Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
128. Permohonan Yulia


__ADS_3

Di dalam ruang rawat rumah sakit terdapat seorang lelaki sedang memegang ponselnya. Jarinya menari diatas layar pipih tersebut, senyumnya mengembang tiada henti. Sesekali mengedarkan pandangan seisi kamar rawatnya. Apalagi barusan orangtuanya sekaligus besannya pergi mencari sarapan diluar. Pertamakalinya sejak istrinya meninggal, keduanya belum pernah berkumpul bersama. Apalagi sarapan bareng, suatu keajaiban yang patut disyukuri. Kehadiran Shasa bisa membuat dua mamanya berkumpul di satu meja.


Tadinya Alam berharap mertuanya datang bersama Ina. Agar bisa melepas rindu, rindu? tadi mereka sudah bertemu tapi tetap saja dia belum puas.


πŸ“ž Alam: Sayang.


πŸ“ž Ina: Iya, ada apa?


πŸ“ž Alam: Kamu lagi apa?


πŸ“ž Ina: Sarapan bareng kak Rangga dan Tante Raya.


πŸ“ž Alam: Oh, jadi itu yang bikin kamu cepat-cepat pulang.


πŸ“ž Ina: Huft... kayaknya ada yang panas nih. hahahahaaha...


πŸ“ž Alam: Nggak panas kok. Disini adem kok apalagi susternya cantik-cantik.


πŸ“ž Ina: Ya udah nggak papa.


πŸ“ž Alam : Na, nggak tahu kenapa aku jadi rindu sama kamu.


πŸ“ž Ina: Lebay, ah. Tadi baru aja ketemu sudah bilang rindu.


πŸ“ž Alam: Bukan rindu. Tapi aku ingin sekali melihatmu sekali lagi bahkan setiap saat.


πŸ“ž Ina : I love you.


πŸ“žAlam: I don't want to say I love you. I'm just you by my side forever (Aku tidak ingin mengatakan aku mencintaimu. Aku hanya kamu di sisiku selamanya)


πŸ“ž Ina: Someday that time will come. And I hope that while waiting for that time promise to stay faithful (Suatu saat nanti masa itu akan datang. Dan aku berharap selama menunggu masa itu berjanjilah akan tetap setia)


πŸ“ž Alam: of course.


πŸ“ž Ina : promise!


πŸ“ž Alam:God willing.


Alam dan Ina sepakat menutup telepon mereka. Beberapa suster dan salah satu dokter masuk mengecek kondisinya.


"Thankfully, Mr Ronald has come to his senses. Your body condition also looks good. you can you Can go home tomorrow. ( Syukurlah anda sudah sadar. Kondisi anda juga sudah baik. Besok sudah bisa pulang.)


"Thank you."


Selesai memeriksa pasiennya dokter pun keluar meninggalkan kamar rawat VIP-nya. Alam kembali menghempaskan nafasnya menandakan dia lega sudah diizinkan pulang. Netra menatap jendela, meskipun musim tapi matahari masih menyempatkan diri muncul.

__ADS_1


"Na, besok aku pengen jalan sama kamu." Batinnya.


"Lam!"


Alam terkejut sekaligus menelan saliva. Saking gugupnya Alam merubah posisi duduknya agar terlihat sopan.


"Mama" Alam menyalami mertuanya yang muncul didepan pintu kamar rawatnya.


"Bagaimana kondisi kamu?" Tanya Yulia yang duduk didekat menantunya.


"Alhamdulillah, ma. Tadi kata dokter besok aku sudah bisa pulang kerumah."


"Baguslah kalau begitu. Mama mau bicara empat mata tentang kamu dan Ina. Bisa?"


"Bisa, ma" Jawab Alam meskipun dia paham arah pembicaraan Yulia.


Yulia duduk disamping di ranjang rumah sakit dimana menantunya berbaring. Yulia tampak bersikap biasa saja, tak ada sikap senewen seperti biasanya. Bagaimana dengan Alam? untuk kesekian kalinya dia merasa gugup, dulu dia pun seperti ini saat Yulia sempat mewanti dirinya agar tidak masuk kehidupan Gita dan Ilham. Tangannya terus bermain guna menghilangkan kegugupannya.


"Sejak kapan kamu mencintai Ina?"


"Sejak dia masuk ke keluarga mama." Jawab Alam mantap.


"Mama tahu kalau kamu mendekati Ina karena dia mirip sama Gita. Mama tahu kalau kamu pun mendekati Ina tidak tulus." Alam sudah menduga ucapan Yulia. Yulia pasti akan mendesaknya menjauhi Ina.


Alam tertegun mendengar penuturan Yulia. Rasanya seperti tercubit, kepalanya menunduk karena merasa bersalah pada mama mertuanya. Di mata Alam, Yulia sudah baik masih menerimanya sebagai menantunya walaupun Gita sudah meninggal.


Yulia bersujud dihadapan Alam, membuat lelaki itu merasa tidak enak.


"Jadi, mama tolong untuk yang terakhir kalinya. Jauhi Ina. Maaf kalau mama selama ini bukan mertua yang baik, masa depan Ina masih panjang. Mama tahu Ina masih muda, dia belum banyak berkelana. mama yakin ini cuma cinta sesaat kalian saja. Dan Ina akan menemukan sosok yang benar-benar menerima dia apa adanya. Mama mohon, Lam!" Yulia bersujud dibawah kaki Alam.


