tuan muda nyonya besar sakit" Tan datang menemui Aska di rumah yang Aska sewa. Diam-diam Tan merasa sedih dan miris dengan Aska. Demi seorang gadis yang ia cintai Aska rela kehilangan semua.
"Mama sakit apa?" akhirnya Aska membuka suaranya.
"Nyonya tidak makan dan Hanya minum jus jadi kondisinya lemah. Asam lambung nyonya kambuh"
"Apa mama di rawat di rumah?"
"Benar tuan, nyonya besar di rumah. Nyonya menolak di bawa ke rumah sakit"
"Tan tolong jaga mama, aku titip mama padamu. Sementara ini aku belum bisa pulang ke rumah" Aska masih sakit hati jika ia harus kembali ke rumah dan bertemu ayahnya.
"Tapi tuan, nyonya ingin bertemu dengan anda"
Aska hanya terdiam, wajah ibunya melintas di benaknya. Aska tidak tega sebenarnya tapi ia belum siap pulang ke rumah dan bertemu ayahnya.
"Tan pergilah"
"Baiklah, jaga diri anda tuan"
Aska mengangguk dan mengantar Tan sampai halaman. Ia memandangi mobil.Tan yang pergi menjauh. Aska kembali ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Ia meraih ponselnya dan menelpon bibi Jang.
"Halo bi, ini aku"
"Tuan muda! kenapa kau baru mengabari?! kau membuat kami cemas!"
"Bibi Jang..."
"Iya tuan muda?"
__ADS_1
"Jangan mencemaskan aku, aku baik-baik saja. Lagi pula kau sudah tua jangan banyak pikiran"
"Ah kau ini dasar anak nakal! apa Tan sudah memberitahu tentang keadaan nyonya?"
"Iya aku tahu, dimana mama?"
"Tuan membawanya ke rumah sakit"
"Baiklah nanti aku akan kesana, sudah dulu bi"
"Tuan muda tunggu dulu..."
Tut....sambungan telepon berakhir.
Sore itu Aska dan Raya pergi ke rumah sakit A. keduanya berniat menjenguk nyonya Ariani. Tapi pengawal yang berjaga di depan kamar rawat VVIP melarang Aska masuk ke dalam ruangan.
"Maaf tuan muda, ini perintah tuan besar. Anda dilarang bertemu nyonya"
Aska memukul para penjaga itu dan terjadi perkelahian. Raya menarik lengan Aska dan mengajaknya pergi.
"Sabar tuan muda jangan membuat kegaduhan disini" kata Raya.
Aska dan Raya berjalan menuju parkiran rumah sakit. Disana Aska terdiam dan menunduk. Raya memeluknya dan meminjamkan bahunya. Aska menitikkan air matanya. Ia begitu merasa bersalah pada ibunya hingga ibunya jatuh sakit.
Aska serasa tidak berdaya sekarang. Keluar dari situasi rumit ini sangat sulit. Raya ikut menitikkan air mata dan menepuk-nepuk pelan bahu Aska.
"Tuan muda mungkin ini saatnya kau kembali" kata Raya lirih.
"Jangan bodoh, aku tidak akan meninggalkan mu"
__ADS_1
"Kau sudah banyak berkorban untuk hubungan kita. Mungkin benar....."
"Benar apa?" Aska mencengkram kedua bahu Raya dan memandangnya tajam.
"Mungkin benar kita tidak berjodoh. Terlalu sulit rintangan ini Aska...."
"Kau menyerah?! Raya kau menyerah? setelah kita saling berkorban banyak hal kau mulai menyerah dengan hubungan kita?! jawab aku!"
Aku kalah Aska, aku kalah karena tidak sanggup melihatmu menderita karena diriku. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini sekarang. ku mohon kembalilah dan kita sudahi semua. Meski ini menyakitkan tapi mungkin ini yang terbaik untuk kita berdua.
"Kenapa kau diam Raya?!"
"Maaf kan aku...." Raya melepas pegangan tangan Aska di lengannya. ia berlari pergi meninggalkan Aska yang masih berdiri di gedung parkiran rumah sakit.
Aska memandang punggung Raya yang semakin menghilang. Ia mulai kesal dan frustasi.
"Papa apa begitu sulitnya merestui hubungan ku dengan Raya? kenapa papa tega memperlakukan ku seperti sekarang?!" Aska menghantamkan tinjunya ke dinding hingga tangannya lebam.
Tan yang sedari tadi mengawasi Aska dan Raya kini berjalan mendekati Aska.
"Tuan muda tolong hentikan!"
"Tan? kenapa kau disini? pergilah!"
"Saya tidak bisa meninggalkan anda dalam situasi seperti ini tuan"
"Aku tidak perlu bantuan dari mu Tan. Jadi pergi dan jangan menemui ku lagi"
Aska berjalan pergi sementara Tan tetap mengikutinya dari belakang.
__ADS_1