
Di teras kediaman Spencer berlangsung acara kumpul keluarga. Mereka memiliki teras rumah lebih luas dari rumah. Wajar saja, karena keluarga Spencer adalah keluarga terkaya no-4 se-Jakarta. Siapa yang tidak mengenal pengusaha tersebut, sosok Bobby yang dikenal bertangan dingin dalam mengelola perusahaannya. Namun, hal itu tidak berlaku bagi sang calon penerus, Alam masih menggunakan cara yang menurutnya benar. Kalau dulu Bobby suka menggunakan cara licik buat menghalau musuh, Alam hanya percaya jika memang itu rezeki maka tidak tertukar.
Alam mengibas ikan bakar yang sudah disiapkan Bi Suti. Ikan tersebut hasil pancingan milik duo opa Dul dan Bobby. Alam mulai merasakan pedih untuk mata akibat asap yang mengepul. Ina melihat suaminya kesulitan berniat menggantikan, sayangnya Alam melarang mengingat kaki Ina yang masih terkilir.
Wanita itu memilih duduk jauh dari keramaian. Memandang langit yang cerah bertabur bintang. Sesekali bibirnya menyunggingkan senyuman, terbayang suasana romantis saat memandang langit berdua.
Seketika dirinya merasa ada yang memegang pundaknya. Tentu saja yang datang ada suaminya, mereka ingin mengenang masa-masa saat pertama bertemu.
"Aku tidak pernah menyangka pada akhirnya aku berlabuh sama kamu, Mas. Bahkan dulu berpikir jatuh cinta sama kamu saja sudah malas." Ina memulai pembicaraan bersama suaminya.
"Sama. Aku juga tidak menyangka bakal jatuh cinta sama kamu, Na. Apalagi aku sempat berjanji tidak akan jatuh cinta lagi, setia sama Gita. Perjuangan aku dan Gita sangat berat bagiku saat itu, tapi semua berubah saat kamu datang. Aku mencoba mengelak kalau rasa itu tumbuh saat di Villa."
"Apa aku terlihat menyebalkan sampai kamu malas jatuh cinta sama aku?"
Ina mengatup mulutnya seakan menertawakan ekspresi suaminya. Sedikit kikikan membuat lelaki itu seakan ditertawakan oleh sang istri "Awas, ya di kamar nanti!" Bisik Alam.
Perubahan wajah Ina langsung mencuat saat Alam membahas soal kamar. Ina yakin suaminya masih menagih malas pertama mereka. Suasana malam semakin dingin mereka asyik bercanda ria seakan ada guratan bahagia. Dua insan yang sedang berbagia itu kembali berbaur dengan keluarga yang lain. Alam memapah istrinya yang masih susah berjalan.
"Na, Lam, kalian istirahat saja di kamar. Lam, ajak istrimu istirahat kasihan Ina kakinya masih sakit." Titah Bobby.
"Iya, pa. Yuk, sayang kamu istirahat di kamar." Ajak Alam.
"Aaa...ku... di sini saja... masih belum ngantuk." Tolak Ina.
"Disini dingin mending kita di dalam saja." Ina akhirnya menyanggupi keinginan suaminya.
Ina dan Alam akhirnya berjalan memasuki kamar mereka. Tubuhnya di rebahkan dalam kasur ukuran king size. Kasurnya dulu hanya berukuran 180 itu sekarang di ganti yang lebih jumbo. Itupun karena permintaan Gita, dia ingin tidur bertiga bersama sang anak.
Alam memilih sibuk dengan gawainya. Tak berani meminta ina macam-macam karena kejadian sudah membuat istrinya kesal. Sesekali melirik Ina yang sudah mulai mengantuk. Dengan cepat lelaki itu merebahkan kepala Ina, kedua mata mereka saling bertatapan. Tangan Ina mengelus pipi suaminya.
"Sayang" Ina memulai obrolan dengan suaminya.
"Iya, sayang." Alam meletakkan gawainya lalu merubah posisi duduknya.
"Kita sholat isya yuk. Setelah itu istirahat." Ajak Ina.
"Oke aku tuntun kamu ke kamar mandi ya?" Ina mengangguk.
Setelah berwudhu, Ina pun memakai mukena. Mereka sholat bersama. Bagi Ina sebelum melakukan apa pun janganlah tinggalkan sholat.
__ADS_1
Selesai sholat mereka saling bertatapan. Degup jantung terasa kencang ketika Ina merebahkan kepalanya di paha Alam. Tangan Alam menelisik ke wajah dan rambut istrinya. kecupan hangat meluncur dari bibirnya. Bukan hanya wajah tapi bibir mereka saling bertautan.
