Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Rapshody Cinta


__ADS_3

Kulihat ada yang bersinar


Di kedua bola matamu (oh kasihku)


Kau buat malam gelap ini


Jadi penuh cahaya


Terang kilau pesona


Kasih andai anganku bersuara dia kan bernyanyi


Rapsodi indah yang kan bermuara di fajar hati


Kelingking kita berjanji


Jari manis jadi saksi


Bahagia


Hingga sang bumi


Enggan berputar lagi


Kau buat aku sempurna


Saat kau berkata iya (oh kasihku)


Kau izinkan ku berlaga


Mengarungi dunia (mengarungi dunia)


Di sisimu selamanya


Kasih andai anganku bersuara dia kan bernyanyi


Rapsodi indah yang kan bermuara di fajar hati


Kelingking kita berjanji


Jari manis jadi saksi


Bahagia


Hingga sang bumi


Tak berputar lagi


Na, kakak ingin kamu bahagia bersama orang yang kamu cintai. Maafkan kakak yang selama ini terbelenggu dendam dari masa lalu. Kakak sadar bahwa apa yang kakak lakukan pada kalian hanya akan menyiksamu."


"Na"

__ADS_1


Ina beralih ke arah Marni yang ikut bergabung.


"Tante Marni...."


"Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan mama Marni. Karena mulai sekarang kamu adalah calon menantuku"


Ina mengatupkan kedua tangannya. Ada rasa bahagia ketika kedua wanita yang saling bertentangan memberi restu pada mereka. Marni memegang tangan Ina dengan penuh kasih sayang.


Alam mendekati Ina dengan membungkukkan badannya. Memanfaatkan momen ini untuk mengerahkan perasaannya.


"Karina Permata Gunawan, kamu tahu? Tidak mudah perjalanan kita sampai sekarang ini. Ya, mungkin tidak seberat saat aku dengan Gita. Mungkin juga belum banyak ujian yang kita lalui.


Tapi asal kamu tahu, kesekiankalinya aku kembali merasakan detak jantung yang berdetak kencang. Dimana ada seorang wanita yang tak berdaya terbaring lemah di kamar mendiang istriku. Dimana aku harus mengedepankan gengsi karena istriku belum lama meninggal dunia.


Kamu tahu? Aku menahan rasa panas saat melihat kemesraanmu dengan kak Rangga dan juga Reza. Melihat kamu tertawa lepas bersama mereka, sedangkan padaku kamu menatap penuh kebencian. Ya, memang aku yang menebarkan kebencian, kebencian yang pada akhirnya membuat aku menyerah. Karena apa? karena aku sebenarnya mencintaimu.


Na, didepan semua keluarga aku beranikan diri. Karina permata Gunawan, mau kah kau menikah denganku? Menjadi istri seorang duda punya anak satu, menjadi bagian hidupku untuk yang terakhir kalinya."


Ina mencibir Alam "Bohong! nanti kalau aku yang meninggal duluan kamu juga bakal nikah lagi."


"Na, aku capek nikah terus. Dulu aku hampir menikah dengan Dinda. Yang sekarang jadi istrinya Edwar. Pas akad dia membatalkan pernikahan kami, tanya aja sama Ibu. Kedua sama Gita, dan yang terakhir aku maunya sama kamu, Ina."


Ina memandang ke semua yang hadir ditengah mereka. Tampak Yulia terseannyum tulus kepadanya. Ina menghela nafas panjang, lama dirinya tertunduk. Netranya beralih ke lelaki didepannya.


"Aku mau jadi istrimu, Ronal. Menjadi pendamping hidupmu hingga maut memisahkan kita. Aku mau menjadi ibu bagi Shasa, walaupun tidak bisa menggeser Gita di hati kalian berdua."


Alam memegang kedua tangan Ina. Wajah mereka berjarak tanpa ada sekatan, tadinya Alam mau menikmati indahnya bibir kekasihnya. Tapi karena tidak enak dengan keluarga mereka, Alam mengecup kening Ina. Suasana acara berlangsung dengan baik.


"Na"


"Hmmmmm.."


"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu."


"Ngomong saja, Lam."


"Aku ingin kita menikah secepatnya. Lama rasanya menunggu 3 atau 4 tahun lagi."


"Tapi bagaimana dengan kuliahku?"


"Na, aku akan tinggal di Jepang sampai kamu tamat kuliah. Sekalian buat pengobatan Shasa. Aku nggak mau jauh dari kamu, Na."


