Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
47. Di gerecoki


__ADS_3

oooooweeeee ooooweeeee


Ina yang sedang berada didapur terkejut mendengar tangisan Shasa. Kakinya tergerak mendekati kamar Alam tapi diurungkannya. Baginya sudah pasti Alam terbangun mendengar tangisan Shasa.


ooooooweee oooooweeee


"Astaga, nih orang nggak dengar tangisan anaknya. Bebal banget jadi orang." Ina melangkah masuk ke kamar Alam.


BRAAAAAAK!


Ina memutar wajahnya tatkala melihat pemandangan dikamar Alam. Shasa menangis disamping ayahnya tertidur pulas. Tubuh Alam pun polos hanya menggunakan celana pendek.


"Astaga kenapa harus lihat beginian, sih?" omelnya pelan.


Dengan pelan Ina mengambil Shasa dari dekapan ayahnya. Ina membawa Shasa keluar kamar, dan meletakkan di bouncer. Lalu kedapur membuat susu buat sang cucu. Setelah itu Ina memberikan susu pada Shasa. Lama dirinya menatap Shasa yang lahap minumnya.


Di usia seperti kamu, harusnya mendapat kasih sayang ibu. Tapi tenang saja, nak. Ada tante dan ada oma yang akan menjagamu, menyayangimu sepenuh hati.


Hari ini adalah waktunya weekend. Dimana waktunya santai dari segala rutinitas. Termasuk Ina, yang pagi ini cepat bangun karena perutnya terasa sangat lapar. Entah kenapa Ina masih terbayang saat Rangga mencumbunya, tangannya terus memegang bibirnya, senyum-senyum sendiri. Tanpa disadari Shasa bisa melepaskan dari bouncernya.


Bayi kecil itu merayap kearah tangga atas. Itu pun belum disadari Ina. Alam terbangun melihat Shasa sudah di tangga lantai enam, dengan cepat dia mengambil putrinya. Matanya memandang sosok yang masih berdiri di dekat kompor, telur ceploknya pun gosong.


"Jatuh cinta boleh boleh aja. Tapi lihat sikon, gimana kalau Shasa jatuh dari tangga. Gimana kalau kompor meledak. Selesai, kamu kalau meledakkan diri sama kompor sah-sah aja. Tapi jangan ajak orang."


"Saaa .. sa kenapa kak, baik-baik aja, kan." Ina memeriksa setiap tubuh Shasa, Alam hanya meringis melihat mertua mudanya memegang Shasa.


"Assalamualaikum, om. Ina nya ada."

__ADS_1


"Oh, ada. silahkan duduk, nak."


Dul menoleh kearah sosok lelaki muda didepannya. Dengan ramah Dul mempersilahkan tamunya duduk di teras depan.


"Adek ini bukannya anaknya Donal Pattimura 'kan." Tebak Dul


"Iya, om. Saya juga sudah melamar Ina." Rangga memamerkan cincin yang tadi malam disematkan jari Ina.


"Wah, kapan kamu ajak keluargamu bertemu dengan adik saya. Jangan lama-lama, biasanya kalau sudah melamar harus cepat bertindak."


"Secepatnya, Om. Bolehkah saya mengajak Ina jalan-jalan."


"Oh, boleh dong. Ina .... ini pacarmu datang."


Ina datang dengan dress casualnya plus dengan tas selempangnya. Dul menatap Ina seperti melihat putrinya hidup kembali.


"Na, aku ada urusan. Ajak Shasa, ya." Alam tiba-tiba menyodorkan Shasa plus perlengkapan bayinya.


"Tapi, kami mau nonton. Masa bawa bayi sih. Lagian kak Alam mau kemana."


"Aku akan janji dengan klien main Golf. Mama lagi kurang sehat, nggak mungkin ngandalin papa."


"Kan ada bibi."


"Udah, ajak aja Shasa, na. Kita tunda saja nontonnya, kita ajak ke mall kan ada playground disana. Itung-itung belajar kalau punya anak nanti."


Rasain, tuh. Repot-repot dah bawa bayi. Ejek Alam dalam hati.

__ADS_1


klik


"Pa, aku nggak mau nikah sama Rangga." Protes jihan saat papa Alex tetap memaksa sang putri menerima Rangga sebagai calon suaminya.


"Kamu mau nya apa? dari semua lelaki yang papa kenal cuma Rangga yang bibit, bebet, bobotnya bagus. Dengan kondisi kamu yang sekarang bersyukur masih ada yang mau sama kamu, Jihan!"


"Kondisi aku yang gimana, pa?"


"Kondisi kamu yang pernah hamil di luar nikah. Bikin malu saja!"


"Pa, Rangga yang membatalkan perjodohan ini bukan Jihan. Papa mau jihan menikah dengan lelaki yang tidak mencintainya." Bujuk mama Kiki.


Jihan hanya bisa menunduk lemah. Dia sadar diri kalau sejatinya bukan lagi wanita seutuhnya, dimana mahkotanya sudah terenggut akibat kesalahannya sendiri.


"Papa yakin kalau Donal bisa membujuk anaknya agar mau menikah dengan Jihan. Bagaimanapun aku yang menaikan derajat keluarga itu." Ucap papa dengan lantang.


Bagi papa Alex, Rangga sudah menjadi paket komplit untuk menjadi menantunya. Rangga lulusan universitas ternama di Jepang. Seimbang dengan sang putri yang lulusan Harvard.


Tapi bagi Jihan, menerima Rangga sama saja mengulang kesalahan yang sama. Kesalahan menjadi duri bagi hubungan Ilham dan Siti. Dia pun tak ingin menjadi duri dalam hubungan Ina dan Rangga.


"Pa, aku tetap nggak mau nikah sama Rangga!"


Jihan masuk ke kamar sambil membanting pintu dengan keras.


Jihan hanya bisa menangis meratapi kisah cintanya.Tapi untuk hubungan dia dengan Rangga belum termasuk percintaan, karena sama-sama tak punya rasa. Jihan mencoba menghubungi akbar yang akhir-akhir ini tak ada kabar. Entah kenapa dirinya rindu akbar yang ceplas ceplos dan apa adanya.


Jihan masuk kamar mandi duduk di toilet sambil terus menghubungi lelaki itu. Tapi ternyata tidak diangkat. Hingga akhirnya Jihan menyerah. Dia merasa Akbar sudah tak ingin berteman dengannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2