
Pagi ini kampus dihebohkan dengan kedatangan beberapa polisi. Terkait tuntutan yang dilayangkan Yulia dalam membersihkan nama baik adiknya. Ibu Ramida dituding sebagai dalang utama kasus. Polisi pun sedang menindaklanjut apa motif dibalik masalah ini. Beberapa mahasiswa pun ikut terseret dalam kasus ini, Ibu menyebut nama Angel sebagai pembenci Ina. Angel yang mendengar kabar itu kaget karena dia tidak merasa terlibat dengan masalah itu. Angel pun kaget kalau Lala teman sekelasnya pun membawa namanya.
Dalam sehari polisi sudah mengantongi beberapa nama yang terlibat. Suasana kampus yang heboh membuat aktivitas belajarpun terpaksa dihentikan.
"Huh, si Ina mainannya polisi. Dasar! lagian emang faktanya dia anak gundik dan ayam kampus. Dikit-!dikit polisi." Keluh salah satu mahasiswi.
"Hah..iya. Wajar kalau dia dikeluarkan. Bu Ramida kan sudah menjalankan tugasnya sebagai ketua prodi." Sambung para mahasiswi.
"Heh ... Dengar, ya. Ina bukan ayam kampus. Dia bukan anak gundik, mamanya hanya istri dari pernikahan kedua. Paham!" Laras langsung melabrak para mahasiswi yang menjelekkan sahabatnya.
"Hey, anak tukang kue. Lo nggak usah sok sok bela Ina deh. Larisin aja kue banyak, biar bisa bayarin kuliah lo. anak Beasiswa aja sok bener."
Laras terdiam, lalu berbalik kearah mereka "Gue emang anak tukang kue. Gue nggak malu kok. Duit gue halal! nah kalian anak anak pejabat, duit kalian halal nggak!" Laras langsung meninggalkan rombongan mahasiswi sombong tersebut.
"Laras!" Laras yang mengambil barang dagangannya menoleh kearah suara.
"Iya, mbak."
Seorang wanita berjaket hitam mendatangi Laras ke kantin. Berdasarkan saksi mata dia melihat Laras sering memotret Ina bersama beberapa pria.
Saksi itu adalah Angel, gadis itu membuka kedok Laras didepan para penyidik.
"Saya perlu keterangan anda terkait masalah saudari Karina."
"Mbak siapa?" tanya Laras.
"Saya Mita, saya adalah polisi yang menangani kasus ini. Tadi ada seorang saksi yang melihatmu menguntit Karina."
"Saya ... saya ...." Laras tergugup saat pertanyaan itu dilayangkan kepadanya.
"Mari ikut saya ke ruangan. Anda bisa menjelaskan disana." Laras pun mengikuti Mita. Dia yakin kalau selama ini dimanfaatkan Ramida untuk kepentingan wanita itu. Kalau hal itu diungkapkan Laras yakin dia akan bebas, walaupun dia menyadari yang dilakukannya itu juga salah.
Mita dan rekannya duduk dihadapan Laras. Wajah serius dari keduanya membuat gadis itu bergidik ngeri.
"Saudara Laras, anda tahu kan kenapa kami ada disini."
Laras mengangguk.
"Oke, kita to the poin saja. Saudara Laras, anda dekat dengan Karina?"
__ADS_1
"Iya, mbak. Karina sahabat saya dari sejak SMP."
"Sedekat itukah?" Laras kembali mengangguk.
"Ini apa?" Sebuah photo yang ditemukan dari tas milik Laras. Laras kaget karena photo itu sudah lama sekali.
"Itu ..."
"Lelaki ini siapa? kenapa ada di dompet anda?"
"Mbak ini kan menjurus ke pribadi, kenapa photo ini dilibatkan."
"Saya punya duplikatnya. Saya yakin kamu menggunting photo pria ini dari photo aslinya 'kan."
Cerca Mita.
"Mbak ... ini ... saya ..." Laras tergagap melihat hasil penyelidikan polisi.
"Ini bukannya Rangga Barata Yudha anak dari pengusaha Donal Pattimura." Tebak rekan Mita.
"Kamu tahu, indah?" Mita makin penasaran.
"Apa ini motivasi kamu pada Karina? Kamu bilang dia sahabatmu, tapi kenapa kamu buat seperti itu padanya?"
"Saya... Saya ... disuruh Mbak?" Jawab Laras terbata-bata.
"Sama siapa?"
"Sama ibu Ramida, dia janji akan kasih saya nilai A kalau mau bantu dia."
"Heeeh, Dosen apa itu memakai Akademik hanya untuk urusan pribadinya."
Dari luar ruangan, Angel menguping pembicaraan para penyidik. Senyumnya mengembang ketika mendengar pembicaraan antara Laras dan petugas polisi.
Habis kamu Ina, satu persatu orang-orang terdekatmu akan menjauh. Dari kak Dodo yang selingkuh dengan mamamu, terus mamamu yang tidak pernah menyukai kehadiranmu, keluarga Rangga yang juga membencimu, dan sekarang kamu harus terima kenyataan kalau Laras juga menikungmu dari belakang.
Aku tahu Pak Ronal juga suka sama kamu. Aku akan buat dia pun ikut membenci kamu. Walaupun pada kenyataannya, Ina lah yang dicari mereka selama ini.
Kamu akan merasakan apa yang aku rasakan selama ini, Ina. Bahkan keluargaku sendiri juga menyukaimu.
__ADS_1
Angel tersenyum meninggalkan ruang kelas yang dijadikan tempat interogerasi. Ada rasa bahagia karena hari yang ditunggu sudah datang. Yaitu kehancuran Ina.
Klik
Pagi ini
Ina terbangun dari tidurnya. Badannya terasa remuk setelah tadi malam dia jalan-jalan bersama Rangga. Ina dan Rangga mencoba menjalin kembali kisah mereka yang hampir retak.
"Aku janji, Na, akan membicarakan masalah kita sama mama. Aku akan perjuangkan cinta kita."
"Kalau tante Raya nggak setuju, Gimana?"
"Kita kawin lari. Kita pergi jauh dari kota ini, menikah dan hidup bahagia. Kamu percaya kan sama aku?" Ina mengangguk tak lama mendaratkan wajahnya dibalik dada Rangga.
"Aku cinta kamu, Na." Ina pun kembali mengangguk.
Ina tersenyum membayangkan sosok Rangga yang romantis tadi malam. Tubuhnya berdiri menuju pintu luar kamarnya.
"Jam berapa ini?"
Alam berdiri didepan pintu sambil memandang jam tangannya.
"Maksudnya?"
"Kamu lupa, kalau sekarang jadi asisten saya. Oma nya Shasa."
"Saya belum oma - oma tau!" Ina tidak terima kalau dipanggil Oma.
"Fakta. Kamu Oma nya Shasa... atau mau dipanggil apa .. Mama? Mama mertua ... hahahha."
PLETAAAK!
" Yang sopan sama mertua. Gini gini aku mertua kamu!"
Alam menyeringai.
"Pas dong. Oma. Sekarang siap-siap kekantor. Aku tunggu dibawah. Oma."
Ina bingung, seingatnya dia sudah menolak lowongan dikantor Alam. Tapi kenapa dia masih dianggap sebagai Asistennya Alam.
__ADS_1