Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Kejutan 2


__ADS_3

POV INA.


" kamu yakin sama Gilang? "


"Yakin! Kalau nggak yakin nggak mungkin aku menerima pertunangan ini.uaPaling tidak Gilang, tidak punya masalalu yang buat dia gagal move on."


"Aku bahas soal kamu dan Gilang.Bukan bahas siapa yang gagal move on. Aku kenal Gilang sudah lama, walaupun diantara kita sudah tidak ada hubungan. Tapi bisa kah kamu mendengar pendapat oranglain?"


"Aku pamit. Kak Gilang dan aku mau fitting gaun."


Sedari tadi ucapan Alam selalu menari dipikiranku. Entah kenapa aku mendadak gelisah dengan sikap dia tadi. Keputusanku menerima perjodohan ini sudah bulat. Paling tidak aku sudah menyelamatkan dia dari semua masalah. Aku menggigit jariku, entah sejak kapan kebiasaan ini muncul.


"Na, Gita dulu kalau ada masalah pasti suka menggigit jarinya. Apa kamu ada masalah? apa karena pertemuan dengan Alam tadi? Na, kamu kan sudah janji sama kakak." Aku hanya menggeleng pada setiap pertanyaan yang kak Lia lontarkan. Mereka sudah baikan, jangan sampai aduanku kembali memperkeruh keadaan.


"Kak bisa tidak jangan bahas Gita terus?" Protesku. Aku sudah bosan selalu dikaitkan dengan Gita terus.


"Maaf, Na. Kenapa kamu selalu sensi kalau soal Gita. Dia sudah berbaik hati mendonorkan jantungnya sama kamu. Seharusnya kamu..."


"Aku muak kak! Sejak masuk ke keluarga kalian selalu saja dikaitkan dengan Gita. Aku Karina bukan Gita."Ucapku lantang.


Kutatap wajah kak Lia sepertinya kecewa dengan ucapanku. Ada rasa tak enak, tapi ini yang aku rasakan selama aku masuk ke kehidupan mereka. Tidak ada yang mau disamakan, tidak ada juga yang mau dibedakan. Tapi itulah yang aku rasakan saat ini.


Kenapa Gita boleh memiliki Alam meskipun kak Lia tidak menyukainya?.


Kenapa justru aku yang tidak boleh?


Kenapa aku merasa ini tidak adil!


Dari saat aku berpacaran dengan kak Rangga hingga Alam masuk dalam kehidupanku.


Kenapa setiap aku mencintai seseorang selalu mendapat tentangan.


Aku menggenggam kaca mobil. Memandang jalanan serta jejeran rumah dipinggir kota. Alunan musik yang kak dul setelkan di mobil membuat pikiranku melayang entah kemana.


Tuhan, bila masih ku diberi kesempatan


Izinkan aku untuk mencintanya


Namun bila waktuku telah habis dengannya


Biar cinta hidup s'kali ini saja


Tak sanggup bila harus jujur


Hidup tanpa hembusan nafasnya


Tuhan, bila waktu dapat kuputar kembali


Sekali lagi untuk mencintanya

__ADS_1


Namun bila waktuku telah habis dengannya


Biarkan cinta ini (biarkan cinta ini)


Hidup untuk sekali ini saja


Lagu ini justru membuat aku semakin merasa bersalah. Jika waktu bisa kuputar kembali, aku ingin merasa cinta yang benar-benar nyata bukan khayalan semata. Jika waktu kuputar kembali, aku ingin menjadi Karina yang dicintai tapi tidak karena jantung Gita.


Malam ini ku tatap langit tanpa bintang. Dengan menyenderkan diri di daun jendela. Terbayang sosok yang berdiri di jendela kamarku. Mengendap-ngendap seperti maling. Lalu memelukku sambil berkata "I Love you"


"Na, Kamu yakin mau tunangan sama Gilang." Pertanyaan yang sama terlontar di bibir Laras saat aku meneleponnya.


