Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
bonus part 1


__ADS_3

"Shasa berangkat sekolah bareng papa, ya." Alam mengingatkan anaknya yang besok akan masuk sekolah.


"Sekolah itu apa, pa?" Shasa masih belum paham.


"Sekolah itu tempat belajar. Shasa nanti bisa banyak punya teman, nanti bisa bermain sepuasnya dan bisa belajar angka, huruf dan membaca." Jelas Alam pada putri sulungnya.


"Membaca itu apa, pa?" Lagi-lagi Shasa memberikan pertanyaan.


"Membaca itu adalah menyatukan huruf-huruf agar bisa dirangkai menjadi sebuah kata. Nanti Shasa bakal paham kalau membaca itu perlu. Shasa mau kan besok masuk sekolah." Gadis kecil itu hanya mengangguk. Meskipun dia sendiri masih bingung dengan apa yang di ucap papanya.


"Sekarang Shasa bobo dulu. Biar besok bangunnya tidak telat, kasian mama bangunin Shasa sambil bawa dede." Jelas Alam.


"Tapi Shasa nggak pernah liat mama bawa dedek,pa."


"Itu yang di perut. Kan dedek nya Shasa masih diperut." Jelas Alam.


"Iya, perut mama sama dengan tuan Kino. Berarti dalam perut Tuan Kino ada dedek bayi juga ya, pa." Alam hanya menggaruk kepalanya bingung mau di jawab apa pertanyaan putrinya.


"Bagaimana doa mau tidur?" Alam selalu mengingatkan anaknya baca doa sebelum tidur.


Allâhumma! Bismika ahyâ wa bismika amût. Artinya: “Ya Allah! Dengan Nama-Mu, aku hidup dan dengan nama-Mu pula aku mati.”


"Pa, kenapa harus pakai doa?" Tanya Shasa.


"Karena kita meminta perlindungan pada Tuhan. Kalau ada yang jahat sama Shasa nanti di tolong Tuhan caranya berdoa."


"Iyakah, pa? Kalau begitu Shasa mau minta sama Tuhan kasih adek Shasa tiga saja. Kayak kucingnya Haiko tiap lahiran anaknya 3 terus." celoteh Shasa.


"Sudah, Shasa tidur. Sudah malam." Alam menarik selimut menutupi tubuh putrinya.


"Mama mana? Shasa mau dibacain dongeng."


"Mama lagi ada kerjaan. Sama papa saja ya?"


Gadis kecil itu mengangguk. Tak lama Alam membacakan cerita putri salju dan tujuh kurcaci. Namun ternyata Shasa tak kunjung tidur.


"Kok belum tidur?" Tanya Alam saat putrinya belum menunjukkan rasa kantuknya.


"Cerita papa membosankan. Mama biasanya bacain Shasa tentang si kancil atau tentang itik yang buruk rupa."


Alam terpaksa mengganti ceritq yang diinginkan putrinya. Sebuah buku cerita bertema binatang penuh makna pun berada di genggamannya. Alam menidurkan putri sulungnya yang saat ini berusia tiga tahun. Shasa termasuk anak yang kritis, terkadang ada saja pertanyaannya yang bikin dirinya hanya bisa mengurut dada.


Untungnya Ina selalu berusaha memberi penjelasan yang pas pada setiap pertanyaan Shasa. Alam senang kalau Ina mau membaurkan diri ke anak sulungnya.

__ADS_1


Langkahnya berjalan ke kamar sebelah. Tampak Ina masih berkutat pada tugas desainnya. Saking fokusnya dia tidak menyadari suaminya sudah membelit leher istrinya.


"Sayang, sudah dong. Jangan di forsir, dong. Kasihan bayi kita ikut kecapekan juga. Istirahat, ya."


"Tanggung, Mas. Itu ngumpulinnya besok. Itu nilai penentuan aku bisa.masuk semester depan." Jawab Ina.


"Ini sudah malam, sayang. Biar aku yang kerjain, pokoknya kamu terima beres saja." Alam menutup laptop Ina dan menggendong istrinya ke kamar sebelah.


Usia kandungan Ina sekarang memasuki 5 bulan. Dimana sekarang memasuki trimester kedua. Ngidamnya sudah mulai berkurang. Hanya saja sejak trimester kedua Alam suka sensi kalau melihat anak laki-laki. Dia sendiri tak paham kenapa seperti itu.


Usia kehamilan yang mulai membentuk fisik si janin. Sejak Ina hamil, Alam semakin protektif dengan kegiatan istrinya. Termasuk dalam pemilihan pakaian dan alat-alat kegiatan kuliah Ina. Padahal sebenarnya tidak ada sangkut pautnya, tapi dasarnya Alam nggak bisa dikasih tahu.


Pagi ini


"Ohayōgozaimasu" Sapa Alam saat membangunkan putrinya.


"Ohayōgozaimasu, papa." Balas gadis kecil tersebut tampak menggeliat ketika dibangunkan papanya.


Pelan-pelan matanya mengerjap menatap silaunya sinar matahari. Kepalanya berputar dua sisi, ada papanya disamping kanannya dan ada mamanya disamping kirinya. keduanya ikut berbaring di samping Shasa.


