Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
117. Momen pertemuan


__ADS_3

Jepang, 19 desember 2021.


Atmosfir dapur apartemen kediaman Rio terasa begitu hangat. Meskipun sebenarnya udara dingin menyergap negara sakura tersebut. Nafasnya yang mulai tidak menyergap gadis itu, mendapati sosok yang terduga berdiri di depan mata. Bukan hanya gadis itu yang merasakannya, Lelaki dihadapannya merasakannya hal yang sama. Debaran jantung terasa begitu kencang.


Keduanya berada diruang yang sama, tak ada ekpresi apapun dari mereka. Saling terdiam, saling menatap, suasana pun terlihat tegang. Tak lama Ina membersihkan gelas yang pecah tanpa memperdulikan lelaki yang didepannya.


"Ada apa?" Suara wanita seperti terkejut.


Ina menatap pakaian Alena yang hanya menggunakan kimono tidur. Tak jauh kontras dengan Alam yang memamerkan roti sobeknya dengan pinggang berbalut handuk putih.


Dengusan kecil terdengar dari bibir tipisnya. Pandangan bergantian dengan keduanya. Sudut simpul yang berputar di otaknya. Ina menghempaskan tubuhnya di sofa. Kakinya bersilang layaknya seorang nyonya besar yang akan memarahi bawahannya.


"Eh, onty Ina." Rio muncul mencairkan ketegangan di ruangan tersebut.


"Kak Rio, ajakin aku sauna dong." Ajak Alena.


"Boleh? mau nya kapan?"


"Sekarang aja gimana? Aku siap-siap dulu." Alena masuk ke kamar.


"Suaminya nggak diajak tuh? Sayang, lo jauh jauh bulan madu. Pergi ke sauna sama cowok lain." Sahut Ina dengan sinis.


"Hehehehe ... itu bukan istrinya, onty Ina. Mereka ..."


"Rio itu susu jahe kamu." Ina menunjuk susu jahe di meja kitchennya.


"Onty yang buat?" Tanya Rio


"Kak Rangga yang buat. Astaga aku ninggalin kak Rangga sendirian di sana." Ina meninggalkan kediaman Rio.


Alam terdiam sejenak. Nama Rangga sukses membuatnya tak karuan. Lama tangannya meremas spoon sabun seakan tersirat kemarahan yang mendalam. Pikirannya melayang saat membayangkan kemesraan diantara keduanya. Rasa curiga yang pernah ditakutkannya pun bergulir dipikirannya.


Sudah kuduga tujuan Ina ke Jepang bukan hanya untuk kuliah. Dia dan Rangga sudah merencakan jauh-jauh hari agar leluasa berduaan. Batin Alam sambil membanting spon sabun yang sedari tadi dimainkannya.


Selesai mandi, Alam duduk di sofa memperhatikan isi rumah tersebut. Langkah terhenti didepan pintu, antara berani atau tidak terbersit untuk mendatangi Ina. Lagi-lagi keraguan menyerangnya. Melihat sikap Ina yang cuek dan ternyata menyimpan Rangga.


"Kakak pulang dulu, ya." Pamit Rangga di depan pintu Ina.


"Iya, kak. Makasih udah sempatkan kesini."


Rangga menghilang dari hadapan Ina. Ina menyandarkan pintunya. Helaan nafas panjang keluar dari bibir tipis. Pertemuan yang tak terduga sungguh membuatnya tak tenang kali ini.


"Bagaimana mungkin dia disini? Ah, iya dia bersama Alena. Iya aku paham sekarang, kalau dia saja bisa move on dari Gita, tidak menutup kemungkinan dia juga bisa cepat move on dariku. Dasar Alam!


Jangan-jangan benar kata Kak Yulia kalau Alam pernah selingkuh dengan sekretarisnya." Geram Ina.


Ting Tong

__ADS_1


Ina membuka pintu rumahnya. Berdiri seorang lelaki yang memakai kaos membentuk lekuk tubuhnya. Keduanya saling mematung menetralisir debaran rasa yang mereka rasakan.


"Boleh saya masuk?"


"Silahkan." Ina menduduki sofa diruang tamu. Diikuti Alam yang memilih duduk disebelah Ina.


"Na."


"Kenapa kamu ke jepang? Kenapa harus di tempat Rio?"


"Aku pengen dengar dari kamu soal hubunganmu dengan Rangga."


"Emang apa urusannya denganmu? Ingat lam, kita sudah putus. Jadi kamu nggak ada hak buat ngelarang aku buat dekat dengan siapapun."


"Aku ..."


"Kita sudah sudah putus, Lam. Ngapain kamu sampai nyusul kesini?"


"Aku kesini untuk Gita. Aku kesini sesuai dengan amanat Gita."


"Oh, jadi belum move on." Ina mendengus kesal. Seketika memalingkan wajahnya ke lain arah.


"Bagaimana aku bisa move on, kalau semuanya ada dalam dirimu!"


Ina membuka pintu rumahnya. Menyilahkan Alam keluar. Namun lelaki itu tak sedikitpun beranjak dari tempat duduknya.


"Aku tidak pernah menyiksamu." sanggah Ina.


"Lalu yang kamu lakukan ini apa, Na? kamu pergi tanpa pamit, kamu hilang tanpa kabar itu sudah menyiksaku. Tapi saat pertemuan ini sikapmu malah begini. Kamu malah sibuk berduaan dengan Rangga."


"Keluar! Sebentar lagi kak Lia sampai." Ina mendorong tubuh Alam keluarga dari tempatnya. Tangan Alam malah menarik tubuh Ina. Jarak yang begitu dekat dibelakang pintu membuat gadis itu salting.


"Kamu tahu aku jauh sampai kesini untuk siapa? untuk seseorang sudah lama aku cari.Untuk seseorang yang menjadi penguatku selama aku mengenalnya."


"Lam, please."


"Apa, Na? Selama aku masih bernafas, selama aku yakin kalau cintaku masih bermekaran disini, aku tidak akan menyerah, Na. Meskipun nyawa taruhannya. Lihat aku, Na. Apakah kau mencintaiku, Karina Permata Gunawan."


"Please, hargai keputusanku. Aku tidak bisa melanjutkan tentang kita. Maaf bagiku kita sudah selesai." Ina menguraikan tubuhnya dari dekapan Alam.


"Benarkah? Tapi aku tidak merasa kamu seperti itu." Alam tidak yakin ucapan Ina berdasarkan dari hati.


"Oke, Maaf. Jika memang itu keputusanmu aku bisa apa." Alam melepaskan diri lalu meninggalkan Ina.


Huft!


Aku harus bagaimana!

__ADS_1


Ting tong


Ina membuka pintu karena memang belum beranjak sejak Alam keluar.


"ada apa?"


"Aku cuma mau menjelaskan kalau antara aku dan Alena itu cuma sebatas pekerjaan saja. Tidak lebih."


"Sudah ngomongnya."


"Belum!"


"Aku cuma mengabari kalau aku sudah menemukan pemilik jantung Gita."


"Lalu?"


"Aku akan menikahinya sesuai janji wasiat dengan Gita."


"Sudah"


Braaaaakkkk!


Tok Tok


Ina mendengus kasar dan membuka pintu sambil memaki.


"Alam please jangan ganggu..." Ina terdiam melihat siapa yang berdiri di depan pintu.


"Kaaa...kak!"


*


*


*


*


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2