Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
50. Keadilan untuk Ina 1


__ADS_3

Ina duduk di depan jendela memandang langit yang mulai menghitam. Akhir-akhir ini jakarta sering di guyur hujan lebat. Tapi untungnya tidak lagi menyebabkan banjir.


"Na.." Suara Yulia membangunkan dirinya dari lamunannya.


"Iiiya, kak." Ina mendekati perempuan yang mengaku sebagai kakak kandungnya walaupun mereka lebih pantas menjadi ibu dan anak.


"Kamu yakin mau pindah kuliah?"


Ina meneguk air mineral yang ada dinakas dekat lemari. Kepalanya menunduk lemah, lalu mengangguk menandakan bahwa dirinya ingin pindah kuliah.


"Kenapa?"


"Aku pengen cari kampus yang dekat aja,kak." Jawabnya singkat.


"Ya, udah kalau memang itu keinginan kamu. Kakak nggak bisa maksa, padahal kampus kamu yang sekarang itu bagus, lo."


Ina hanya tersenyum kecut. Ada sesuatu hal yang membuatnya bertekad menyudahi semuanya. Walaupun dia tahu, seberapa jauh dia berlari julukan itu tetap akan melekat pada dirinya.


Dengan hati yang lumayan kalut, Ina berjalan keruang makan. Pikirannya tak bersarang hingga menabrak meja makan. Yulia menatap sang adik yang sedari tadi tak fokus, pikirannya kembali mempertanyakan apa yang terjadi pada gadis 19 tahun itu.


"Na, kakak perhatikan kamu dari tadi kacau banget. Sebenarnya ada apa, na?" Tanya Yulia


Ina menggeleng. Dia memilih bungkam, lalu duduk di kursi makan menyantap menu yang ada. Tak lama Ina kembali ke kamar dan menutup pintu kamarnya.


Universitas Indonesia


Pukul 10: 00


Yulia berdiri dikampus kuliah Ina. Guna mengurusi kepindahan Ina. Suasana kampus yang ramai karena sudah mulai semester baru. Dengan langkah mantap Yulia memasuki ruang dekan jurusan yang digeluti Ina.


"Tante." Panggil seorang gadis yang mencegah Yulia masuk ke ruangan dekan.


"Iya. Adik siapa?"


"Saya laras teman kuliahnya Ina. Bisa kita bicara sebentar tante." Laras menarik tangan Yulia untuk pergi dari ruang dekan.


Yulia dan Laras duduk disebuah kantin. Yulia penasaran apa yang sebenarnya akan diceritakan pada Laras. Terlihat mereka seperti ibu dan anak yang sedang berbincang hangat.


"Langsung saja nak laras. Apa yang mau kamu sampaikan pada saya?"


Laras bingung harus memulai pembicaraan darimana. Karena dia pernah berjanji pada Ina tidak akan mengadukan masalah itu ke keluarga Ina. Tapi saat Ina bilang mau pindah kuliah tentu saja dirinya makin yakin dengan keputusan Ina saat melihat Yulia akan menemui Dekan kampus.


Aku yakin Ina mau pindah pasti gara-gara masalah itu. Aduuuuh, Ina kenapa kamu mesti pindah sih. Keenakan mereka dong nantinya. Itu sama saja kamu memberi peluang menang ke mereka yang membullymu.

__ADS_1


Aku ngomong nggak ya sama tante Yulia. Ya Allah kok aku jadi gemetaran gini, ya.


"Laras?" Suara mama Yulia mengagetkan lamunan gadis itu.


"Sebenarnya apa yang mau kamu sampaikan, nak?" sambung mama Yulia.


"Ituu... anu ... tante .. soal Ina, tante."


Mama Yulia mengkerutkan dahinya. Dia masih penasaran dengan hal yang mau disampaikan teman adiknya itu.


"Inaaaa.. mau dikeluarkan dari kampus tante."


"Apaaaaa!" Pekik Yulia membuat orang-orang dikantin menoleh kearah mereka.


Maaf Ina, terpaksa aku beritahu yang sebenarnya sebelum tante Yulia dengar dari versi oranglain.


"Apa salah Ina sampai mau dikeluarkan dari kampus? Apa dia membolos? Terlibat skandal? narkoba atau apa?"


