Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
BONUS PART 6


__ADS_3

Suara bayi yang menggema di ruangan persalinan. Alam mencoba menenangkan anaknya yang terus menangis. Sementara para petugas medis sedang mempersiapkan alat untuk kebutuhan medis Ina. Tatapannya beralih kearah wanita yang sudah memberinya keturunan. Wajahnya pucat seakan menyimpan duka.


Alam mendekatkan sang bayi di samping Ina. Dia pernah mendengar jika bayi di dekat dengan sang ibu yang kritis, niscaya akan ada keajaiban. Dia pernah mendengar seorang ibu yang sadar darii koma karena mendengar tangisan bayinya.


"Sayang, kamu mau ketemu mama kan? Ma, bangun dong. Adek ganteng mau main sama mama." Alam mencoba berkomunikasi dengan anak dan istrinya yang masih koma.


"Tuh, mama kamu cantik kan sayang. Iya, dong istri siapa dulu?" Alam masih sempat mengajak bercanda pada bayi masih merah tersebut.


Sementara diluar, Yulia dan Marni mendengar lengkingan tangisan bayi. Mereka berpelukan bahagia karena akan ada calon penerus keluarga. Yulia dan Marni sampai berurai airmata.


"Ya Allah terimakasih sudah memberikan aku cucu baru." Pinta Marni.


"Terimakasih ya Allah ponakanku lahir dengan selamat." Syukur Yulia.


"Keadaan non Shasa gimana, bu?" Tanya Suti.


"Shasa masih ditangani dokter." Jawab Marni.


Semua yang ada di luar berharap Shalat bisa sembuh dari sakitnya. Apalagi dokter sempat memvonis Shasa tidak akan sembuh. Tapi baik Yulia maupun Marni yakin akan ada keajaiban untuk cucu mereka. Mereka juga berharap Ina lancar persalinannya.


Ceklek!


Alam keluar masih memakai baju kunjungan. Mereka semua berkumpul mengerumuni lelaki itu. Berharap ada berita bahagia yang akan disampaikan.


"Anak kami laki-laki, bu, kak dan semuanya. Alhamdulillah anaknya sehat." Alam mulai menjelaskan pada semua keluarganya.


"Ina ..." Alam belum menyelesaikan ucapannya.


"Ina kenapa, lam?" Tanya Marni ikut penasaran dengan apa yang di ucapkan putranya.


"Ina kritis, ma, kak." Lelaki itu mulai sesenggukan di sambut dengan pelukan ibunya.


"Lam, kamu harus kuat. Ibu yakin Ina bisa melewati masa kritisnya. Kamu tidak lupa kalau dalam diri Ina ada Gita. Gita yang dulu beberapa kali drop saat sedang mengandung, Gita yang beberapa drop karena mengidap kanker. Dan dia bisa melewatinya.


Ibu yakin Ina pun sama. Dia sudah berjuang menyelamatkan anak kalian, dia juga kuat dimana saat hamil ikut mendampingi kamu menjaga Shasa. Sekarang kamu yang akan menggantikan Ina untuk mendampinginya di masa kritis."


"Shasa bagaimana, bu?" Alam teringat putrinya yang sedang berjuang melawan maut.


"Shasa masih ditangani dokter, lam. Kami belum tahu kabar kondisinya. Adnaa duo opa yang menjaga Shasa disana. Kamu tenang saja." Jelas Marni.


"Jadi Ina kritis, lam?" Yulia menimbrung obrolan ibu dan anak tersebut.


"Iya, kak Ina pingsan setelah anak kami lahir. Sekarang sedang ditangani dokter."


"Ya Allah cobaan apalagi ini. Belum selesai dengan kondisi cucuku, kenapa engkau timpakan hal yang sama pada adikku. Berilah secercah harapan pada keduanya ya Allah. Masa depan mereka masih panjang." Tangis Yulia pecah ketika mendengar keadaan Ina.


Alam hanya duduk di kursi tunggu depan pintu UGD. Sedari tadi wajahnya ditutup kedua tangannya, sesekali mengacak rambutnya. Marni melihat kegelisahan putranya duduk menghampiri. Wanita paruh baya itu menenangkan putranya yang di landa kesedihan. Bagaimana tidak? Dua orang yang di sayanginya sedang berjuang melawan maut. Kepala Alam di letakkan pada bahu Marni, tangan lembut membelai rambut putranya yang berusia 32 tahun tersebut.

__ADS_1


"Sekarang adalah seorang ayah. Kamu tahu tugas seorang ayah? Melindungi, menjaga, dan menjadi panutan untuk anak-anakmu. Kamu juga sudah menjadi kepala keluarga. Dimana tindak tanduk anggota keluarga adalah tanggung jawabmu.


Ibu paham kamu sedih dengan keadaan Shasa. Tapi kamu jangan lupa kalau masih ada Ina dan bayimu yang butuh perhatian penuh.


Lam, ibu harap yang terjadi pada Ina membuat kamu menyadari satu hal. Yaitu adil.


Kamu harus adil memperhatikan anakmu, kamu harus adil memperhatikan istrimu."


"Bu, maafin Alam. Walau sebenarnya Alam tidak bermaksud seperti itu pada Ina. Alam sadar kalau Ina masih membutuhkan perhatian lebih. Alam hanya merasa takut jika Alam tak punya waktu maka Shasa akan bernasib seperti Gita. Pemikiran itu selalu berputar di otakku, bu.


