Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
129. Kamulah orangnya


__ADS_3

Setelah satu minggu menjadi penunggu kamar VIP rumah sakit. Alam akhirnya diperbolehkan pulang. Marni dan Alena membereskan barang Alam. Sementara lelaki itu hanya duduk di dekat jendela. Matanya terus melirik arlojinya. Seakan ada yang ditunggunya.


"Lam" Sapa Bobby.


"Iya, pa."


"Soal undangan Tuan Okada biar papa dan mama yang datang. Kamu istirahat saja di hotel."


"Aku balik ke apartemen Rio, pa. Barangku ada disana. Aku juga datang, pa. bukannya besok acaranya."


"Kamu belum benar benar fit, Lam. Istirahat saja dulu sekalian luangkan waktumu bersama Shasa, dia kangen banget sama kamu,nak. By the Way apakah Ina tahu kamu pulang hari ini?"


"Tahu, pa. Ini aku lagi nungguin dia." Lagi-lagi Alam melirik arloji.


"Lam, papa senang kalau kamu benar-benar serius dengan Ina. Papa tahu kalau dia adik mertuamu, tapi bukannya cinta itu luas, tidak mengenal batasan umur, tidak mengenal batasan status, cuma satu pesan papa. Jatuh cinta boleh, tapi jangan lupakan Shasa. Dia butuh kasih sayang ekstra dari kamu, nak.


Kami ini sudah tua, tidak bisa sepenuhnya bersama Shasa, Jenny dan Reki. Kalian anak-anak papa juga harapan papa."


"Iya,pa. Sudah pasti Shasa nomor satu." Jawab Alam.


Marni menginstruksikan untuk bersiap pulang. Shasa muncul bersama Diah berlari mendekati ayahnya. Kerinduan ayah dan anak menjadi euforia bagi siapapun yang melihat.


"Yayah, uang yuk. ingin, yah. ( Ayah, pulang yuk. Dingin, yah)."


"Ayok" Alam menggendong putri semata wayangnya dengan mendudukan diatas kepala.


"Jangan gendong kayak gitu, Lam. kamu kan baru sembuh. Nanti kalau oleng cucu ibu kenapa-kenapa." Marni mengambil Shasa dari gendongan Alam.


"Ak au. Ca, au ama yayah" Protes Shasa.


"Nah, kan, bu. Shasa mau nya sama ayahnya."


"Huft. Kalian ini satu karakter, sama sama susah dikasih tahu." Gerutu Marni.


Alam hanya menyengir. Sejauh ini dia melihat karakter Shasa memang lumayan keras kepala, apa yang dia mau harus dapat. Alam paham Shasa masih 1,4 tahun, belum paham mana yang salah mana yang benar. Gadis kecil itu mengambil tangan Alena dan ayahnya untuk digandeng bersama.


"Ate ayen itut ca ma yayah, ya." Ucap Shasa menarik Alena berjalan bertiga dengan ayahnya.


"Mereka serasi, ya." Bisik Marni pada suaminya.


Bobby menjelit kearah Marni. Tak lama lelaki usia 50-an tersebut menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Bagi papa kebahagian Alam bukan sekedar siapa yang menjadi pendampingnya. Yang papa tahu kebahagiaan Alam adalah mendukung apapun yang dia lakukan selama itu positif. Termasuk mendukung hubungan dengan pilihan hatinya. Mama tidak lupa bagaimana kamu dulu mati-matian menjodohkan Alam dan Keisya. Cuma karena mama tidak mau Alam balik sama Gita, tapi hasilnya apa? mereka tetap menikah walaupun mama beribu cara memisahkan mereka. Dan maut yang memisahkan mereka."


"Selama Alam tinggal bersama kita, aku belum pernah melihat kamu mendukung semua keinginannya. Kamu diam saat Alam ditangkap dan dipenjara. Padahal kamu yang bekerjasama dengan ibunya Boy untuk merubah wajah Alam saat itu. Kamu juga yang buat keluarga Gunawan Ilfeel dengan anak kita, karena kebencianmu pada Gita.


Sekarang kamu mau jadi Marni yang dulu. Katanya kamu mau berubah, akan mendukung semua keinginan Alam.


Jangan menyesal jika suatu saat Alam memilih jauh dari kamu. Tidak lagi mendengarkanmu, karena kesabaran ada batasnya."


Tambah Bobby mengingat sikap Marni yang terlalu ikut campur dalam kehidupan Alam.


Ina berjalan menuju lift menuju lantai 4 di rumah sakit. Sepanjang perjalanan Ina membereskan dandanannya karena Alam akan pulang ke apartemen Rio. Selesai membenahi dandanan, Ina sesekali menghela nafas. Sedikit rasa grogi karena sudah pasti akan bertemu Marni. Mengingat kemarin dia sempat berselisih paham dengan ibu dari kekasihnya.


