Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Ziarah 2


__ADS_3

"Kak" Ina mendekati Yulia yang sibuk didapur.


"Iya, Na." Yulia dan beberapa asisten kediaman memasak di dapur.


"Aku pengen bicara sebentar."


Ina dan Yulia sekarang berpindah tempat. Mereka sudah duduk berdampingan di teras. Suasana pagi ini terasa begitu dingin. Ina merasa tak ada bedanya dengan udara selama di Jepang.


"Kakak bisa jelasin sama Ina. Apa yang sebenarnya terjadi akhir-akhir ini? Kenapa kita tinggal disini?"


Lama yulia terdiam, menghempaskan nafasnya memberi jeda sebelum dia menceritakan semuanya. Masih mencoba mengulir waktu Yulia meninggalkan Ina dengan alasan mengecek masakan. Ina sepertinya tahu kalau sang kakak masih mau bersembunyi dengan masalah yang ada.


Langkahnya mengayun ke kamar tempat peristirahatannya. Ina menggoyang gagang pintu, tampak Alam sudah bersiap berangkat ke kantor. Dengan jas bergaris vertikal didapuk kemeja warna putih. Lelaki itu terlihat tampak gagah.


"Sini, aku benerin jas nya. Gimana sih pake kemeja kayak gini? ini juga, dasinya kayak orang lembur. please deh, masa calon suamiku kayak gini.


Apa kata dunia kalau seorang Karina Permata Gunawan punya suami kayak orang nggak terawat. Terus rambut di potong, ini udah kepanjangan lo, biar rapi biar ganteng, biar ..." Alam menutup jemari nya diatas bibir Ina.


Bibir Ina memang mengoceh, tapi tangannya tetap merapikan baju kekasihnya. Merapikan kelepak kerah kemeja Alam, membenarkan posisi dasi, dan segala penampilan calon suaminya harus rapi.


"Sayang..."


"Udah kamu berangkat ke kantor nanti telat." Ina merasa sudah selesai lalu meninggalkan Alam. Alam menarik tubuh Ina, tangannya melingkar erat ke pinggang gadis itu.


"Ini belum." Alam menunjuk ke pipinya.


"Ogah, belum muhrim!" Ina langsung kabur keluar daripada memancing kemesuman Alam.


"Kamu tenang saja, kalau kita nikah nanti bakal tiap detik tiap jam kita honeymoon." seru Alam.


Ina duduk di teras. Dia bingung mau mengerjakan apapun karena semuanya sudah ada yang kerja.


"Na"


"Iya, kak."


"Kakak mau jelasin soal tadi."


Yulia dan Ina kembali duduk diteras belakang. Tatapannya memandang langit yang masih terang benderang.

__ADS_1


"Rumah kita disita Grace karena gagalnya acara pertunangan kamu dan Gilang. Utang kakak sama Grace mencapai 5M, makanya kami tinggal disini sekarang."


"Maafin Ina ya kak. Kalau saja Ina tidak bikin kekacauan saat itu. Mungkin tidak akan begini jadinya. Semua salah Ina, aku akan menemui kak Grace untuk membikin perhitiungan dengannya."


"Ini semua salahku, Na. Kalau saja kakak tidak mengikuti permintaan Grace, mungkin akan beda cerita. Kakak tertutup karena kebencian terhadap keluarga ini. Maafin kakak, ya, na."


Ina dan Yulia saling berpelukan. Ina masih diliputi rasa bersalah karena dialah penyebab kekacauan ini. Dari jauh Alam melihat dengan tersenyum. Dia senang kalau Ina dan Yulia saling merangkul.


"Kak, ambil hikmah dalam setiap musibah yang menimpa. Seperti yang pernah aku dengar kutipannya.


 Ini sesuai dengan QS Al-Balqarah 155:  “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,” 


Setiap manusia akan diberi ujian dalam hidupnya baik besar maupun kecil. Dimana terkadang manusia lupa ketika senang, terkadang juga tersirat khilaf baik sengaja atau tidak disengaja, Allah turunkan teguran pada umatnya. Sebagian dari mereka ada yang sadar, ada juga yang masih mengulanginya.


Alam meninggalkan rumahnya dengan menebarkan kebahagiaan di depan mata. Di hirupnya udara pagi yang masih mengembun, tak lama terdengar langkah seperti mengikutinya.


"Lam"


"Yes, beib."


"Kamu main berangkat saja emang nggak mau pamitan sama aku." Ina muncul dengan wajah cemberut.


"Ih, kok gitu."


"Iyalah, yang. Kalau kamu cantik entar banyak mampir."


"Siapa?"