"Yakin, Ras." Jawabku mantap.


"Pikirkan lagi, Na. Hatimu bukan untuk Gilang." Lagi-lagi ucapan Laras membuatku goyah.


"Aku kenal kamu bukan sehari dua hari, Na. Kamu tidak lupa kan bagaimana berita miring tentang kak Dodo. Kamu bahkan tak goyah melanjutkan hubungan. Sekarang, kamu malah mundur dari Alam."


"Ras. Aku ...."


"Na, tolong pikirkan lagi. Jangan sampai kamu menyesal. Kamu yang merasakan, kamu juga yang akan menjalaninya."


"Ras, aku ngantuk. Lain kali kita sambung lagi"


POV author


Allahumma inni astakhiruka bi ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa talamu wa laa alamu, wa anta allaamul ghuyub".


"Allahumma fa-in kunta talamu hadzal amro (menyebutkan persoalannya) khoiron lii fii aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa maaasyi wa aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi".


"Allahumma in kunta talamu annahu syarrun lii fii diini wa maaasyi wa aqibati amrii (fii aajili amri wa aajilih) fash-rifnii anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih".


artinya:


 "Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib.


Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini dalam hal jodoh. lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku sukseskanlah untuk ku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah.


Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untuk ku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaan-Mu kepadaku."


Selesai menunaikan sholat istikharah malam. Ina merebahkan tubuhnya, perlahan-lahan mata. Rasa lelah dan kantuk tidak bisa diajak kompromi lagi.


Pukul 10.00


"Na, kamu sudah siap?" Yulia muncul di balik pintu kamar.


Ina baru saja selesai mematut diri didepan cermin. MUA kiriman Grace memoles wajah Ina menjadi rupawan. Balutan dress borkat putih membuatnya terlihat anggun. Ina memejamkan mata, masih terbalut rasa gugup. Apalagi akan bertunangan dengan lelaki yang bukan pilihannya.


"Kamu cantik sekali, Na." Puji Yulia.

__ADS_1


"Terimakasih, Kak." Balas Ina.


"Ma."


"Iya, pa."


"Ina berangkat bareng aku saja."


"Kenapa papa sudah siap? Mama aja masih belum dandan."


"Mama nyusul saja. Aku bareng mobil Rangga."


"Ya, sudah kalau begitu." Yulia meninggalkan Dul dan Ina.


Dul membisikkan sesuatu pada adik iparnya. Wajah Ina langsung mengkerut saat mengetahui rencana Dul.


"Jangan, kak. Aku nggak mau mengecewakan kak Lia."


"Tapi ini kesempatan kamu, Na." Bujuk Dul.


Ina menggigit kukunya tanda dilema melandanya. Helaan nafas berat. Dia tidak mau mengecewakan kakaknya, tapi dia juga berat hatinya. Ina memejamkan mata, sosok yang ada di istikharahnya menari-nari.


Tak lama dia melangkahkan kakinya di mobil bersama Dul. Rangga dan Laras datang langsung dari anyer sudah duduk di dalam mobil.


"Kak Dul ... aku takut."


Di Hotel Shangrila


Yulia telah sampai memasuki pelataran aula acara. Tampak tamu-tamu sudah duduk dimeja yang sudah disediakan pihak acara. Matanya celingak celinguk mencari orang-orang yang dikenalnya. Tampak Grace melambai tangan, dengan Yulia mendatangi keponakannya.


"Kok belum mulai? Ini sudah jam berapa?" Yulia melirik arlojinya menandakan sudah pukul 12.00.


"Gimana mau mulai tante, Ina nya saja belum sampai."


"Apa? Nggak mungkin! Dia sudah berangkat dari jam sepuluh tadi."


Yulia dengan gusar menarikan jarinya di layar pipih tersebut. Beberapa kali dirinya menghubungi adiknya tapi tidak tersambung. Yulia merasa dikhianati adik sekaligus suaminya. Ada rasa malu dimana tamu-tamu bertambah banyak.


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2