
Mobil tiba di depan rumah sakit. Rahmat dengan cepat membuka mobil untuk mengeluarkan Ina dengan kondisi setengah sadar. Salah seorang petugas rumah sakit langsung sigap mengambil ranjang beroda untuk menyambut Ina. Tak berapa lama Ina sudah berbaring dan segera dilarikan ke UGD.
Mona baru saja hendak pulang karena merasa tidak ada pasien lagi. Tangannya pun sedang memegang layar pipih yang menempel di telinganya. Langkahnya menghitung setiap petak lantai ubin yang dipijaknya.
Tatapannya beralih kearah seorang perawat yang berlari kearahnya. Dengan nafas terputus-putus dia menyampaikan ada pasien yang akan melahirkan. Mona menelan salivanya karena harus menunda kepulangannya. Ada rasa takut meninggalkan tanggung jawabnya tapi hari ini putranya ulang tahun dan semua keluarga menunggunya di rumah.
Mona dan beberapa perawat mendatangi pasien tersebut. Dia kaget saat tahu pasiennya adalah Ina.
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Mona saat melihat Ina.
"Ini, dok. Sepertinya dia sudah bukaan akhir." Jelas perawat tersebut.
"Dokter Mona, Seperti kepala bayinya sudah mau keluar." Seru perawat lainnya.
"Cepat langsung lakukan tindakan persalinan normal." Titah Mona.
"Mana keluarganya?" Tanya Mona.
"Di depan, dok."
Mona keluar dari ruangan guna menemui keluarga Ina. Bibi Suti dan Bi Endah berdiri menunggu Ina ditangani. Sementara Rahmat menemui Alam di ruang rawat Shasa.
"Keluarga Karina?" panggil Mona.
Bi Endah dan Suti pun mendekati Mona. Mereka menjelaskan kalau ketuban Ina sudah keluar serta Ina yang sudah mengejan selama di perjalanan menuju rumah sakit.
"Suaminya mana?" Tanya Mona.
"Suaminya sedang menunggu anaknya yang sedang dirawat disini. Tadi sopir sedang menjemput suaminya, dok."
"Dokter! kita tidak punya waktu yang banyak." Panggil suster.
Mona langsung menyiapkan diri untuk persalinan Ina. Wanita usia 35 tahun tersebut langsung meninggal Bi suti dan Bi Endah. Tampak dia sudah menggunakan jubah hijau beserta masker dan sarung tangan.
"Maass..." Rintih Ina.
__ADS_1
"Mas Alam mana?" Tanya Ina.
"Kamu tenang, ya,Ina. Suamimu sedang perjalanan menuju kesini." Mona mencoba menenangkan Ina.
"Aku mau mas Alam! Aku mau dia menemaniku disini!" Ina mulai merengek.
"Na, kamu tenang. Bayimu sedikit lagi mau keluar. Kalau kamu seperti ini yang ada bayimu tidak bisa keluar, nyawanya dan nyawamu bisa terancam. Kamu ikuti instruksi saya." Mona hampir habis kesabaran mendengar rengekan Ina.
Di saat darurat seperti ini tidak bisa harus tunggu menunggu. Karena ketuban Ina sudah merembes sementara bayinya belum keluar. Kalau tidak di tangani lebih cepat takut nya bayinya meminum ketuban dan berujung keselamatan nyawa.
Proses persalinan dimulai. Lampu di depan UGD dinyalakan menandakan penanganan akan di mulai. Mona dan juga para perawat lainnya menangani Ina. Mereka menjalankan tugas sesuai dengan profesi masing-masing. Mona sudah siap dengan segala atributnya terhenti saat mendengar gedoran pintu UGD.
"Den, biarkan dokter menangani non Ina." Suara Bi Suti.
Tubuh Alam melemas. Dia pernah berjanji pada Ina aku ikut ke dalam ruang persalinan jika istrinya melahirkan. Tubuhnya melipat di salah satu tiang dinding depan UGD. Sekelibat rasa penyesalan pun terus melintas dipikirannya.
"Suaminya Karina?" Suara perawat memanggil dirinya.
Alam dengan sigap mendatangi perawat.
"Istri anda enggan menjalani persalinan karena menunggu anda. Saya minta anda masuk ke dalam untuk mendampingi istri anda melahirkan. Soalnya kepala bayinya sudah hampir keluar tapi dia ngotot menunggu suaminnya." Jelas suster tersebut.
