
Rangga menghempaskan tubuhnya diatas ranjang miliknya. Merenungkan permintaan Yulia untuk meresmikan hubungan mereka. Memang yang sudah lama ditunggunya, tapi bukan dalam momen yang seperti ini. Saat ini Rangga memang menempati apartemen baru, karena yang sekarang lebih dekat dengan apartemen Ina. Sesekali Rangga menghela nafas panjang lalu memenjamkan mata sejenak. Apa yang harus dia lakukan? Kenapa dia masih bertahan mengejar Ina. Padahal jelas-jelas Ina sudah tak ada rasa lagi untuknya.
"Ini bukan cinta Rangga, kamu hanya terobsesi." Kata kata Raya, sang mama terus terngiang di pikirannya.
Raya selalu memperingatkan Rangga agar membedakan mana cinta mana sayang. Tapi Rangga saat itu tetap kekeuh merasa yang dirasakannya adalah cinta bukan sayang. Dia juga meyakini kalau Ina juga mencintainya. Buktinya, gadis itu menerima cintanya. Rangga pun menyadari dia tidak jujur soal perjodohan itu. Hal itulah yang menjadi bom waktu bagi hubungan mereka. Hingga mereka kembali bertemu dikantor tempat Reza bekerja. Pertemuan itu yang membuatnya mantap mengejar kembali cintanya. Tapi sepertinya sudah terlambat, hati Ina bukan untuknya lagi.
Rangga bangkit dari pembaringannya. Mengambil kunci mobilnya dan jaket tebalnya. Dalam pikirannya dia harus menjelaskan perihal hubungan mereka. Di dalam mobil Rangga pun mencoba mengikhlaskan adiknya dan meneruskan wasiat papanya.
Ting tong ...
Ceklek!
Pintu pun terbuka. Ada Yulia menyambut kedatangannya dengan ramah. Rangga pun dipersilahkan masuk dan duduk di sofa. Yulia pun memanggil adiknya untuk menemui Rangga.
"Tante!" Panggil Rangga.
"Iya" Jawab Yulia.
"Saya ingin bicara dengan tante dan Ina."
Ina dan Yulia saling berpandangan lalu mengiyakan permintaan Rangga. Tak lama mereka sudah duduk didepan Rangga.
"Om Dul mana?" Basa basi Rangga.
"Dirumah sakit, nemenin menantu kesayangannya." Jawab Yulia dengan ketus.
"Oh, gitu."
"Jadi kak Rangga mau bicara apa?"
"Na, aku tahu kamu dan Alam saling mencintai. Ya, awalnya aku tidak percaya akan hal itu, dan masih yakin masih ada terselip cinta untuk kakak. Tapi sepertinya sekuat apapun aku berjuang, kita tidak akan bisa bersatu, Na." ucap Rangga sambil menggenggam kedua jemari Ina.
"Maksud kamu apa, Rangga? Kamu mau mempermainkan adikku lagi! Saya pikir kamu benar-benar serius pada Ina." Berang Yulia.
"Tante Yulia, aku sangat mencintai Ina. Sampai saat ini masih besar cintaku pada Ina. Tapi....Kami tidak akan pernah bisa bersama. Bukan karena tidak direstui mama dan bukan karena Alam. Tapi, haram bagi kami untuk bersama. Karena ada ikatan yang sudah tergaris dalam darah kami."
__ADS_1
"Ma..Maksud kakak apa? oke kita memang saudara tiri, tapi kan jauh dari hubungan darah."
"Iya, Rangga. Jangan berbelit belit, langsung saja pada intinya." Yulia menimpali ucapan Rangga.
"Na, dulu waktu kamu bayi, tante Kania tidak pernah memberimu ASI. Saat ada pekerjaan, Tante Kania suka menitipkan kamu ke mamaku. Saat itu mama adalah senior di klub model mereka. Bahkan mamalah yang mengenalkan Papa kandungmu dengan tante Kania. Setiap kamu rewel, mamaku lah yang memberikan ASI buat kamu, Na. Kita ... kita saudara sepersusuan, Na."
"Ngaco kamu, Rangga. Ini cuma alasan kamu buat ninggalin Ina." Yulia masih belum percaya ucapan Rangga.
"Awalnya aku juga tidak percaya dan mengira kalau itu cuma akalan mama saja. Tapi waktu aku mengorek dari bi Narsih, beliau membenarkan fakta itu." Jelas Rangga.
