
Di Kediaman Gunawan
Bulan pun sudah mengakhiri masa kerjanya digantikan oleh matahari. Sang gelap pun sudah terang benderang.
Ina pun terbangun dari tidur nyenyaknya. Tangannya dinaikan untuk meregangkan otot tubuhnya. Tubuhnya sedikit terasa lemas, seperti sakit.
Otaknya mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Tapi sayangnya dia tak bisa mengingatnya. Dikesampingkannya pikiran itu. Ina pun membersihkan diri ke kamar mandi. Matanya membulat ketika melihat jam di handphonenya.
"Astaga jam 9! telat aku ke kantor!" Ina buru-buru masuk kamar mandi. Terbayang dipikirannya lekuk wajah Alam ketika dia datang terlambat.
"Tapi kenapa aku harus takut sama dia sih! Kan dia itu menantuku kakakku, jadi otomatis dia harus bersikap hormat juga padaku." Ucap Ina tersenyum ketika membayangkan Alam dimarahi Yulia.
Selesai berbenah diri, Ina turun ke bawah disambut dengan cercaan Yulia.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Na?"
"Ma! Ina baru sadar jangan dikasih pertanyaan dulu" Dul memotong pembicaraan istri dan adik iparnya.
"Iya, maaf, pa. Oh ya, na. Kakak sudah bilang ke Alam kalau kamu tidak lagi bekerja di kantor Spencer. Kamu fokus dengan rencana kuliah kamu dijepang."
"Ina kuliah disini aja, kak. Nggak jadi ke jepang."
"Nah, itu ma. Ina sudah punya keputusan dia akan kuliah disini."
"Nggak, pa! Ina tetap di jepang. Disana Rio anaknya Maudi yang akan mengurus keperluan Ina disana. Dan kamu, Ina, ini keputusan kakak yang tidak bisa kamu bantah. Paham!"
"Apa kakak sudah tidak mau menampung Ina lagi? sampai kakak mengirim aku ke jepang? Ina minta maaf kalau memang kehadiranku di rumah ini memberatkan kakak."
"Bu..bukan itu maksud kakak, na? Kakak cuma mau yang terbaik untuk kamu. Itu saja."
"Padahal semenjak disini aku benar-benar menemukan keluarga sesungguhnya. Sejak kecil yang benar-benar menyayangiku cuma bi Narsih dan Pak Budi. Setelah barulah papa Aryo yang masuk sebagai keluarga, menyayangiku seperti anak sendiri." Keluh Ina.
"Na, maafkan kakak. Kakak sayang sama kamu. Kamu adalah adik kakak satu-satunya setelah Jody meninggal dunia."
"Jody?"
"Iya, dulu kakak dua bersaudara. Jody itu suka balapan waktu remaja. Dan Balapan itu yang merenggut nyawanya. Saat itu usianya masih 16 tahun. Papa sayang sekali sama Jody yang digaung sebagai pengganti dirinya. Waktu ketahuan balapan papa pun tidak marah karena menganggap biasa sebagai lelaki sejati."
Ina menunduk. Lalu mengaitkan cerita yang dia dengar kalau papanya sangat menginginkan anak laki-laki.
__ADS_1
"Pantas saja dia menceraikan mama. Karena aku bukanlah anak yang dia harapkan. Apalagi sejak aku kelainan jantung. Untunglah ada yang baik hati donorkan jantung."
"Bentar, Na? kamu pernah operasi donor jantung? Kapan?" Dul tertarik mendengar cerita adik iparnya.
"Udah lama itu kak Dul. pas baru lulus SMA."
"Siapa yang menangani operasimu, Na?" Dul masih penasaran.
"Kak Dodo." Jawab Ina singkat.
"Oh Dodo yang mantanmu itu." Tebak Dul.
"Iya, kak." Jawab Ina sambil melahap nasi gorengnya.
Aku kira yang menangani Ina adalah Ilham. Tapi kan yang donor jantung banyak lo. Tapi entah kenapa aku merasa melihat Gita dalam diri Ina. Entahlah, karena yang aku tahu semirip-miripnya seseorang pasti sifatnya tidak akan sama. Kembarpun bertolak belakang. Batin Dul.
"Na, kakak hari ini mau ada arisan sama teman-teman. Kamu mau ikut?" Ajak Yulia.
