Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
22. Kebencian Alam


__ADS_3

Ina duduk menekuk kakinya. Menahan rasa perih didadanya. Netranya menyiratkan rasa kekecewaannya pada mamanya. Bukan menyambut kepulangannya, sang mama malah sibuk menggoda tamunya. Dia malu dengan sikap mamanya, terbersit rasa tidak enak lalu tangannya mencoba menghubungi Alam.


"Ah, aku lupa kalau aku belum memiliki nomor kontak mereka."


Ina merogoh tas nya mencari kartu ponsel yang dibawanya tadi. Selama dua bulan disana, Ina dibelikan handphone, tapi saat dirinya hendak pulang handphone itu disimpannya dalam lemari pakaian. Karena menurut Ina, barang itu masih hak pemilik rumah.


"Oh, Iya kak Ilham. Dia kan dekat dengan keluarga tante Yulia."


Ina mencoba menghubungi Ilham. Tapi sayangnya nomor tujuan tersebut tidak bisa dihubungi. Ina hanya menunduk pasrah. Mungkin besok atau hari lainnya dia coba bertanya pada Ilham. Ina membentang selimut menutupi tubuhnya. Mencoba menutup mata tapi kejadian di KFC kembali menari dipikirannya. Ada rasa tak enak mengacuhkan Rangga, tapi dia sudah terlanjur berjanji pada keluarga kakaknya.


"Ya Allah, kenapa aku kebayang kak Rangga terus ya. Apa karena aku kualat sama kakakku sendiri? Sejak kecil memang aku selalu bersama kak Rangga. Nganterin aku sekolah, ngajarin aku belajar, bantuin aku ngerjain tugas. Bahkan dia yang ngambilin raportku setiap pembagian Raport. Dia menggantikan tugas papa Aryo, walaupun papa Aryo lebih sabar mengajariku saat belajar."


Ina mengenang masa kecilnya bersama Rangga, saat Rangga masuk ke keluarganya ina baru berusia 7 tahun. Saat itu usia Rangga sudah 17 tahun, dimana setiap berangkat sekolah Ina selalu bonceng di depan. Namun itu berlangsung hanya sampai kelas 4 SD. Selebihnya dia sudah malu dan memilih bonceng dibelakang.


Saat Rangga kuliah di Jepang, Ina merasa kehilangan sosoknya. Karena hanya Rangga yang punya banyak waktu untuknya ketimbang mamanya sendiri. Tapi lelaki itu selalu tahu kapan jadwal dirinya bagi raport. Entah darimana kakaknya mendapat Informasi. Pastinya dia langsung muncul diantara para orangtua, jika ada nilai turun dia langsung mengomeli adiknya.


"Kok nilaimu turun, na. Belajar nggak, apa jangan-jangan kamu sudah mulai pacaran. Kan kakak sudah bilang jangan pacaran dulu. Fokus sekolah dulu."


Dan saat dia tahu, Ina pacaran dengan Dodo.

__ADS_1


"Do, Ina ini masih sekolah. Jadi kalian jangan sering berduaan terus. Buatlah dia fokus dengan sekolahnya, Paham!"


Ina hanya mengeluh kesal. Mamanya saja tidak terlalu cerewet padanya. Justru mamanyalah yang mendekatkan dirinya dengan Dodo.


"Dodo itu dokter, Na. Biasanya kalau yang jadi dokter kan otaknya pintar. Siapa tahu dia bisa bantu belajarmu." Ucap Mama Kania saat itu.


Seketika netranya berkaca-kaca. Sesak kembali mendera saat mengingat bagaimana hubungannya dengan Dodo. Meskipun Dodo bukan lelaki pertama yang singgah dihatinya, tapi tetap saja banyak kenangan yang dilaluinya bersama lelaki itu. Tak pernah disangkanya kalau ternyata Dodo menjalin hubungan dengan mamanya sendiri.


Ina merasakan nyeri kembali mendera di jantungnya. Sekuat tenaga dia mencoba rasa sakitnya, tangannya meraba meja dimana letak obat-obatnya.


"Na, mama boleh masuk?"


"Mama tahu kamu marah karena lelaki tadi, kan? Na, maafin mama. Mama hanya mengetes dia, mama hanya ingin tahu lelaki itu sama dengan kelakuan Dodo atau tidak. Na, tolong buka pintunya mama mau bicara."


Tak ada sahutan. Kania yakin Ina sudah tidur. Tapi feeling Kania merasa Ina marah padanya karena lelaki tadi.


Klik


Alam melajukan mobilnya dengan santai. Hujan belum juga berhenti malah semakin deras, membuat dirinya berhati-hati dalam melajukan mobilnya. Waktu terus berjalan, langit pun semakin gelap. Mobil pun berhenti disebuah warung kopi kecil. Ada beberapa muda mudi yang sedang nongkrong disana. Matanya tertuju pada pasangan para pemuda tersebut, dimana wanita berpakaian mini memamerkan belahan dadanya. Seketika Alam merasa llfeel dengan pemandangan itu. Alam bangkit setelah membayar minumannya, wajahnya terlihat lelah.

__ADS_1


"Mas nggak mau gabung sama kita."


Seorang perempuan mendekati Alam yang hendak berdiri meninggalkan warkop. Tangan perempuan itu memegang bahunya. Tapi ditepis oleh lelaki itu.


"Ih, mas nggak asyik."


Alam menjelit kearah perempuan itu, setelah memasukan ponselnya ke dalam kantong celana. Pria itu mengamati sekelilingnya dengan bergidik ngeri. Hampir semua yang datang di warkop tersebut didampingi para wanita dengan pakaian yang sejenis.


Cepat-cepat kakinya melangkah ke mobil. Setelah didalam mobil Alam langsung menghidupkan kendaraan roda empat tersebut.


"Huft, serem juga warkop tadi."


Pikirannya melayang saat mamanya Ina mencoba menggodanya. Ada rasa tidak nyaman yang dirasakannya saat tangan wanita itu menjalar ketubuhnya. Berbagai pikiran negatif terus bergulir di otaknya.


"Mamanya saja seperti itu, apalagi anaknya. Biasanya buah tak jauh dari pohonnya. Tapi, kalau dia sudah pulang tandanya rumah mama aman. Karena bisa jadi sewaktu-waktu Ina pun akan melakukan hal yang sama, mungkin akan menggoda papa dul. Tapi, jangan kamu kira aku tergoda perempuan seperti kamu, Ina. TIDAK AKAN!"


Pikiran Alam terus berputar tentang ketidaksukaannya pada Ina. Dia harus menjauhkan keluarga istrinya dari sosok Ina yang diyakininya bukan perempuan baik-baik.


"Jika suatu saat dia muncul lagi keluarga mama Yulia, aku adalah orang pertama yang menentangnya."

__ADS_1


__ADS_2