
Cinta itu datang berawal dari hati yang beku lalu mencair.
Sapuan rasa yang menggenggam harapan
Pertemuan dua anak manusia yang awalnya merasa asing.
Pertemuan dua anak manusia yang mengejar kebahagiaan.
Tapi siapa sangka cinta, kebahagiaan dan harapan sudah terjadi didepan mata.
Pertama kali aku bertemu dengannya belum terbayangkan soal cinta.
Hatiku saat itu masih tertutup kebencian dengan alasan melindungi.
Hatiku saat itu hanya tahu kamu bukan sosok yang baik.
Hatiku saat itu masih terkukung dengan janji yang harus di tepati.
Tapi nyatanya, aku semakin bergelut dengan rasa.
Rasa yang terpendam membuatku ingin mengenalnya.
Rasa yang menguatkan aku untuk menjadi lebih baik dimata.
Karina, apakah kamu tahu kalau cinta itu datang ketika aku melihat dia dalam dirimu.
Aku juga awalnya terketuk karena kalian bukan hanya mirip secara fisik tapi juga mirip secara rohani.
Ina keluar dari gedung apartemen, tak lama dia sudah mendaratkan bokongnya di jok sepeda. Matanya menerawang kearah jalanan luas, tampak pemandangan gedung-gedung besar di tengah kota. Ina berdecak kagum melihat kota yang ditempatinya terlihat sangat bersih. Sepanjang perjalanan Ina tak menemukan sampah yang bertumpuk di pinggir jalan.
Sambil menikmati perjalanan bersama petugas apartemen, Ina memandang gedung-gedung bertingkat, ada rasa takjub ketika melihat tempat-tempat di Jepang. Petugas itu pun berhenti di sebuah taman kecil di tambah dengan sebuah tower menyerupai eiffel.
"Kita dimana,pak?"
"Ini namanya Tokyo Tower nona"
"Fungsinya apa?"
"Tower tokyo salah satu tempat wisata yang wajib di kunjungi saat ke jepang. Meskipun sudah ada tower baru yang menjadi ikon tokyo yaitu sky tree tp tokyo tower ini bagus juga. Tetapi bangunan tidak terlalu tinggi dan kita perlu membeli tiket pas untuk naik ke atas. Disarankan untuk mengunjungi tokyo tower ini pada malam hari sebab pemandangan kota tokyo pada malam hari sangat indah, ada juga pertunjukan lampu di atas tower ini. Didalam tower ada penjual souvenir tetapi sayang tidak ada foto boothnya. Jangan lupa beli souvenir yang bisa di ukir nama."
"Seperti namsan tower ya."
"Anda tahu namsan tower. Ya, memang disini juga membeli souvenir ukir nama anda dan pasangan. Datanglah kesini pada malam hari."
__ADS_1
"Malam hari?"
"Iya, nona.Tokyo tower sangat indah pada malam hari, dengan lampu yang menakjubkan. Sangat banyak wisatawan mengunjungi Tokyo tower setiap hari. Di dalam menara terdapat banyak toko toko yang menjual souvernir khas jepang. Dan terdapat toko makanan."
"Oh, begitu ya." Ina tampak mengerti dengan penjelasan petugas tersebut.
Ina mengalihkan pandangannya kearah tower tersebut. Tampak megah dengan bentuknya yang kokoh. Beberapa kendaraan hilir mudik dan berhenti dipelataran tower ter
Sepeda pun kembali berjalan ke sebuah taman yang berisi pepohonan sakura. Ina pun turun memasuki taman tersebut. Menghirup udara yang sejuk.
"Maaf, Nona ini untuk anda."
Ina menerima setangkai bunga mawar merah dari salah satu pengunjung.
"Terimakasih." Ina membungkuk pada wanita yang memberikannya bunga.
Ina terus berjalan menghirup wanginya mawar merah tersebut.
"Nona ini untuk anda." Lagi-lagi dirinya menerima sepucuk kertas.
"Lihat tower itu berdiri kokoh dan tak tergoyahkan. Lihat perjalanan kita, tetap kuat walaupun badai menghantam."
Ina merasa mengenal kata-,kata itu. Tubuhnya memutar dengan rasa ingin tahu tentang si pengirim tersebut.
Alam, kamukah itu? Ah, tidak Ina jangan mimpi, dia jauh. Tapi kenapa aku merasa dia dekat?
