
"Aska?!" Raya berlari ke pinggiran jalan utama. Ia tak menemukan siapapun disana. Ervan memandang prihatin pada Raya.
Siapa sebenarnya yang dicari oleh Raya? kenapa ia sampai seperti orang gila begini?
"Raya cukup!" Ervan meraih lengan Raya dan menariknya agar berhenti berlari tidak jelas.
"Sudah malam, sebaiknya kita kembali"
Raya menurut dan berjalan kembali ke restoran bersama Ervan. Sesekali ia menoleh ke belakang siapa tahu Aska ternyata berada di belakangnya.
Sesampainya di restoran semua turis sudah selesai makan dan kembali ke bus. Mereka akan ke hotel untuk beristirahat. Sementara Ervan mengajak Raya bicara sembari menyerahkan segelas air putih untuk Raya.
"Raya, boleh aku tahu siapa yang sebenarnya kau cari?"
Raya memandang Ervan dengan mata berkaca-kaca. Ia meremas jemari tangannya. Ervan menunggu Raya bicara.
"Kalau boleh ku tahu siapa Aska? apa dia sangat istimewa sampai kau mengejarnya seperti tadi?"
"Ia sangat berarti bagi ku" kata Raya. Air mata mulai membasahi pipi Raya. Ervan tidak tega lagi bertanya. Ia memutuskan akan mencari tahu sendiri besok.
"Baiklah ayo aku antar kau pulang"
Raya bangkit dari duduknya dan berjalan pulang ke apartemennya.
Semalaman Raya tidak bisa tidur. Ia teringat Aska. Seharusnya Raya menahan pria itu kemarin saat berada di bus karena ia yakin jika pernah mengenal pria itu.
Di rumahnya Ervan mulai menyalakan laptop dan mencari tahu siapa sebenarnya tuan muda Aska yang di maksud oleh Raya.
Ervan mengetik nama Aska dan ada beberapa yang kekuar termasuk Aska Admaja. Tuan muda dari penguasa Admaja Group yang ternama.
__ADS_1
"Apa dia yang di maksud oleh Raya? tapi apa benar mereka ada hubungan?" gumam Ervan penasaran.
Pagi sekali Ervan mendatangi apartemen Raya. Hari itu Raya sedang tidak ada tugas memandu wisata. Raya membuka pintu apartemennya dan sudah terlihat rapi.
"Kau akan pergi?"
"Benar, ada apa kemari sepagi ini?"
"Oh ada yang ingin aku tanyakan padamu Raya"
"Masuklah"
Ervan duduk di sofa, Raya membuatkannya minuman hangat.
"Semalaman aku tidak bisa tidur karena penasaran"
"Apa yang kau cari semalam itu adalah tuan muda pemilik Admaja Group? apa kalian benar-benar memiliki hubungan?"
"Benar dia orangnya"
"Jadi....kau dan tuan muda itu sepasang kekasih?"
Raya menggeleng, ia tersenyum getir. Hubunganya dengan Aska memang bukan sepasang kekasih. Ia sendiri bingung apa yang terjadi antara dirinya dengan Aska.
"Jika tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan aku harus pergi sekarang"
"Kau mau kemana Raya?"
"Aku akan bertemu seseorang"
__ADS_1
"Aku akan menemani mu"
"Baiklah jika kau ingin ikut bersama ku"
Raya di antar Ervan pergi ke sebuah coffe shop. Ia bertemu pria dengan stelan jas rapi dan berkacamata. Pria itu berdiri dari duduknya dan menyambut Raya dengan senyum datarnya.
"Apa kabar tuan Tan?" sapa Raya.
"Aku baik, bagaimana dengan mu?"
"Aku juga baik, kenalkan ini Ervan, ia adalah bosku di tempat kerja yang sekarang"
Tan mengangguk menyapa Ervan.
"Aku ingin bertanya padamu tuan Tan, dimana Aska berada? aku bertemu dengannya di rombongan turis yang ku pandu"
"Benarkah? mungkin kau salah orang?"
"Tidak aku yakin itu adalah tuan muda Aska"
"Aku belum bertemu dengannya, aku bahkan tidak tahu dimana tuan muda sekarang"
"Kau berbohong padaku tuan Tan"
"Raya, kenapa kau tidak menata hidupmu dan memulai hubungan baru?" kata Tan seranya melirik Ervan yang duduk di samping Raya.
"Ku mohon kau jangan salah paham" Raya hampir menangis. Ervan berdiri dari duduknya dan mengajak Raya pergi meninggalkan Tan.
"Ayo Raya kita perhi dari sini"
__ADS_1