Wajah suster tampak seperti kesal. Pasalnya baru kali ini ada pasien yang enggan mengeluarkan bayinya hanya karena menunggu suaminya.
Alam memasuki ruang UGD dengan memakai baju pelindung dan masker. Wajahnya mendadak cemas melihat tetesan darah sudah keluar dari tubuh istrinya. Saat dulu, dia tidak sempat mendampingi Gita karena istrinya sesar. Maka itu dia berjanji pada Ina, akan ada di samping istrinya ketika melahirkan.
Ina tersenyum melihat kemunculan Alam. Dia senang suaminya menepati janjinya. Keduanya saling menggenggam tangan, Alam melabuhkan kecupan di bibir Ina sebagai tanda menguatkan istrinya.
"Sudah bisa dimulai?" Tanya Mona.
Alam mengangguk menandakan persalinan akan segera dimulai. Setelah beberapa saat terjadi drama tunggu menunggu dalam keadaan darurat. Semua yang ada diruangan pun sudah siap dengan jiwa tempurnya. Menyelamatkan seorang calon generasi yang akan melihat dunia, menyelamatkan seorang wanita yang akan berganti status dari istri menjadi ibu.
Sebentar lagi mereka akan mendapat status baru. Bukan sebagai suami istri tapi sebagai orangtua baru. Meskipun sudah ada Shasa dari pernikahan pertamanya. Namun persalinan ini adalah hal yang pertama bagi Alam dan Ina. Dimana dulu dia tidak mendampingi Gita saat melahirkan karena darurat. Gita melahirkan di usia kandungan 8 bulan.
Tangan Alam menggenggam erat, lelaki itu terus mengeluarkan keringat dalam ruang persalinan.
__ADS_1
Dalam hatinya berdoa agar anak dan istrinya lahir dengan selamat. Degup jantungnya selalu berdetak kencang saat melihat perjuangan Ina melahirkan anak mereka. Sesekali mengecup kening istrinya. Meskipun dia sendiri lebih tegang dari Ina.
"Aaaaaaa .. uuuuuh... huuuh huuuh ..." Ina terus mengejan.
"Ayo sayang semangat!"
Tangan Ina terus menarik rambut Alam sekuat tenaga. Lelaki itu hanya pasrah menerima amukan istrinya. Alam merasa tidak tega melihat perjuangan berat istrinya, seandainya bisa bertukar posisi dia mau menggantikan istrinya.
Author Sad " Kalau suami bisa hamil nggak ada cerita suaminya meremehkan istrinya setelah melahirkan."
"Mas..." Nafas Ina masih terpenggal-penggal.
"Kamu harus kuat sayang. Maafin aku yang kurang memperhatikan kamu sejak Shasa koma. Maafin aku yang akhir-akhir ini kurang siaga sama kamu. Maafin aku yang pernah seperti cuekin kamu. Padahal ini bukan inginku bersikap seperti itu. Maafin aku, sayang." Drama tangisan mulai mendera dalam diri lelaki itu.
"Mas..." Ina mulai setengah sadar.
"Sayang .. kamu harus kuat!"
"Ooooeeeeeeek... ooeeeeeeeeek"
Tangisan kencang itu menggema di ruangan persalinan. Tangis bahagia pun menyelimuti Alam.
"Selamat, pak. Anak anda laki-laki." Sahut perawat yang membantu persalinan Ina.
"Na... anak kita sudah lahir. Na, bangun! Please, jangan bikin aku cemas! Karina!" Pekik Alam terus mengguncang tubuh Ina yang sudah tak sadarkan diri.
"Na, jangan tinggalkan aku. Aku tidak kehilangan kamu seperti aku kehilangan Gita. Please bangun! Dokter! Istri saya kenapa?" Alam semakin histeris.
Mona langsung memeriksa kondisi Ina. Nafasnya masih ada tapi denyutnya lemah. Mona ingat saat menangani Siti dimana istri temannya itu di ambang maut saat melahirkan bayi kembarnya.
"Dokter!" Pekik Alam.
Mona dan para petugas langsung menangani Ina. Berbagai alat medis pun dikerahkan demi menyelamatkan sang ibu baru. Ina dinyatakan kritis setelah melahirkan sang buah hati. Alam menangis melihat keadaan sang istri. Tak berapa lama si mungil sudah di bersihkan dan di balut dengan kain bedong.
"Selamat datang putra tampanku."
__ADS_1
Alam pun melantunkan adzan di telinga putranya.