Ina kembali berjalan memandangi pohon bunga sakura yang masih ditutupi salju. Tatapannya kearah bangku kosong, pikirannya terus terganggu dengan semua yang terjadi dua hari ini. Gaun cantik, kejutan sarapan, dan sekarang jalan-jalan gratis.
"Kak, ini buat kakak." Seorang anak kecil datang memberikan sebatang coklat jumbo kepadanya.
"Buat saya?" Anak kecil itu mengangguk lalu berlari meninggalkannya.
Dalam lilitan tali coklat Ina lagi-lagi menemukan sepucuk surat.
"Surat lagi?"
Coklat itu manis. Bentuknya yang kokoh akan lumer di bibir.
Semanis cinta kita. Seperti seseorang tadi kokoh dengan janjinya dan akhirnya meleleh bertekuk lutut pada seorang wanita yaitu -kamu.
Ina semakin yakin ini adalah tulisan Alam. Dawai rindu yang ingin diluapkannya semakin besar. Jantungnya semakin berdetak kencang. Dia yakin Alam ada di Jepang, dia yakin lelaki itu masih ada di sekitarnya. Ina berdiri mencari sang kekasiatah, wajahnya sudah sembab karena mencari lelaki.
"Alam kamu dimana?" Ina berjongkok menangis di tengah jalan.
__ADS_1
Ina pun memilih berjalan kembali ke pintu gerbang berharap yang ditunggu benar-benar muncul. Tapi sayangnya ketika dia menghampiri si petugas apartemen, tak ada tanda-tanda kemunculan Alam. Ina pun pasrah, meminta petugas tersebut mengantarnya pulang.
Ketika kamu berharap keajaiban datang, tapi ternyata itu hanya harapan semu.
Kejutan penuh kejutan telah aku terima, tapi kenapa kejutan ini hanya untuk memberiku harapan palsu.
Jika memang ini bukan kamu, kenapa kata-kata nya seolah menggambarkan perasaan kita. Kenapa semua yang terjadi seolah mengingatkan aku padamu.
Tidak Ina, kamu terlalu berharap makanya rasanya sakit sekali ketika rasa itu tak sesuai kenyataan.
Ina memilih pulang ke apartemen. Semangatnya hilang dengan kejadian yang dialaminya hari ini. Rasanya dia sudah malas kemana-mana.
Setelah perjalanan dari Tokyo Tower menuju apartemen. Ina pun masuk ke apartemen, tak lupa mengucapkan terimakasih pada petugas tadi. Ina memberikan uang tips tapi petugas itu menolak dengan alasan sudah mendapatkan bayarannya.
Ceklek!
Ina sampai didepan pintu apartemennya. Semula dia memegang gagang untuk membuka kunci. Tapi keanehan terjadi sebelum memasang kunci gagang pintunya terasa ringan. Ina kembali menggerakkan gagang dan pintu terbuka.
"Apakah ada penyusup dirumahku?" Batinnya dalam hati.
Ina memasuki rumahnya dengan pelan. Memeriksa barang yang ada di dalam apartemennya.
"Tidak ada yang hilang? Tapi kenapa pintu tidak dikunci. Apa tadi aku lupa menguncinya? Mungkin aku tidak terlalu kuat menguncinya."
Ina membuka tudung dapurnya. Beberapa makanan tersaji dimejanya. Padahal dia tidak ada masak apapun.
"Kalau lapar makanlah, Na. Jangan dipandang saja." sebuah suara mengagetkan dirinya.
"Kakak!" Ina langsung menghambur ke pelukan Yulia.
"Adik kakak yang cantik sekarang kamu gemukan. Jangan bilang kamu makan terus selama disini." Yulia menangkup wajah adiknya yang chubby.
"Musim hujan, kak. Bawaannya lapar terus. Kakak kesini sama siapa? Kak Dul mana? Kok nggak ngabarin aku. Tau gitu aku jemput ke bandara."
"Kalau kakak kasih tahu bukan surprise namanya." Yulia mencubit pipi adik kesayangan.
"Oh, ya kamu siap-siap ya? Rio dan Maudy mau ajak kita jalan-jalan keliling."
"Mama, Shasa lapar?" Ina kaget melihat Shasa datang memeluk dirinya.
Ina kaget melihat Shasa muncul memanggilnya mama. Pandangannya beralih ke sang kakak.
"Kakak mau ke apartemen Rio, dulu, ya. Itu ada makanan untuk Shasa. Latihan pendekatan dulu, ya." Yulia keluar dari apartemen Ina.
__ADS_1
Ada apa ini?