
Satu bulan Kemudian
"Kamu darimana?"
Raya muncul saat mendengar suara orang membuka pintu rumah mereka. Tangannya dilipat, tubuhnya yang masih ramping didaratkan pada sofa kulih berwarna hitam.
"Dari tempat teman, ma." Jawabnya tanpa menoleh kearah Raya.
"Nengokin Ina lagi?"
Raya paham putranya tak pernah absen mengecek keadaan anak tirinya itu. Kepalanya menggeleng, sudah tak tahu mau bilang apalagi ke Rangga. Bagi Raya perhatian Rangga pada Ina sudah tidak wajar lagi.
"Iya." Jawab Rangga setengah malas.
"Please,Ga. Sejak kamu pulang dari jepang 6 bulan yang lalu, kamu full time buat Ina. Mama suruh kamu pulang bukan buat ngurusin Ina. Tapi ngurusin perusahaan papa Donal."
"Ma, Rangga tetap masuk kantor. Nggak pernah mengabaikan pekerjaan. Rangga main sama Ina juga sepulang kerja."
"Etis tidak seorang laki-laki main ke tempat perempuan baru pulang jam 12 malam. Hah! pantas tidak! Buah tidak jauh dari pohonnya. Anak dan ibu sama saja!"
Rangga tidak suka saat Raya mengatai Ina sama seperti Kania. Justru dia disana melindungi Ina dari para lelaki yang dibawa Kania. Walaupun sebenarnya dia memang punya rasa beda sejak kecil. Kaki melangkah kekamar, pria berusia 35 tahun tersebut menutup pintu dengan kencang.
Raya menggeleng melihat sikap putranya lalu masuk kekamar.
"Ga, Ina itu bukan lagi adikmu. Sekarang dia sudah orang lain sejak papamu meninggal. Mama cuma takut kalau terjadi diluar batas diantara kalian. Kalau kamu menganggap dia adik. Perlakukan dia selayak adik bukan lebih. Kamu juga punya adik disini, Lani itu juga adikmu. Tapi kenapa kamu nggak bisa dekat dengan Lani."
"Ma, Lani kan sudah bersuami. Dia juga nggak pernah menerima aku sebagai kakaknya."
POV Rangga
"Ina aku mencintaimu. Dari kecil hingga saat ini perasaan itu berubah."
Itu sebuah kata yang selalu tertanam dalam hatiku. Kata-kata yang menguatkan aku sampai sekarang. Kata yang mampu membuat aku terus bangkit, ketika rasa menyerah itu datang.
Aku tahu dia hanya menganggapku kakak, kebersamaan kami selama 12 tahun dimatanya hanya sebatas adik kakak. Tapi bagiku itu membuat perasaan ini semakin besar. Setelah beberapa wanita yang hinggap dihidupku, tapi tetap tak menggeser perasaan ini. Sejak papa meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, maka aku bukan lagi saudaranya.
"Kamu tetap kakakku sampai kapanpun"
Jawaban itu tentu saja membuatku sakit. Na, asal kamu tahu kalau aku ingin lebih dari itu. Meskipun usiamu setengah dari usiaku. Tapi bukankah cinta tak mengenal usia. Papa selalu berpesan pada kami agar tetap menjalin persaudaraan apapun yang terjadi.
"Papa minta sama kamu, Ga. Tetap menjadi kakak buat Ina apapun yang terjadi. Kamu tahu kan bagaimana perlakukan mama Kania sama Ina daridulu. Jika Tuhan menjemput papa suatu saat nanti, Papa mengandalkan kamu sebagai walinya Ina. Sampai Ina menemukan pendamping hidup."
"Rangga janji,Pa. Rangga akan jaga Ina segenap jiwa raga sampai dia menemukan pendamping hidup."
Karena akulah yang akan menemaninya sampai ajal menjemput,pa. Akulah yang akan menjadi pendampingnya.
"Ga"
Suara Papa Donal membuyarkan lamunanku. Lelaki yang sudah 10 tahun menikahi ibuku. Usianya bahkan 5 tahun dibawah mamaku. Mungkin itu yang namanya cinta beda usia. Mamaku walaupun sudah kepala 5 dan hampir memasuki kepala 6 tapi masih terlihat seperti 40-an.
__ADS_1
Saat ini usiaku 35 tahun, sudah tua bukan. Mungkin banyak yang bertanya kenapa aku belum menikah. Jawabanku cuma satu, aku tidak menikah kalau Ina belum menikah. Aku harus menepati janjiku pada papa untuk menjaganya sampai dia menemukan pendamping.
"Ga"
"Eh, iya, pa." Aku mendekati papa Donal.
Sepertinya ada hal serius yang akan dibicarakannya. Apakah soal perusahaan? Bisa jadi.
"Ada apa, pa?"
"Nanti malam papa ada pertemuan bisnis dengan Alex. Kamu ikut papa, ya. Sekalian papa mau mengenalkan kamu sama anaknya Alex."
