Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Kejutan untuk Ina


__ADS_3

Ting ... tong


Ina dengan malas membuka pintu apartemennya. Dia menebak pasti kalau tidak Rio mungkin juga Rangga dan Laras. Kalau teman rasanya tidak mungkin karena belum ada yang tahu kediamannya.


Perlahan dia membuka pintu utama, Ina celingak celinguk melihat kanan kiri, tak ada siapa pun. Namun langkahnya terhenti melihat sebuah kotak yang berada di bawah kakinya. Kotak merah berukuran besar pun membuatnya penasaran.


From my love Karina Permata Gunawan.


Kamu pasti kaget dengan kado ini. Ini memang sengaja ku hadiahkan untukmu, Na.


Lusa Valentine, aku harap kamu memakainya di hari kasih sayang itu.


Ina membolak-balikkan kartu tersebut tak ada nama si pengirim. Tapi dari bahasanya Ina menebak si pengirim juga orang indonesia. Berulang dirinya menebak siapa si pengirim tapi tetap saja zonk. Ina membawa paket tersebut ke dalam kamar.


"Ini pasti kerjaan kak Rangga. Ngapain masih gangguin aku. Seharusnya dia memikirkan perasaan Laras. Biar aku telepon kak Rangga."


Tak lama bel kembali berbunyi, Ina langsung membuka pintu.Tampak Rio membawa beberapa makanan, lelaki itu masuk ke dalam apartemen Ina meletakkan bawaannya di kitchen room.


"Abis darimana?" Tanya Ina.


"Aku baru dari bandara jemput kerabatku dari Jakarta. Oh ya, tadi ada paket aku letakkan didepan pintu apakah Oma Ina mengambilnya."


Ina ingat paket tadi " jadi itu kerjaan kamu, Rio. Astaga ngapain nyuruh aku pake gaun itu. Emang kamu mau ajak aku dinner, ngerayain Valentine. Kenapa nggak ajak pasangan kamu saja sih. Pake ngajak aku segala."


Rio hanya tertawa kecil, lelaki itu tak langsung menjawab ucapan Ina.


"Ya, udah aku balik dulu, Oma. Kasihan tamuku di tinggal sendirian." Kilah Rio.


"Apa aku mengenal tamunya?" Selidik Ina.


"Nanti juga Oma Ina bakal tahu,kok." Rio langsung meninggalkan Ina sendiri di apartemen.


"Siapa sih tamu nya Rio? Pake diumpetin segala." Batin Ina melihat gelagat Rio yang mencurigakan.


Ina langsung duduk di kamarnya memasang headset mendengarkan lagu kesukaannya. Mencoba memejamkan mata menikmati alunan musik milik Whitney houston. Untuk ukuran anak milenial, Ina termasuk penyuka lagu lawas.


If i should stay


I would only be in your way


So i'll go, but i know


I'll think of you every step of the way


And i will always love you


I will always love you


 


You, my darling, you, hmm


Bittersweet memories


That is all i'm taking with me


So, goodbye


Please, don't cry


We both know i'm not what you, you need


And i will always love you


I will always love you


I hope life treats you kind

__ADS_1


And i hope you have all you've dreamed of


And i wish to you joy and happiness


But above all this, i wish you love


And i will always love you


I will always love you


I will always love you


I will always love you


I will always love you


I will always love you


You


Darling, i love you


Ooh, i'll always


I'll always love you


Ina memandang keluar dari kaca jendela. Melihat salju yang menutupi jalanan. Tapi tidak sebanyak saat pertama kali sampai. Kepalanya disandarkan ke dinding jendela. Senyum merekah membayangkan seseorang yang dirindukannya.


Ina tersentak ketika gawainya berdering. Matanya berbinar saat tahu siapa yang menelepon. Tak tanpa menunggu lama Ina langsung mengangkat telepon tersebut.


"Assalamualaikum." Terdengar sapaan dari seberang.


"Waalaikumsalam." Jawab Ina dengan semangat.


"Kamu apa kabar, Ina?" Tanyanya.


"Banyak amat yang ditanyain." Protes Alam.


"Aku harus nanya gimana?"


"Tanya kek gini, Alam kamu apa kabar? kamu kangen nggak sama aku."


"Kalau nanya gitu kamu jawabnya apa?"


"Jangankan kangen, Na. Kalau punya sayap atau bisa menghilang aku akan muncul dihadapan kamu. Aku kangen banget sama kamu, Na. Sejak kamu berangkat kamu belum ada ngabarin aku. Ini saking tak terbendung aku langsung telepon kamu."


"Coba kalau aku disitu, aku bisa lihat wajah kamu merah merona."


"Gombal." Ina langsung menimpali.


"Tapi sumpah aku kangen banget sama kamu,sayang."


"Sama, Lam. Aku juga kangen banget sama kamu."


Andai valentine ini kamu datang, Lam. Aku bahagia sekali. Tapi nggak mungkin Alam bisa datang.


"Na, kamu masih disitu kan."


"Eh, Iya. Aku masih disini." Ina tergagap saat lamunannya buyar saat masih teleponan dengan Alam.


"Lam, sudah dulu, ya. Aku ngantuk banget." Ucap Ina mencoba menutup teleponnya.


"Iya, sayang. Selamat tidur semoga kita bertemu di dalam mimpi.


Padahal aku masih kangen banget sama kamu,Na."


Ina menunduk "Aku juga kangen sama kamu. Ya, tapi mau gimana lagi? Bukankah kita sudah sepakat akan menunggu saat aku selesai kuliah. Kamu juga harus ingat janji itu." Ina menekankan Alam agar tidak melupakan janjinya.

__ADS_1


"I MISS U, Mamanya Shasa."


"Miss to ayahnya Shasa."