"Maaf, jika Alam sudah mengecewakan mama. Tapi perasaan ini tumbuh dengan sendirinya. Bukankah cinta itu datang karena sering bersama. Dan itu yang aku rasakan pada Ina, Ma.


Aku dan Ina saling mencintai, apa salahnya kami memperjuangkan hak kami. Ya aku tahu status Ina adalah adik mama, mertuaku, tantenya Gita dan Oma nya Shasa.


Tapi apa mama tahu menurut yang saya baca. Hubungan kami tidak haram kecuali, kalau aku menikahi mama mertuaku.


Satu hal lagi? Mama sudah tahu kan kalau Ina memakai jantung Gita. Tapi kenapa mama bersikap tidak tahu apa-apa. Mama tidak lupa 'kan dengan wasiat Gita?"


"Lalu kalau Ina memakai jantung Gita, apakah kamu harus menikahinya. Nggak kan? Kita cukup tahu dan menganggap semua itu biasa saja. Jangan jadikan sebagai Alasan kamu mendekati adik mama. Paham!" Yulia pergi meninggalkan kamar rawat Alam.


Aku tidak akan mengalah lagi,ma. Maaf kalau saat ini aku tidak mendengarkan mama lagi. Aku akan menentukan hidupku sendiri bersama Ina dan Shasa.


Alam pun membentang selimut rumah sakit sebagai pengganti sajadah untuk sholat Istikharah. Memohon petunjuk atas kegelisahannya selama ini.


Allahumma inni astakhiruka bi ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa talamu wa laa alamu, wa anta allaamul ghuyub".

__ADS_1


"Allahumma fa-in kunta talamu hadzal amroΒ (menyebutkan persoalannya)Β khoiron lii fii aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa maaasyi wa aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi".


"Allahumma in kunta talamu annahu syarrun lii fii diini wa maaasyi wa aqibati amrii (fii aajili amri wa aajilih) fash-rifnii anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih".


artinya:


Β "Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib.


Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini dalam hal jodoh. lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku sukseskanlah untuk ku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah.


Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untuk ku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaan-Mu kepadaku."


Selesai salat istikharah, Alam kembali membaringkan diri di tempat tidurnya. Seakan tersenyum mengingat sosok yang berkelebat di pikirannya dalam doanya. Helaan nafas panjang terdengar lemah dari bibirnya.


klik


Jakarta 3 januari 2022


"Jadi begini, Ras. Paling tidak kalian kenalan dulu dari hati ke hati. Kamu tahu sejak kamu datang rumah ini jadi berasa hidup. Kami cuma berharap kalau Rangga bisa menikah sebelum ajal menjemputku." Ucap Gladys saat gadis itu sedang membersihkan dapur.


Laras hanya terdiam, dia belum bisa memutuskan apakah menerima Rangga atau tidak. Satu-satunya yang dia lakukan hanya menyelesaikan pekerjaannya. Tidak sopan memang karena orangtua sedang berbicara, tapi hanya itu yang bisa dilakukannya demi menghilangkan groginya.


Untuk kesekian kalinya


Dia kembali diberondong pertanyaan yang sama. Semalam dia ditelepon Raya yang masih berada di Jepang. Permintaan Raya agar berkomunikasi dengan Rangga membuatnya salting. Memandang sosok yang dulu dia kagumi sejak SMP lebih lama. Tapi Laras melihat sikap Rangga yang datar padanya membuatnya sedih.


"Sebenarnya apa mau kamu, Ras masuk ke keluarga kami, Ras? Tidak kah cukup kami memberimu pekerjaan dan sekarang kamu meracuni pikiran keluargaku." Omel Rangga.


"....."


"Kenapa diam? Berarti benarkan ucapan saya! Kamu ada maksud tertentu masuk ke keluarga saya!"


Cukup menohok tuduhan yang diarahkan kepadanya. Dia sudah menolak tapi Raya terus mendesak. Apalagi dengan imbalan diberi tempat tinggal gratis semenjak ibunya meninggal.


"Kamu lihat Lani, meskipun dia sudah menikah tapi ternyata tidak merubah tabiatnya. Beruntung dia sudah diceraikan Toni. Karena apa? karena pasti Toni tidak mau diinjak sama Lani lagi." Cerita Gladys.


Laras terhenyak mendengar cerita Gladys. Lalu apakah dirinya akan senasib sama Toni. Apalagi melihat gelagat sikap Rangga yang seperti itu padanya. Seketika ada rasa takut menyergapnya. Dia ingat bu Rini, tetangganya. Laras sering mendengar Rini menangis karena dipukul suaminya. Dengar-dengar Rini dan suaminya adalah hasil perjodohan orangtua.


"Oma, maaf. Apakah bisa dibatalkan? Saya takut bikin malu oma dan keluarga. Kasta saya dibawah kalian. Apakah tidak ada wanita yang lebih setara dengan kak Rangga."


Gladys tersenyum. Justru penolakan Laras membuatnya yakin bahwa gadis itu adalah perempuan baik-baik "Oma percaya sama kamu, Ras. Rangga pasti bisa mencintaimu."


Laras hanya mengiyakan ucapan Oma Gladys. meskipun dia bingung bagaimana lagi cara menolak keinginan mereka.


"Apa aku harus melakukan seperti yang dulu kak Rangga lakukan?"

__ADS_1


__ADS_2