
POV Ina
"Apa kabar, Ina?"
OMG! Kenapa harus bertemu pria ini, sih.
"Baik ...Om."
Tenang, Na. Kamu harus tenang. Jangan terlihat bodoh didepan si lucnut ini.
"Sudah kelas berapa?"
Ngapain dia nanya kayak Gitu? Emangnya aku anak SD!
"Ina, yuk makan malam."
Huft, untung saja.
Hampir saja aku terhindar dari Om David. Heran, ya kok bisa malah ketemu sama dia. Sama lelaki yang hampir merenggut kesucianku, lelaki yang lebih disayang mama, lelaki yang pernah kabur membawa uang mama sebesar 500 juta. Sekarang dengan santainya dia muncul didepanku. Setelah semua yang dia lakukan pada mamaku. Huh! Dasar, awas saja kalau dia mau macam-macam padaku.
Saat aku duduk di meja makan. Semua mata memandangku, entah apa yang mereka pikirkan tentang aku. Seorang gadis asing duduk di meja makan keluarga besar tante Yulia.
"Ya ampun benar-benar mirip." Seorang wanita sebaya mamaku memegang pipiku.
"Kamu namanya siapa cantik?" tanya wanita itu yang tak melepaskan pandangannya ke arahku.
"Karina, tante. Panggil saja Ina."
"Ina, kamu benar-benar mirip dengan adikku, Gita." Ucapnya.
"Iyakah, Tante."
"Sudahlah,mari kita makan. Tante sudah lapar, nih, Grace, Ina."
Semua berkumpul dimeja makan. Sebagai orang asing, aku hanya bisa menyimak cerita mereka. Cerita tentang kantor, masa kecil Gery, tentang perkembangan Sasha, dan banyak cerita ringan lainnya. Tawa, canda yang bahagia, rasa kekeluargaan yang tinggi membuat aku merasa hangat. Itu belum pernah aku dapatkan dikeluargaku sendiri.
"Tante, Sasha mana?" Tanyaku memberanikan diri.
"Sasha dikamar sama papanya. Astaga, Alam pasti belum makan. Gery kamu panggil Alam, Biar dia makan." titah Tante Yulia.
Kulihat pria yang disebut berdiri keluar dari meja makan. Langkah kakinya menuju kamar ujung dekat pintu teras belakang.
"Oh, ya, nak David kamu bekerja dibagian apa?"
"Aku bagian pertambangan minyak, tante. Biasalah usaha kecil-kecilan."
Hueeeek!
__ADS_1
Rasanya aku mau muntah. Sejak kapan dia punya usaha. Dia aja dulu cuma morotin mama. Sok ngaku-ngaku kerja di tambang minyak.
Dasar penipu!
"Maaf tante. Ina mau kembali ke kamar. Ngantuk banget."
Aku pamit dari ruang makan. Selain tubuhku benar-benar lelah, aku juga muak mendengar bualan om David, mantan suami mama. Ah, Jika kubongkar didepan keluarga tante Yulia, rasanya kurang pas waktunya. Biarlah waktu yang akan membongkarnya, aku disini orang lain.
Kakiku terhenti saat Alam keluar dari kamar. Tatapan ketus yang selalu dia berikan. Kulihat Sasha masih tertidur diranjang. Kuberanikan diri untuk menemaninya.
Kasihan nanti dia jatuh kan berabe urusannya.
"Kamu balik kamar, biar aku yang temani anakku."
Saat aku keluar dari kamar
"Terimakasih sudah mau menjaga anakku."
POV author
Langit malam memikat hati Ina yang tadinya mengantuk. Suara lengkingan jangkrik memecahkan kesunyian malam.
Ina berdiri didepan jendela kamar yang sengaja dibukanya untuk menghirup wanginya bunga melati.
Bunga melati?
"Ngapain dia disitu? Bodo amatlah, bukan urusanku."
Ina tak beranjak dari jendela. Walaupun wangi melati semakin menyengat, dia sudah tak takut lagi. Mungkin karena merasa tak sendiri.
Matanya kembali memandang langit, menikmati hamparan bintang yang bertaburan. Mungkin besok pagi dia bisa menikmati keindahan di sekitar Villa. Tubuhnya yang berbalut jaket Wol berwarna hitam. Wangi melati seolah menjadi candu baginya.