Lagi-lagi Laras hanya diam. Dia bingung bagaimana menjelaskan pada Yulia tentang masalah yang dihadapi Ina.


"Sebaiknya tante tanya langsung ke Ina apa yang sebenarnya terjadi?"


Mama Yulia akhirnya tetap menemui dekan kampus membicarakan kepindahan adiknya.


"Kamu suka"


Ina menatap sebuah prasmanan cantik didekat rumah pohon mereka. Rangga menuntun Ina duduk di kursi yang tersedia. Tangannya tak lepas dari genggaman lelaki itu. Suatu kejutan yang terindah yang tak akan dilupakannya.


"Makasih, kakak." Jawab Ina malu-malu. Wajahnya berubah menjadi merah merona ketika Rangga mengecup keningnya.


"Bisakah kau memanggilku dengan sebutan lain?"


"Maksudnya?"


"Panggilan lain, karena kita sekarang sepasang kekasih bukan lagi kakak adik."


"Hmmm.. Apa ya?" Ina mencoba berpikir tapi tetap saja susah.


"Terserah kakak aja deh. Aku ikut saja. Lagian kakak lucu, aku pikir kita bakal dinner direstoran mewah atau dimana. Nggak tahunya disini, tau gitu aku pakai baju yang tertutup."


"Na, kan namanya Dinner harus elegan. Hmmm... Gimana kamu aku love dan aku manggil kamu sayang."


Ina tersenyum dan memeluk Rangga dengan "Apapun itu asal bersama kakak aku bahagia. I love my love." Ina kembali bertumbu dibalik dada Rangga. Wangi khas parfum lelaki itu yang tak pernah berubah. Sejak dirinya pertama mengenal Rangga sampai sekarang.

__ADS_1


"Love you to, sayang." Rangga mengecup pucuk rambut Ina. Gadis kecil yang dulunya adalah adik tirinya, rasa tanggung jawab yang dulu diembannya sebagai kakak, berubah menjadi rasa cinta ingin memiliki.


"Na..."


"Hmmm.."


"Kamu mau kan menjadi ibu dari anak-anak kita nanti."


Ina hanya mengangguk. Saat ini dia merasa hati yang sedang berbunga-bunga disamping masalah kampus yang dihadapinya. Ina yakin ada hikmah dibalik semua ini.


Zreeeeet zreeeeet


Ina menatap layar pipihnya, wajahnya berubah kesal saat tahu siapa yang meneleponnya. Dengan malas dia mengangkat telepon tersebut.


"Halo, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, kamu dimana?"


" Lagi sama kak Rangga. Kenapa?"


"Pulang!"


"What, aku lagi sama kak Rangga. Aku pasti pulang nggak urusin kehidupan aku. Urus saja anakmu itu."


" hey! dengar, ya. Aku masih dalam hukuman menjadi bodyguardmu. Paham! Tunggu disana biar aku jemput. Lelaki dan wanita berduaan ketiganya ada setan."


" Iyaaa .... kamu setannya." Ina menutup teleponnya.


"Siapa sayang?" Tanya Rangga masih memeluk punggung Ina.


"Bukan siapa-siapa. Nggak penting, orang rese yang selalu mengganggu kita. Udahlah nggak usah dibahas. Makan yuk, kak. Laper nih, kasian hidangannya dari tadi dianggurin." Ina menarik Rangga kembali ke meja makan.


Maaf, na. Bukan maksudku ikut campur urusanmu. Aku hanya berusaha menjagamu seperti yang diamanatkan mama Yulia. Itu saja tidak lebih, asal kamu tahu, Ina, Rangga itu akan menikah dengan kak Jihan. Jika dia mencintaimu pasti dia akan melepaskan hubungannya dengan Jihan.


Na, kamu itu perempuan. Harus bisa menjaga diri dan punya harga diri. Kalau kamu perempuan baik-baik pasti kamu tidak akan mau pergi dengan lelaki yang belum muhrim.


Semoga kamu baik-baik saja.


Alam tadinya mencoba mengirimkan kata itu di ponselnya.Tapi diurungkannya karena dia merasa percuma, Alam yakin Ina takkan mau mendengarkannya.


Quote:


Karena tak selamanya perhatian itu berbentuk manis.

__ADS_1



__ADS_2