"Mas"
"Iya?"
"Baca doa dulu. Karena apa yang kita kerjaan harus dalam ridho Allah."
Allahumma baarik lii fii ahlii, wa baarik lahum fiyya. Allahummazuqnii minhum warzuqhum minni. Allahummajma' baynanaa maa jama'ta ila khairin, wa farriq baynanaa idza farraqta ilaa khairin.
Artinya: “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan kepada istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah kami (berdua) dalam kebaikan.”
Alam merengkuh bibir Ina. Merebahkan tubuh wanita itu, lalu meremas dada kecil Ina, pagutan semakin dalam. Pagutan berpindah ke leher hingga ke dada Ina. Layaknya seorang bayi yang meminum Asi ibunya. Terdengar lengguhan panjang dari wanita itu.
Baju mereka berserakan di lantai, dua kaki manusia saling bergesekan diatas ranjang. Tubuh mereka tak tertutup tanpa sehelai benangpun. Saatnya Alam melakukan pelepasan, Alam berusaha menggenjot bagian sensitif Ina.
Ina akhirnya menghempas tubuhnya yang mulai lemas. Rasa lelah pun dirasakannya sangat luar biasa, tubuhnya terasa remuk karena serangan yang diberikan Alam.
"Sayang, kamu sudah siap?"
"Aaaaawwwww .. sakit, mas."
"Punyamu sempit sekali,Na. Susah sekali masuknya."
"Bismillahirohmanirohim"
"Aaaaaaa....."
Terdengar rintihan Ina yang merasakan sakit luar biasa. Bukannya hanya itu dia merasa seperti ada aliran listrik yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Hiks .... hiks sakit sekali, Mas." Ina menangis karena kesuciannya sudah direnggut.
"Sayang, maafkan aku. maafkan aku, Na."
"Hiks ... hiks sakit, mas."
Alam merasa bersalah sudah membuat istrinya kesakitan. Masih terdengar tangisan dalam bibir mungilnya, Alam terus mencoba menenangkan istrinya. Mata Ina membelalak melihat bercak merah mengotori ranjang mereka. Bahkan Ina masih merasa bercak itu masih mengalir.
Kecupan lembut pun kembali mengalir dari bibir keduanya. Bagi Alam setidaknya dia sudah mencoba menenangkan Ina dengan cara ini. Sapuan tangan yang menjalar di punggung Ina membuatnya tertidur dalam belaian suaminya. Alam merebahkan tubuh Ina yang sudah terlelap. Tampak guratan kelelahan di wajah cantiknya.
__ADS_1
"Terimakasih, sayang." Alam mengecup kening Ina. Lalu tertidur sambil memeluk istrinya.
Pagi ini
Alam bangun setelah mendengar azan berkumandang. Ia langsung mengambil handuk untuk memasuki kamar melaksanakan mandi wajib. Sebelumnya Alam mencoba membangunkan Ina, tapi di urungkannya karena memikiran kondisi istrinya.
Waktu terus bergulir, Matahari sudah meninggikan cahayanya. Alam membuka gorden kamarnya, tampak Ina mulai mengerjap matanya silau dengan cahaya yang menembus.
"Pagi, istriku."
Ina membuka mata, Alam lelaki pertama dilihatnya. Dia berusaha bangkit tapi perih itu masih terasa. Bahkan kaki nya terasa kaku sekali.
"Pagi, mas." Ina mencoba bangkit tapi masih terasa sakit.
Alam duduk disamping istrinya. Tangan membelai pucuk rambut yang sudah sebahu, ada guratan rasa bersalah karena membuat istrinya kesakitan.
"Maafkan aku, sayang. Aku janji akan pelan-pelan."
"Aku maafin, aku mau mandi dulu, mas. Gerah!"
"Aaaawwww... Ih, mas turunin!" Ditengah kesakitannya Alam malah menggendongnya.
"Aku mandiin,ya?"
"Tapi bukannya kamu sudah mandi."
"Aku bisa mandi lagi kok. Kamu tenang saja."
Alam menduduk Ina didalam bathup. Ina melihat air mandinya sudah diberi bunga dan sabun wewangian. Ina pun merendam di dalam bathup, menikmati harumnya wangi-wangi bunga.
Alam pun dengan sigap menyirami pucuk rambut Ina. Memandikan layaknya seorang ayah pada anaknya.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
__ADS_1
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung