Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
10. Tanggung jawab


__ADS_3

"Tante siapa?" Tanya Ina pada wanita misterius tersebut.


"Nama saya Mila Wijaya. Saya tadi melihat kamu keluar dari pintu kampus. Maaf kalau saya mengikutimu, soalnya saya mau memastikan apa yang saya lihat. Ternyata benar, kamu benar-benar sangat mirip sama dia."


Ina hanya tersenyum tipis. Wajahnya yang bisa dibilang baby face hanya menatap kagum pada wanita di depannya.


"Anak tante kuliah disini juga?" Tanya Ina lagi.


Wajar kan kalau dirinya menyakan hal itu. Siapa tahu dia kenal sama anak si tante tersebut. Mungkin kakak kelasnya atau mungkin satu angkatan sama dirinya.


"Nggak, sayang. Anak tante sudah kerja, ah kalau dia ketemu kamu pasti dia senang banget."


"Terus tante ngapain dikampus UI?"


Kok aku jadi kepo banget sih. Bukan urusanku si tante mau ke sini. Ah, Ina pasti si tante nganggap aku terlalu ikut campur.


Tante Mila tersenyum melihat pertanyaan Ina, tangan membelai wajah gadis di depannya.


"Perusahaan tante bekerja sama dengan kampus untuk memberikan beasiswa dikampus ini. Tante pamit dulu ya, nak. Sampai ketemu dilain waktu. Nama kamu siapa cantik?"


"Karina, tante."


Tante Mila meninggalkan Ina yang masih berada diparkiran kampus. Gadis itu kembali berkutat dengan headsetnya, bibirnya komat kamit mengikuti alunan yang berdengung ditelinganya.


Tak lama Laras muncul dengan MIO nya, mencowel sahabatnya yang asyik dengan gawainya.


"Na, tadi ada pengumuman kalau mata kuliah pak marto diganti sehabis ashar." Laras muncul sudah menggiring motornya.


"Jadi, kita nggak jadi jalan nih."


"Na, aku titip absen, ya. soalnya mau bantu ibu masak kue. Ada orderan pesta soalnya."


Ina mengerucut bibirnya. Ini bukan pertama Laras nitip absen padanya. Sejak 4 bulan mereka kuliah, Laras sudah berulangkali menitip absen dengan alasan yang sama. Ina memaklumi karena Laras dan orangtuanya bergantung hidup pada dunia bakery. Ibunya Laras adalah pembuat kue basah di komplek tempat mereka tinggal. Ina pernah dibawain kue pisang buatan Ibu Laras, menurutnya kue buatan ibunya Laras memang enak.


"Hey! Gimana?" Laras menunggu jawaban Ina.


"Oke ini yang terakhir." Ina akhirnya menuruti keinginan sahabatnya.


"Ya, Allah terimakasih. Engkau kirimkan sahabat yang teeeeeerrrrrbaik."


Pletak!


"Ih, sakit tau!" Laras membelai pucuk rambut bekas Jitakan Ina.


Ina hanya tersenyum, lalu meninggalkan Laras untuk kembali ke kampus. Handphonenya bergetar, senyumnya mengembang saat tahu siapa yang meneleponnya.


"Siang nyonya Alfredo, Lagi dimana?" sapa suara si penelpon.


"Siang juga, kakak calon suami. Lagi dikampus nih, soalnya ada mata kuliah diganti habis ashar."


"Kita jalan yuk. Kan sekarang masih jam dua. Ntar aku antar kamu balik ke kampus."


Ina melirik jam di handphonenya, menurutnya kalau jalan sekarang sangat tanggung sekali. Perjalanan keluar kampus saja bisa memakan 15 menit atau lebih. Belum lagi cari tempat makan, waktu kan berjalan cepat.


"Tanggung, kak. Ini aja udah mau setengah tiga. Kak Dodo aja yang kesini?"


"Terus kita mau kemana?" Ina mencari arah suara yang diyakininya dekat. Tubuhnya berbalik melihat seorang menyender dipintu mobilnya. Tangan lelaki itu melambai menandakan dia sudah sampai. Dengan cepat Ina berlari dan memeluk pinggang lelaki.

__ADS_1


"Kita makan sekitar sini aja, yuk." Ajaknya pada Dodo. Lelaki berjambang dan berwajah oriental tersebut mengangguk. Dodo mempersilahkan Ina duduk disampingnya. Rambut Ina yang panjang lurus dibiarkan tergerai begitu saja.


klik


hueeeek hueeeek


Sudah seharian dodo merasakan perutnya mual. Bahkan mencium bau obat saja sudah pusing. Staf yang ada disana melihat keanehan yang dialami dodo.


"Ih, jangan-jangan si ina bunting tu sama si dodo." ucap mira salah satu perawat.


"Ah, jangan ngaco.Ina mah cewek baik-baik." sambung perawat yang lain.


"Kalau dia cewek baik-baik dia terus kesini nyamperin dokter Alfredo. Keliatan tuh cewek yang kegatelan sama dokter dodo." Timpal yang lain.