Mereka menyudahi komunikasi selulernya. Ina memeluk ponselnya sebagai tanda rasa bahagia pelepas rindu. Tubuhnya langsung dihempaskan diatas ranjang. Tatapannya menerawang keatas langit dinding kamarnya. Tak lama ina menutupkan matanya karena sudah sangat mengantuk.


Sementara itu di depan pintu kamar Ina. Sosok lelaki memasukkan ponsel kedalam kantong celananya. Senyumnya merekah sembari melangkahkan kakinya ke kamar yang ada dihadapannya.


"Kak" sapa Rio yang melihat tamunya merenung di balkon apartemennya.


"Hmmm .. Apa dia sudah menerima kadoku?" Tanyanya pada Rio.


"Sudah, kak .. kakak serius sama oma Ina?"


"Kalau aku tidak serius, aku tidak nekat melamarnya di depan mama Lia. Setiap dekat dengan wanita aku selalu serius meskipun banyak sekali penantangnya. Semua itu aku hadapi sepanjang aku meyakini perasaan ini."


Tatapannya teringat saat bersujud di depan Yulia, dimana saat itu Gita berobat ke Singapura bersama Ilham. Dimana dia rela dimaki oleh wanita yang sudah melahirkan kekasihnya saat itu. Lalu beralih saat dokter menyatakan kondisi Gita semakin tipis.


[Cuplikan di novel Aku kamu dan Dia]


"Ma?"


"iya, nak."


"Tolong nikahkan kami Sekarang! Agar aku bisa mendampingi Gita sampai akhir hayatnya. Ini permintaan aku yang terakhir,ma."


"Tapi, lam."


Mama menatap Alam, dia melihat kesungguhan di mata lelaki itu. Alam bersujud di kaki Mama untuk meminta menikahkan mereka secara ulang. Wanita itu mengiyakan permintaan menantunya.


"Tolong nikahkan kami, Ma. Aku sangat mencintai Gita apapun keadaannya aku terima. Aku tidak ingin kehilangan dia lagi untuk kesekian kalinya."


"Kamu harus yakin, Gita pasti akan bisa melewatinya. Kamu lupa gita sudah beberapa kali melewati masa koma, Tuhan masih memberi kesempatan hidup pada Gita. Itu tandanya Tuhan masih sayang pada kalian."


Dan sekarang dia juga akan melakukan hal yang sama untuk meyakinkan keluarga Gunawan. Meskipun mendapat tentangan.


Klik


Tokyo, 13 februari 2022.


Suasana pagi di Tokyo dingin. Tampak langit masih gelap terdengar suara rintik hujan membasahi kota bunga sakura tersebut. Ina merapatkan jaket wol di dalam kamar. Dia sudah tak bisa tidur lagi setelah bangun menjelang shalat subuh tadi. Tubuhnya melangkap menuju tempat mesin uap ruangan. Akhir ini udara begitu terasa dingin dan itu yang membuat Ina rajin menghidupkan mesin uap tersebut.


Ting tong


Ina membuka pintu apartemennya. Lagi-lagi dia menemukan kiriman misterius di depan pintu kamarnya.


Sebuah paket sarapan untuk dirinya lengkap dengan meja. Petugas apartemen berdiri di depan pintu lalu masuk mengantarkan meja tersebut.


"Siapa yang mengirimkan ini?" Tanya Ina.


"Tuan Rio, Nona." Jawab petugas tersebut.


"Rio? Astaga sejak semalam sikapnya aneh sekali. Dia kenapa sih? Jangan-jangan Rio ada perasaan sama aku. Ah, tidak mungkin Ina. Rio itu keponakanmu statusnya sama dengan Gita. Tapi ini tidak bisa dibiarkan!" Gumamnya dalam hati. Ina malah berniat melabrak Rio ke apartemen lelaki itu. Namun, dia mengurungkannya mengingat santapan menggugah selera.


Setelah membersihkan diri dari rendaman bathup di kamar mandi. Udara pagi yang masih terasa menusuk tulang. Tapi karena air hangat yang sudah di sediakan dari apartemen, tidak menyurutkan niat gadis itu membersihkan diri. Setelah memanjakan diri dengan sabun wewangian, Ina pun sudah mengenakan kaos di tutupi jaket wol milik alm mamanya. Dengan lilitan syal, Ina meninggalkan kamarnya. Lagi-lagi dia menemukan satu buket bunga warna merah di depan pintu kamarnya. Helaan nafas kasar terdengar bibir tipis Karina. Tatapannya menjelit pada pintu yang berada di seberangnya. Dengan cepat dia mendobrak si pemilik pintu tersebut. Sayangnya, tak ada sahutan alias tak dibukakan pintu tersebut. Ina membuka catatan dibalik buket bunga.



Ina turun dari apartemennya, salah seorang petugas datang menyapanya. Menawarkan sepeda santai pada dirinya. Ina menolak karena dia sudah lama tidak naik sepeda, namun salah seorang petugas menawarkan Ina untuk membawa sepeda sementara diri hanya bonceng di belakang.


"Hari ini kenapa semua pada aneh, ya? Kayaknya ultahku masih lama, deh?"


"Bagaimana, Nona?" Ina dikagetkan dengan petugas apartemen yang masih menunggu dirinya.


"Baiklah, antarkan aku ke tempat taman sakura."


"Baik, Nona."

__ADS_1


Ina keluar dari gedung apartemen, tak lama dia sudah mendaratkan bokongnya di jok sepeda. Matanya menerawang kearah jalanan luas, tampak pemandangan gedung-gedung besar di tengah kota. Ina berdecak kagum melihat kota yang ditempatinya terlihat sangat bersih. Sepanjang perjalanan Ina tak menemukan sampah yang bertumpuk di pinggir jalan.


__ADS_2