"Nggak, kak. Aku mau dirumah saja." Tolak Ina langsung kembali ke kamar.
"Ma, please jangan tanya Ina macam-macam dulu."
"Iya,Pa. Maaf soal tadi. Aku juga nggak ada maksud menyinggung Ina. Sudah pa, aku mau siap-siap dulu." Yulia pun meninggalkan suaminya di meja makan.
"Pak, ada den Reza dan non Angel diluar." sapa Bibi membuat lamunannya buyar.
"Suruh masuk terus panggil Ina." Titahnya.
"Baik, pak." Bibi pun menjalankan tugasnya.
Reza dan Angel duduk dikursi ruang tengah. Tak lama Ina muncul menemui kedua tamunya. Reza dengan memeluk Ina mengucapkan rasa bersalahnya atas kejadian tadi malam.
"Apa yang sebenarnya terjadi, kak Eja?" Ina benar-benar tak ingat kejadian tadi malam.
"Kamu dan kak Reza semalam jadian. Saking bahagianya kamu sampai kecebur ke dalam kolam. Kak reza keren banget, Na. Dia nyelamatin kamu dan ngasih nafas buatan untuk kamu. Benar-benar lelaki gentle." Puji Angel.
"Aku ngomong sama kak Reza.Bukan sama kamu, Ngel. Lagian kalian kok kompak. Terus ngapain kamu kesini. Kalau kamu mau ketemu Alam, noh dirumahnya!"
"Entahlah, Na. Aku merasa tidak asing dengan rumah ini. Seperti ada magnet yang menarikku untuk tetap di rumah ini." Ucap Angel seolah menjiwai perannya.
__ADS_1
Ina tidak peduli dengan ucapan Angel. Dia pun bersikap seolah Angel memang tak nampak disekitarnya.
"Apa yang Angel ucapkan benar, na? Maaf kalau aku lancang, soalnya itu darurat."
"Makasih, kak sudah menyelematkan aku." Ucapnya sambil tersenyum.
Apakah benar aku dan kak Reza sudah jadian? Ya, Allah bagaimana ini? Tapi mungkin aku coba jalani dulu.
Apakah dia yang menyelematkanku dan memberi nafas buatan? Ya Allah apakah Engkau memang menakdirkan aku dengan kak Reza. Tapi kenapa aku tidak bisa merasa apapun padanya. Ah, mungkin lambat laun aku bisa belajar mencintai kak Reza.
Beberapa saat kemudian Ina sudah duduk dimobil bersama Reza. Sebagai permintaan maaf hari ini Reza mengajaknya untuk jalan-jalan kemana pun Ina mau.
Pilihan mereka tertuju pada sebuah Mall besar di jakarta. Reza beberapa kali mencoba menggandeng Ina. Sayangnya, Ina menolak dengan alasan malu dilihat orang banyak.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Reza saat mereka di sebuah resto.
"Aku mau eskrim coklat." Jawab Ina.
"Ya udah. Aku pesan dulu, ya. Kamu disini jangan kemana-mana."
"baik, boss." Reza mengacak rambut Ina.
Buggggh!
"Bangsat kamu, za!" Tiba-tiba bogem mentah melayang diwajah mulus Reza.
"Apa-apaan ini!" Amuk balik Reza.
"Aku kira kamu memesan Resto untuk mengajak mantan istrimu bertemu. Tapi ternyata kamu membawa Ina ke sana."
"Emang kenapa kalau aku bawa Ina? dia single aku pun single. Salahnya dimana?" Tantang Reza.
"Salahnya orang brengsek seperti kamu tidak pantas untuk Ina." Tangan itu mengcengkeram kerah baju Reza.
PLAAAAAAAK
"Siapa kamu yang berhak mengaturku dekat dengan siapa?"
"Na, aku kakakmu tanggung jawabku atas amanat papa Aryo dan mama Kania."
__ADS_1
"Kamu bukan kakakku. Kakakku yang sebenarnya adalah Yulia Gunawan. Dan satu lagi, jangan pernah macam-macam pada calon suamiku. Urus istri jangan campuri lagi urusanku!" Ina menarik Reza dari hadapan Rangga.
Dari belakang Reza tersenyum menatap Rangga.