"Na." Yulia mengorek reaksi adiknya.Tampak gadis itu tenang seolah menerima semua cerita Rangga.
"Kak, kalau memang begitu kisahnya ya mau gimana lagi. Aku terima status hubungan darah kita. Yang pasti semua rahasia diantara kita sudah tidak ada lagi. Hanya satu yang masih mengganjal? Apa papa Aryo sudah tahu soal itu?"
"Papa sudah lama tahu. Sebenarnya papa menikahi tante Kania bukan karena cinta, melainkan dia ingin kamu merasakan kasih sayang seorang ayah. Karena dia tahu kamu adalah adik sepersusuanku, makanya papa menikahi mamamu."
Yulia yang mendengar cerita itu hanya terdiam. Rencananya untuk mendekatkan Ina dan Rangga telah hancur. Yulia tidak ingin Ina bernasib sama seperti Gita. Manusia bisa berencana tapi sepertinya Allah berkehendak lain.
"Kak" Sapa Ina.
Kenapa Ya Allah, kenapa putriku dan adikku malah mencintai lelaki yang sama.
Dia memilih mengurung diri di kamar, tangisannya pecah, dia butuh suaminya untuk menumpahkan semua beban didadanya. Ina mendengar tangisan kakaknya langsung menelepon Dul karena kamar dikunci dari dalam kamar.
"Kakak kenapa?" Ina cemas mendengar tangisan Yulia.
"Kalau kakak marah sama aku karena tidak jadi sama kak Rangga. Seharusnya kakak bersyukur karena kalau kami tetap melanjutkan jatuhnya dosa, kak."
"Tapi kalian juga dosa kalau tetap bersama." Sanggah Yulia.
"Kalian maksud kakak siapa?"
"Kamu dan Alam, Na. Dalam dirinya mengalir darah Shasa dan Dalam dirimu juga mengalir darah Shasa. Paham, kan."
"Tapi kak aku bukan ibunya Shasa, kak."
__ADS_1
"Tapi dalam tubuh kamu ada jantung...."
"Jantung? jantung siapa,kak?" Ina masih belum paham dengan penjelasan sepotong dari Yulia.
Ya Allah aku hampir keceplosan. Batin Yulia.
Klik
Di apartemen milik Rangga
"Mama kesini tidak mengabari?" Sapa Rangga ketika melihat Raya yang sedang memasak didapur.
"Kan bukan suprise namanya." Jawab Raya sambil cupika cupiki pada putra semata wayangnya.
Rangga cukup kaget dengan kemunculan Raya di apartemennya. Wanita berusia paruh baya tapi tidak tampak menua di wajahnya. Selesai masak Rangga dan Raya makan bersama. Momen ini sangat dia rindukan sejak dirinya sering bolak balik jepang Indonesia. Perusahaan Thunder milik Aryo yang bergerak dibidang elektronik. Perusahaan yang selama ini ditangani Opa Takeru, ayah angkat Aryo. Sejak Takeru meninggal Ranggalah yang turun tangan terhadap semua urusan perusahaan. Bahkan waktu kebersamaan untuk keluarga pun sudah berkurang.
"Ga.."
"Iya, ma."
"Mama punya satu permintaan? mau kah kamu memenuhinya."
"Apa itu, ma?"
"Menikahlah, Nak. Mama ingin sekali menimang cucu. mama tahu kamu masih menunggu Ina, tapi kalian tidak mungkin bisa bersatu, nak."
"Mama ini ada saja, Rangga kan jomblo, ma. Sama siapa Rangga kalau.."
"Menikahlah nak, dan terimalah Laras sebagai calon istrimu."
"La... Laras! Mama nggak salah! Mama kan tahu kalau Laras itu sahabat Ina. Sudah seperti adikku sendiri. Apa Laras yang meracuni otak mama! masa dari Jihan jatuh ke Laras."
"Rangga! kamu nggak boleh begitu. Laras tidak pernah meracuni otak mama. Tapi mama yang meminta Laras menjadi istrimu. Ini sudah menjadi pertimbangan keluarga, Ga. Kamu coba dulu kalau selama 6 bulan kalian tidak bisa saling mencintai kamu dan Laras boleh bercerai. Mama mohon, nak. Ini permintaan mama yang terakhir."
"Baiklah akan aku coba." Jawab Rangga.
__ADS_1