Ibu ingat, saat Alam di penjara banyak hal yang terjadi pada Gita. Dan Alam pun tak ada sisi Gita saat itu. Itu selalu menghantuiku, selalu menghantuiku."


Marni mengeratkan pelukannya pada Alam. Rasa bersalah karena sudah membuat anak dan menantunya tersakiti kembali menderanya.


"Maafkan ibu, Lam. Seandainya ibu tidak menekan Gita supaya kalian bercerai mungkin kalian sudah bahagia dari awal. Maafkan ibu yang juga sempat menentang kamu dan Ina.


Sekarang kamu sholat, nak. Doakan supaya Ina cepat sadar dan kalian bisa berkumpul lagi."


Alam pergi ke mushola rumah sakit menunaikan sholat malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00, Alam berjalan menuju ruang rawat Ina, hanya untuk melihat sejenak keadaan istrinya.


Pada jam itu, Purnama tampil dengan sempurna. Hanya saja tak ada bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Ada sih? Tapi hanya satu atau dua bintang yang terlihat. Angin malam terasa dingin. Tampak daun-daun bergoyang karena hembusan angin.


Alam baru saja menyelesaikan sholat malamnya berjalan ke ruang rawat putrinya. Sejak menemani Ina dia belum mendengar keadaan Shasa. Maka itu dia memberanikan diri menemui Shasa.


Ceklek!


Alam menatap putrinya yang masih tidur berbalut infus. Dia melihat di sekelilingnya tak ada siapapun yang menjaga Shasa. Lelaki itu melabuhkan bokongnya diatas kursi yang disediakan rumah sakit.


"Lam" Suara Marni seperti panik.


"Kenapa, Bu?" Tanya Alam.


"Kamu ke ruang Ina. Anakmu nangis terus, Yulia dan yang lain bergantian menenangkan. Tapi tetap saja nangis." Adu Marni membuat Alam berlari menuju ruang istrinya.


Ceklek.


Alam berdiri di depan ruang rawat Ina. Tak terdengar tangisan kencang seperti aduan Marni. Dengan membaca bismillah tangannya mengayunkan lebar pintu ruangan tersebut.


Langkah kaki mendadak kaku melihat pemandangan di depannya.


"Uuuhh ... anak mama laper ya? ciaaaan...Uuuh.. lahapnya anak mama."


Langkah kaki Alam berjalan pelan. Setapak demi setapak dia mengisi balok-balok putih di lantai. Masih dalam mode tak percaya, Alam mengucek matanya dengan apa yang dilihatnya.


"Mas."


Sapaan lembut itu membuat Alam yakin dia tidak sedang bermimpi.

__ADS_1


"Ini beneran kamu, na."


Ina mengiyakan ucapan suaminya. Ina menyapih putranya di bantu Yulia memindahkan ke box bayi.


"Iya, Mas. Ini aku, Karina Permata Gunawan, istri kamu. Wanita yang mau menjadi kekasihmu, wanita yang dulu adalah adik mertuamu. Dan wanita yang selalu bersamamu dalam suka maupun duka.


Maaf, mas. Aku keenakan tidur, sampai lupa ada anak dan suamiku yang menungguku."


Waktu sudah memasuki subuh. Alam pun melaksanakan sholat subuh di dekat ranjang istrinya. Sejak bangun tadi malam, dia tidak bisa tidur lagi. Hal itu dimanfaatkan untuk melepas rindu bersama suaminya.


"Mas. Aku lapar." Ina menggosok perutnya.


"Mau yang ini atau ini." Alam menunjuk pipi dan bibirnya.


"Iiih, emang yang tadi belum cukup."


"Nggak akan cukup kalau sama kamu, sayang." Tangan Alam menjentik hidung Ina.


Suara tangisan bayinya kembali menggema di ruang rawat Ina. Alam pun mengambil putranya untuk di beri ASI oleh ibunya.


"Siapa namanya, mas?" Tanya Ina saat menyusui putranya.


"Namanya yusuf"


"Alasannya?" Tanya Ina.


"Karena dia akan menjadi lelaki paling tampan. Nabi Yusuf kan tampan. Aku berharap anakku bukan hanya tampan di wajah tapi juga hatinya. Seperti papanya." Oceh Alam penuh percaya diri.


"Kau tahu, nak. Papamu ini idola para wanita semasa sekolah. Bahkan mereka membentuk fans club yang mengantarkan papa bisa menjadi ketua OSIS.


Maka itu, papa yakin kamu akan meneruskan jejak papa nantinya. Menjadi idola, dimanapun kamu berpijak."


Ina hanya tergelak mendengar ocehan suaminya. Sesaat dia tersentak saat pinggangnya di balung tangan kekar tersebut. Ina menggeliat geli saat suaminya mengeruk leher istrinya dengan rakus.


"Auuuuwwww.."


"Jangan ganggu ketenangan anakku!" omel Ina ketika acara menyusuinya kacau akibat di ganggu suaminya.


"Galak amat" Alam sedikit menjauhi Ina yang sudah melotot.


*


*


*


*

__ADS_1


Maaf, ya up rada lelet. Maklum sekarang toko mulai rame, ini saja karena sedang sedikit santai bisa nulis.


selamat membaca


__ADS_2