"Jihan?"
"Kamu kenal sama dia?"
"Kenal, pa. Aku pernah ketemu sama dia di pesta teman."
"Bagus kalau gitu. Papa nggak susah buat mendekatkan kalian."
Aku sudah bisa menebak arah pembicaraan papa Donal. Aku paham kedua orangtuaku ini mengkhawatirkan anaknya yang belum menikah sampai sekarang. Aku hargai usaha mereka mendekatkan aku dengan beberapa wanita. Termasuk saat sama Mona.
Aku kenalan sama Mona melalui Dodo, sahabatku. Kenapa aku bisa dekat dengan Dodo? karena aku berhutang budi pada almarhum Bian, Kakaknya Dodo. Bian menyelamatkan nyawaku yang hampir tertabrak kereta.
Mobilku mogok saat dilintasan kereta dan tak ada palang pintu disana. Bian yang saat itu bekerja sebagai penjaga disana datang menarikku keluar dari mobil. Beberapa lama kami akrab, Bian selalu mengajak ke kontrakan adiknya. Hingga akhirnya Bian jatuh sakit dan meninggal dunia.
klik
"Kemana?"
"Ke pantai saja. Mau?"
Ina mengangguk. Sejak dirinya keluar dari rumah sakit dan rutinitas kampus yang menyita waktu, Dodo tak pernah lagi mengajaknya jalan berdua. Dia paham, pekerjaan dokter yang menyita waktu, apalagi harus bergelut dengan nyawa manusia. Ina tak pernah mau menuntut banyak, dia tak pernah kesepian karena dua sahabatnya punya banyak waktu untuknya.
"Kapan kita terakhir ke pantai,na?"
"Kayaknya setelah aku selesai ujian akhir."
"Hahahaha, Iya. kamu sempat ngomel sama aku karena takut aku ajak nikah muda."
Ina menjelit ke arah Dodo. Sungguh, saat ini dia mau fokus sama kuliah, tapi jika Dodo benar-benar mengajaknya menikah dia takkan menolak lagi.
Jika aku menikah dengan kak Dodo, aku tidak akan menyusahkan mama lagi.
"Kak mataku kok ditutup?"
"Udah, kamu ikut aja."
Ina kaget bukan suara Dodo yang didengarnya.
__ADS_1
"Mama?"
"Iya, nak. Ini mama."
Ina tersenyum menang. Dimatanya mama Kania sudah banyak berubah. Tak pernah ketus lagi padanya.
Mereka melangkah berjalan. Terdengar suara deburan ombak membuat hatinya sejuk. Walaupun dia masih penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Ina masih merasakan genggaman tangan mamanya, hingga genggaman itu berubah menjadi tangan seorang lelaki.
"Na"
Ina yakin tangan itu adalah tangan Dodo. Lelaki yang saat ini bernaung dihatinya. Walaupun sebenarnya dia mulai merasa sosok lain menyelip dihatinya. Tapi Ina yakin perasaannya pada sosok lain itu hanya kekaguman semata.
Dodo membuka penutup mata gadis itu. Tampak dihadapannya hamparan pantai luas. Ombak kecil yang menyambut kedatangannya, Ina hendak mendekati ombak tersebut kakinya tertahan sebuah gundukan kecil.
Matanya membulat saat melihat dibawah kakinya. Kelopak bunga berbentuk love yang sedang dipijaknya saat ini.
"Na, tolong buka gundukan itu."
Ina jongkok membuka gundukan tanah dibawah kakinya. Sebuah kotak kecil berwarna merah ditemukannya dalam gundukan itu.
Apakah dia mau melamarku?
Dodo mendudukan tubuhnya dihadapan kekasih.
"Karina, berapa lama kita menjalin hubungan?"
Ina tampak mengingat "Hampir dua tahun"
"Selama itu apakah yang kamu rasakan padaku? jujur saja, aku nggak akan marah"
"Kak Dodo dimataku lelaki yang baik. Sayang sama aku, sayang juga sama keluargaku. Kak Dodo juga seorang lelaki sejati yang mampu menjagaku sepenuh hati."
"Cuma itu?" Ina mengangguk. Sejauh ini memang sebatas itu terhadap Dodo.
"Ina, Maukah kau menikah denganku. Ya, mungkin aku tidak sekaya Rangga. Aku masih jadi dokter kontrak. Gajiku tak sebesar uang jajanmu. Tapi yakinlah aku akan mencintaimu sepenuh hati.
Sekali lagi aku bertanya, Will you marry me?"
Ina menatap kearah Dodo lalu mengalihkan pandangan ke Kania yang berdiri jauh dari mereka.
Kania tersenyum dan mengangguk.
"Mau kakak menungguku sampai tamat kuliah?"
Dodo mengangguk.
"Bismillah, Yes, i will"
__ADS_1
Bersambung