"Tuh liat, Raka aja sampai nggak berkedip lihat kamu." Memang tampak mematung memandang Ina.


"Raka kok dicemburuin." Ina tertawa.


"Jangankan Raka,Na. Tuh liat tangan kamu bentol-bentol. Bahkan nyamuk saja rela meninggalkan jejaknya ditubuhmu. Bagaimana aku tidak cemburu?"


"Berangkat!" Ina mengeluarkan bola matanya.


Namun Alam mencoba menggoda Ina.


"Muuaaaahhhh"

__ADS_1


Astaga ini bapak duda udah rese, alay pula.


Seminggu kemudian.


Keluarga besar Gunawan dan juga Spencer sudah berada di pelataran komplek pemakaman. Mereka berniat menjenguk orang-orang yang sudah mendahului.


Ina dan Alam memasuki areal pemakaman San Diego Hills. Ina memandang satu pemakaman yang berjejer disana. Ada juga makam yang dibuat seperti taman. Dia menebak makam taman tersebut adalah makam keluarga.


Keduanya berjongkok membersihkan rumput-rumput yang sudah memagari pinggir makam. Tampak Alam mengelus nisan yang berwarna hitam tersebut. Sosok yang tadi sempat bercanda ria selama perjalanan sekarang mendadak kalem. Terdengar suara susutan hidung dari lelaki itu.


 Al-Fatihah dikenal sebagai surat pembuka. Maka, sebelum membaca doa yang lain, awali membaca Al-Fatihah. Setelah membaca Al-Fatihah, lanjutkan dengan membaca surat pendek. Membaca surat-surat pendek saat ziarah kubur akan menjadikan pahala untuk almarhum yang ada dalam kubur. 


Dalam riwayat al-Marwazi dari Ahmad bin Hanbal, beliau pernah mengatakan bahwa: 'Bila kalian masuk ke dalam taman makam (kuburan), maka bacalah Al-Fatihah, surat Ikhlas, dan al-Muawwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas). Jadikanlah pahalanya untuk mayat-mayat kuburan tersebut, karena sungguh pahalanya sampai kepada mereka.


Allahummaghfìrlahu war hamhu wa 'aafìhìì wa'fu anhu, wa akrìm nuzuulahu wawassì' madholahu, waghsìlhu bìl maa'ì watssaljì walbaradì, wa naqqìhì, mìnaddzzunubì wal khathaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu mìnad danasì."


"Wabdìlhu daaran khaìran mìn daarìhì wa zaujan khaìran mìn zaujìhì. Wa adkhìlhul jannata wa aìdzhu mìn adzabìl qabrì wa mìn adzabìnnaarì wafsah lahu fì qabrìhì wa nawwìr lahu fìhì."


Artinya: "Ya Allah, berilah ampunan dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran.""Gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, istri yang lebih baik dari istrinya. Masukkanlah dia ke dalam surga, berikanlah perlindungan kepadanya dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah dia di dalamnya." (HR. Muslim)


" Assalamualaikum, sayang. Kamu apa kabar? Maaf, ya. aku baru bisa jenguk sekarang. Kamu tahu sendiri lah, aku sekarang sedang menata hidup yang baru.


Sayang, maafkan aku yang selama ini nggak peka dengan yang kamu alami. Maafkan aku dan keluargaku yang sudah membuat kamu menderita.


Andai aku tidak memakai wajah Boy, mungkin aku tidak dipenjara dan aku bisa menjagamu dari marabahaya.


Andai tidak ada kasus Boy, mungkin kita bisa melihat Chiko tumbuh besar.


Maafkan aku, Gita!


Maafkan aku!"


"Hai,Gita. Assamualaikum. Aku Karina, perempuan yang sudah menerima jantungmu. Terimakasih Gita, karena jantungmu aku bisa meneruskan hidup. Karena jantungmu aku dipertemukan dengan lelaki ajaib seperti dia.


Aku minta izin padamu, Gita. Untuk meneruskan perjuanganmu dalam membesarkan Shasa. Aku juga berharap kamu merestui hubungan kami."


Keduanya menaburkan bunga-bunga warna warni di makam Gita. Alam masih terpaku menatap makam mendiang istrinya. Nisan yang bertulis nama "Gita Mandasari" Wanita yang sangat dicintainya.


Ada rasa rindu yang mendera di dada Alam. Puing-puing rasa sesal membelenggu dalam hatinya.

__ADS_1


Begitu banyak kenangan yang mereka lewati. Baik manis maupun pahit. Begitu yang mereka lalui masa pacaran, masa menikah dan saat Gita hamil baik yang pertama maupun yang kedua.


__ADS_2