"Sudah...sudah... Jangan ngerumpiin orang nggak baik. Lagian sama pacar kak dodo yang lain kali."


"Emang kak dodo playboy! nggak mungkin!" sahut perawat yang lain.


"Dokter dodo mah anak baik. Bukan kayak dokter ilham yang gonta-ganti cewek."


"Ehmmm..." suara seseorang yang mengagetkan para perawat.


"Eh... dokter maaf saya tadi ada panggilan..." salah satu perawat mencoba menghindar.


"Saya juga..!"


"Saya tadi di suruh ke ruangan bayi.."


Semua para perawat yang menggosipkan dirinya satu per satu pergi.


Dodo terduduk lemas karena kondisi badannya tidak fit. Kalaupun dia memang ngidam atau morning sickness, pasti sudah ada yang minta pertanggungjawaban dirinya.


Lalu apa yang terjadi padaku!


Apa iya ini morning sickness!


Ah, sepertinya bukan!


Paling juga masuk angin biasa!


Dodo masuk ruang kerjanya, lalu mengecek ponselnya.


Ada 20 panggilan tak terjawab dari jihan.


Ngapain sih perawan tua itu masih ganggu aku!


Jujur awalnya aku memang menyukainya tapi setelah tahu dia terlalu terobsesi pada ilham. Rasa simpatikku hilang.


Dodo membuka telepon yang ditujukan untuk dirinya. Senyumnya mengembang saat tahu siapa yang mencoba menghubunginya.


Sudah kuduga dia pasti ketagihan padaku.


Jihan ... jihan ... Gayamu sok jual mahal ternyata kamu murahan juga.


Hahahahaa.... Ya sudah aku ikuti apa maumu perawan tua ...


ups, dia udah nggak perawan kan ... hahahahaha

__ADS_1


Dodo pun akhirnya mengangkat telepon Jihan.


📞 Halo, han. Ada apa? kangen ya padaku.


Terdengar suara isakan tangis dari seberang sana.


📞 *Do


📞 iya, han. Aku tahu kamu pasti merindukanku. Sama, han, aku juga merindukan. Merindukan masa masa gairah kita.


📞 Do, Aku hamil.


Deg! apa-apaan ini, dia meneleponku cuma mau mengabari kehamilannya. Ini perempuan bodoh apa kurang kerjaan.


📞 Do, kamu dengar aku nggak!


📞 Terus buat apa kamu mengabari hal yang bukan urusanku.


📞 Do, ini anak kamu!


📞 hahahahaha... bukankah kamu sendiri yang bilang kalau bukan aku saja yang menyentuh tubuhmu


📞 tapi kamu lelaki terakhir yang menyentuhku, do. Aku tahu kalau dulu hidupku terlalu bebas. Tapi orang terakhir yang menggauli adalah kamu, do. Kamu*!


Tuuuuuuttt


Dodo mematikan ponselnya. Tidak mudah baginya untuk percaya omongan Jihan. Apalagi dia sebenarnya mendekati Jihan hanya memberi pelajaran karena mengganggu hubungan Ilham dan Siti.


Kakinya berdiri menuju kaca di ruang prakteknya. Ingatannya melayang tiga tahun yang lalu. Saat dirinya menanam benih pada seseorang dan mau bertanggung jawab. Sayang wanita itu menolak keras tanggung jawabnya.


Flashback on


"Sa, itu anak aku, kan. Ayo kita menikah."


"Tidak! Aku tidak akan mau menikah denganmu. Aku hanya meminjahnya tubuhmu agar aku bisa kembali pada Ilham."


"Tapi, sa. Kamu dan Ilham sudah bercerai. Kamu sendiri yang bilang kalau Ilham tidak pernah mau menyentuhmu. Bukankah dia mandul."


"Dia tidak mandul, Do. Aku buat surat mandulnya agar tidak ada wanita yang mau mendekatinya lagi. Dengan begitu aku bisa kembali padanya."


"Sa, jangan kamu ganggu dia lagi, Sa. Ilham akan menikah dengan Gita. Aku yang akan mempertanggung jawabkan anak ini."


Raisa pergi dari hadapan Dodo meninggalkan kepedihan dihati lelaki itu. Dodo paham obsesi Raisa sangat besar pada Ilham. Dia juga tahu sepak terjang wanita itu, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


Hanya saja, dia tidak habis pikir. Sebegitu cintanya Raisa pada Ilham, padahal lelaki itu tak pernah mencintai wanita itu.


"Kalau sampai kamu cerita yang sebenarnya pada orang lain, maka kamu akan tamat, do. Kamu bisa dipecat dan tidak bisa diterima di rumah sakit manapun." Ancam Raisa.


Flashback off


Bersambung


Mungkin banyak yang bertanya sejak awal. Rangkaian cerita ini membuat kalian bingung. Kisah ini adalah lanjutan novel yang berjudul


AKU KAMU DAN DIA.


__ADS_1



__ADS_2