"Ohayōgozaimasu, papa."


"Ohayōgozaimasu, mama dan adeknya Shasa." Shasa mencium pipi kedua orangtuanya. Di balas keduanya mencium pipi putri mereka.


Pukul.06.20 pagi, Alam sudah siap untuk mengantar putri dan istrinya berangkat TK NEGORAIMA juga mengantar istrinya berangkat kuliah. Alam mengeluarkan mobil van andalannya. Tampak Ina hanya terduduk di kursi makan sambil menunggu Shasa menyelesaikan sarapan serealnya.


Akhirnya mereka tiba di sekolah Shasa, di hari pertama belajarnya Shasa tampak riang memasuki areal sekolahnya.


"Ohayōgozaimasu" Shasa menyapa semua teman-temannya.


Alam dan Ina mencium pipi Shasa secara bergantian.


"Shasa belajar yang bagus, ya. Harus nurut sama ibu guru." Wejang Ina pada putri sambungnya.


"Iya, mama." Jawab Shasa dengan mantap.


"Adek kecil, kakak belajar dulu,ya. Adek jangan nakal di perut mama." Sahut Shasa mencium perut Ina.


Ina masuk ke dalam mobil setelah mengantar Shasa sampai ke kelasnya. Wanita berusia 21 tahun tersebut duduk di jok belakang sambil mengelus perutnya yang sedikit mules.


"Kamu kok duduk disini? Pindah depan saja. Masa aku sendirian di depan?" Alam melihat istrinya selonjoran di kursi belakang supir.


"Disini aman" Jawab Ina.

__ADS_1


"Aman? maksudnya aman yang mana sih? Oh, aku tahu, kamu mau bebas berdua sama aku disini. Tempat lebih lapang daripada di depan."


PLETAAAAAK!


"Bisa nggak sih sekali-sekali otak omesnya hilang! Perutku mules, paling disini kan lebih lapang istirahatnya. Daripada di depan di ganggu mulu."


Ina masih menahan perutnya yang serasa di tendang. Jangan untuk bergerak, bangun saja dia susah. Alam menuntun istrinya posisi duduk lebih aman. Lelaki itu mengelus perut istrinya agar bayi mereka tenang.


Cicak-cicak didinding ...


Diam-diam merayap


datang seekor nyamuk


Haaaap...


Lalu di tangkap..


Ina menggeleng kepala mendengar nyanyian suaminya.


"Berangkat, mas. Aku takut telat."


Alam menghela nafas berat, disaat darurat seperti ini Ina masih mikir berangkat ke kampus. "Aku izin kan kamu supaya libur, ya. Biar aku yang nemui pihak kampus."


Ina membelalakan matanya mendengar ucapan suaminya. Bagaimana bisa dia libur kuliah sementara sebentar lagi ujian semester akan masuk. Ina takut bolosnya akan mempengaruhi nilai semesternya.


"Aku tidak bisa libur. Sebentar lagi ujian semester dan aku harus naik tingkat. Aku tidak mau tamat dengan lambat jangka waktu lama. Aku ingin cepat tamat. Makanya aku kemarin belum mau hamil, aku takut menghambat aktivitas kuliah. Dan sekarang kamu lihat sendiri kan?"


"Jadi kamu merasa pernikahan kita sudah menghambat kuliahmu? Dan kenapa baru bilang sekarang? Kenapa tidak dulu saat aku mengajakmu menikah? Ucapanmu seakan menyesal telah menikah denganku. Aku hanya ingin kita punya ikatan pasti, aku ingin menjadi motivasimu dalam meraih cita-cita." Alam duduk di kursi sebelah Ina. Tangannya dibolak-balik tanda kecemasan melanda.


"Maaf, bukan maksudku bicara seperti itu." Ina memegang tangan Alam. "Aku minta maaf jika ucapan tadi menyinggungmu. Aku hanya sedikit berkeluh kesah tapi itu tidak membuatku menyesal menjadi istrimu, lam. Kamu adalah lelaki terbaik yang pernah aku kenal. Dan aku tidak akan pernah menemukan yang lebih hebat selain dirimu."


Ina sedikit bangkit dari kursinya. Merasa perutnya sedikit lebih baik dari sebelumnya. Sejak kehamilanya memasuki bulan kelima dia merasa perutnya semakin berat. Dua bulan yang lalu dokter mengatakan kondisi hamilnya aman. Tidak ada keluhan aneh yang di rasakannya.


"Mas, sehabis ke kampus nanti ke praktek dokter Daisuke, kamu tidak lupa kan kontrol bulanan kita."


Alam mendengus kesal. Dia tidak suka kalau dokter istrinya itu laki-laki "Bisakah dokternya diganti?"


Ina mengerutkan dahinya "kenapa?"


"Kalau dokternya laki-laki jangan mau! cuma aku yang boleh pegang perut kamu." Ina tercengang mendengar ucapan suaminya. Bisa-bisanya cemburu pada dokter kandungan.


"Tapi waktu kamu masuk rumah sakit, di urus sama suster yang cantik-cantik aku nggak marah tuh. Bukan satu suster pula."

__ADS_1


__ADS_2