"Lalu pekerjaanmu?"


"Aku sudah minta kak Rangga carikan lowongan di THUNDERS COPRS. Dia bilang akan mencarikan posisi yang pas buat aku."


"Tapi bagaimana dengan perusahaan, Lam?"


"Aku sudah sepakat dengan papa. Sementara perusahaan kembali dalam kendali papa dan katanya ayahku mau terlibat dalam menjalankan perusahaan."


"Jadi, Kalau kamu mau kita akan menikah bulan depan. saat ini aku bebaskan kamu menikmati masa kuliahmu dulu. Bagaimana?"

__ADS_1


"Asalkan bersama kamu, Lam? aku siap."


Keduanya menatap bulan yang bersinar terang ditambah penampak Tokyo tower yang berganti warna lampu. Tangan mereka saling menggenggam, seakan menguatkan perasaan yang tengah berbahagia.


"Na, kita nikah di jepang aja, yuk?"


Ina melotot mendengar ide Alam.



Malam semakin larut, keduanya memilih pulang setelah melepas rindu. Mereka berjalan dengan hati berselimut cinta. Keduanya saat ini tengah berbunga-bunga.


Saat ini mereka berada di dalam mobil. Sengaja dia meminta Rio meninggalkan mobil supaya bisa pulang berdua.


Malam ini udara semakin dingin, namun adegan pagutan pun membuat mereka lupa saling melepaskan diri. Ina mulai bernafas ketika Alam mulai melepaskan bibirnya. Nafasnya sedikit terengah, begitu rakusnya lelaki itu melahap bibirnya membuat Ina lumayan kewalahan.


"Na, I love you. Aku bahagia malam ini kita bisa mendapatkan restu dari mereka. kamu tahu, Na. Kita harus berterimakasih pada Gita."


"Kenapa?"


"Karena jantung ini yang mendekatkan kita, Na. Kamu tahu? Waktu Angel bilang kalau dia memakai jantung Gita, aku tidak langsung percaya. Setiap didekat Angel aku tak merasakan apapun," tapi entah kenapa setiap dekat kamu seperti ada magnet yang menarikku. Dan itu yang membuat aku senewen terus sama kamu."


Keduanya turun dari mobil yang sudah terpakir didalam gedung apartemen. Mereka kembali memasuki lantai dasar apartemen. Saling menunduk malu-malu, keduanya terus saling melempar senyum.


Tiba didepan kamar masing-masing, Alam menahan tubuh Ina di dinding kamar.


"Kamu bahagia?"


Ina mengangguk. Perempuan mana yang tidak bahagia ketika diberi kejutan romantis.


"Istirahat, ya, sayang. Mimpikan aku."


klik


Suasana pagi di Tokyo tampak begitu cerah. Beda dengan hari biasanya yang diselimuti mendung. Meskipun cahaya matahari tak terlalu kuat, namun pemandangan gedung-gedung perkantoran sudah tak lagi tertutup salju. Dari balkon apartemennya Ina melihat beberapa petugas sedang membersihkan gedung dari ganggguan salju. Ina terlihat berdecak kagum sekaligus khawatir karena yang dikerjakan pekerja itu bisa menjadi taruhan nyawa.


Ina mempersiapkan diri akan berangkat kuliah. Tampak Yulia sedang bersikap-siap akan ke Osaka, dimana Maudy sedang tinggal disana. Namun bukan hanya Yulia yang akan kesana, tapi keluarga Spencer pun akan ikut ke Osaka. Ina hanya tersenyum kecil melihat keakraban dua keluarga itu. Sambil menenteng tas kuliahnya, Ina keluar dari kamar sekaligus mengunci apartemennya


Saat Ina berbalik dia di kejutkan dengan kemunculan seseorang.


"Kak Takeru!" Sahutnya kaget


"Hai, Karina." Sapanya dengan santai.


"Darimana tahu rumahku?" Ina masih belum bisa mengkondisikan rasa kagetnya.


"Apa sih yang bisa aku tahu tentang kamu? Yuk, Bukannya hari selasa mata kuliahnya bapak Satosi. Kamu tahu kalau pak Satosi itu killer. Kehadiran saja bisa jadi poin nilai semestermu nanti."


Astaga bagaimana bisa dia muncul? Bagaimana kalau Alam lihat?


__ADS_1



__ADS_2