Ting!


Terdengar pintu lift terbuka. Menandakan akan ada penumpang lain yang akan masuk. Ina yang tadi semangat dan riang mendadak terdiam melihat siapa yang masuk. Dengan cepat menyembunyikan diri dibelakang beberapa penumpang lain. Matanya tidak lepas dari sepasang wanita dan lelaki yang sedang bersama seorang anak.


Alam melihat bayangan Ina dari pantulan lift lalu menoleh ke belakang. Memang benar, Ina membalikan tubuh agar tak terlihat. Ada rasa tak enak karena menggandeng Alena, itu karena permintaan Shasa. Alam pun membisikkan sesuatu pada Alena. Tak lama Alena pun keluar dari lift padahal belum sampai ditujuan.


",excuse me " Pamitnya pada wanita didepan Ina.


Perempuan itu pun menggeser tubuhnya. Posisi Alam tepat dibelakang Ina. Ina melihat Alam dari pantulan dihadapannya. Segera berbalik, Alam merapatkan tubuhnya pada gadis itu.


"Kamu mau ngapain?" Lelaki itu semakin intens mendekati wajahnya, tak pelak membuat Ina langsung mendorong Alam. Dia masih kesal dengan apa yang dilihatnya barusan.


"Susul saja Alena sama Shasa kasihan mereka menunggu." Ina terpaku saat punggungnya tertutup dada bidang lelaki itu.


"Na."


"Sepertinya Shasa sudah nyaman sama Alena. Alena gadis yang baik. Dia cantik, sempurna, pintar, pokoknya Alena paket lengkap. Tante Marni juga suka sama Alena.


Sementara aku..."


Alam memeluk Ina, tangannya membelai pucuk rambut kekasihnya.


"Maaf jika hal tadi menyakiti perasaanmu. Kamu tahu, Na.bagiku kamu adalah wanita sempurna dalam hidupku. Tak perlu cantik atau pintar, cukup membuat aku bahagia dan Shasa bahagia itu sudah cukup sempurna." Alam mencoba meyakinkan Ina yang cemburu.


"Tapi... Tante Marni dan kakakku..."


"Walau badai menghadang. Tetap kita lebih selalu bersama, susah senang kita hadapi bersama. Meskipun jalan terjal berliku. Kamu tahu, Na, sejak aku tahu siapa pemilik jantung Gita. Aku semakin yakin kalau dia memang disiapkan untukku."


Ina melepaskan diri dari dekapan Alam. Mendengar penerima jantung gita membuatnya malas untuk membahasnya.

__ADS_1


"Kalau memang kamu sudah menemukannya? kenapa kamu masih mendekatiku? kenapa masih memberiku harapan?"


"Karena orang itu adalah kamu!" Jawab Alam.


Ina tertawa mendengar ucapan Alam. Dia menganggap ucapan Alam hanya lelucon semata "Nggak usah ngaco deh!"


"Tanya sama Mama Yulia. Dia tahu soal ini. Tanya sama Ilham kalau tidak percaya." Alam masih meyakinkan Ina.


Ina berjalan menjauhi Alam. Antara percaya tidak percaya, itulah yang dirasakan sekarang.


"Na"


Tangan Ina masih memberi tanda agar Alam menjauhinya. Ina mencoba menenangkan diri setelah mendengar pengakuan Alam. Mereka sampai di rooftop taman rumah sakit. Ina berjalan tanpa memperdulikan lelaki itu mengikutinya.


"Kamu bilang seperti itu hanya untuk merayuku." Jawab Ina.


"Tidak. Aku bilang ini memang faktanya begitu.


Aku mencintaimu jauh sebelum aku tahu tentang jantung itu.


Aku mencintaimu sejak kejadian di vila dulu. Hanya..."


"Hanya apa?"


"Hanya aku saat itu masih takut membukanya karena janjiku pada Gita untuk tidak menikah lagi."


"Na, Maaf jika aku mendadak melakukan ini. Aku hanya ingin kita punya ikatan pasti, sebagai tanda aku serius sama kamu. Aku adalah Ronal Wassalam, seorang lelaki dari Jambi. Aku sebenarnya bukan anak orang kaya, aku anak tiri papa Bobby, ya walaupun ayah kandungku adalah adiknya papa Bobby. Aku duda punya anak satu, yang jatuh cinta pada seorang gadis, adik dari mama mertuaku, bibi dari istriku dan oma mudanya anakku."


Alam membungkuk dihadapan Ina. Membuka sebuah kotak merah berbentuk hati.


"Karina Permata Gunawan..... Will you marry me?"


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2