"Hai, kita belum kenalan, namaku Grace." Grace muncul dikamar yang Ina tempati.
"Iya, tante Grace."
"Jangan tante lah, panggil aku kakak saja. Saya ini sepupu Gita. Mamaku dan Tante Yulia itu sepupu kandung. Masa kamu nyebut aku disamakan dengan tante Yulia. Tapi sumpah kamu mirip banget sama adikku. Suatu kebetulan yang luar biasa."
Ina hanya menyengir saat melihat sosok Grace didepan. Meskipun terlihat seperti umuran Rangga, tapi siapa sangka ternyata dia punya anak seumuran Gery. Mata Ina kembali melihat sosok yang masih termenung.
"Itu suaminya, Gita. Kamu tahu perjalanan cinta mereka lumayan rumit. Dipisahkan keadaan, Ditentang keluarga, bahkan mereka pernah hampir bercerai. Pesan kakak jika suatu saat kamu menikah carilah lelaki yang diterima keluargamu. Bukan sekedar mengandalkan cinta saja."
Ina menunduk lesu. Saat ini belum ada lelaki yang bisa menandingi kak Rangga. Bukan berarti dia ada rasa pada kakaknya, melainkan dia mencari kriteria yang menyerupai sang kakak.
Klik
Rumah Sakit Kasih Bunda
__ADS_1
Pukul 22:00 WIB
"Bagaimana, sudah bisa menghubungi Ina?" Ucap pak Budi
"Belum, bud. Dari tadi non Ina nggak aktif ponselnya. Ya Allah non Ina kamu dimana? Ibu kritis non."
Bi Narsih dan Pak Budi masih terus menghubungi Ina.
Suara detak jantung dimonitor rumah sakit terdengar sangat jelas. Tampak Kania terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Terdengar suara pendeteksi detak jantung yang menandakan masih ada kehidupan disana. Suara suara alat-alat rumah sakit semakin nyaring. Beberapa tusukan jarum kecil pada tulang siku jari kania.
Narsih duduk disamping majikannya, menatap pilu wajah pucat yang terbaring lemah. Ada kelegaan karena Kania cepat dibawa kerumah sakit dan langsung ditangani dokter.
"Keluarga Ibu Kania ..." Panggil suster diruang tunggu.
"Kami keluarganya, Dok." sahut pak Budi.
"Begini, setelah kami memeriksa keadaan ibu Kania. Kami menemukan paru-paru bocor dan HIV yang sudah stadium tinggi."
"Parah nggak dok."
"Usia ibu Kania bisa dalam hitungan jam."
Pak Budi kaget mendengar ucapan Dokter. Sementara sampai sekarang Ina tidak bisa dihubungi. Jangankan Ina, Rangga pun juga tak bisa dihubungi, pak Budi binggung harus mengabari siapa lagi.
"Bentar pak, HIV itu apa ya?" Tanya pak Budi yang masih asing dengan nama penyakit itu.
"virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang selanjutnya melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi dan penyakit." Jelas dokter.
"Pak Dokter, saya mau nanya? Disini bukannya ada yang namanya Dokter Dodo kan? Bisa kami bertemu dengannya." Tanya pak Budi yang teringat soal Dodo. Dia harap sosok yang dikenalnya bisa membantunya.
"Dodo tidak bekerja disini lagi." Jelas dokter.
"Kalau dokter Ilham?"
"Dokter sedang cuti karena mau menikah." Jelas dokter lagi.
"Masih ada yang mau ditanyakan lagi, pak, Ibu?"
"Tidak ada, dok. Terima kasih."
Dokter pun berlalu. Baik pak Budi maupun Bi Narsih sudah pasrah jika terjadi sesuatu pada Kania, tanpa kehadiran Ina.
"Bi, apa ini ya namanya Karma."
"Hus, budi. Kamu kok ngomong gitu? Itu majikan kita lo."
Pak Budi merasa ini adalah balasan atas apa yang dilakukan Kania selama ini. Bagaimana perlakuan Kania pada Ina selama ini. Bahkan saat Ina operasi Kania memilih pergi ke luar negeri.
__ADS_1
"Pak, Kita berdoa untuk yang terbaik. Semoga Ibu Kania cepat sadar dari komanya."