
kisah sebelumnya ....
"Na, sekali lagi saya bertanya padamu? Mau kah kamu menjadi pacarku. Menjadi kekasih dari seorang duda tanpa anak. Menjadi kekasih dari seorang lelaki yang usianya jauh diatasmu." Reza duduk membungkuk membuka sebuah kotak. Kotak yang disodorkan ke hadapan Ina.
Memori Ina berputar, bagaimana cara Dodo melamar dirinya, bagaimana Rangga melamarnya dengan cara yang serupa.
Dan sekarang Reza melakukan hal serupa. Ina berjalan mundur, seperti ketakutan yang melanda. Tak disadarinya kakinya melangkah keujung kolam renang.
Byuuuur!
Tubuh Ina berhambur kedalam genangan air. Tak lama dua lelaki menyebur masuk kedalam kolam renang. Tubuh Ina masuk kedalam lantai dasar kolam.
Kenangan itu berputar lagi.
AKU BENCI LAMARAN!
...****...
Alam menggendong tubuh Ina keluar dari kolam renang. Dengan gendongan bridal style lelaki itu dengan mantap naik ke atas melalui tangga dari dalam kolam. Tampak gurat kekhawatiran di wajah lelaki. Reza yang mengekor dari belakang hanya menatap gondok. Dia ikut menyelam ke dalam air, tapi kenapa bos nya yang jadi pahlawan buat Ina.
"Na, sadar!" Alam terus mengguncang tubuh Ina.
"Kenapa kalian hanya menonton? Panggil petugas sekarang!" Bentak Alam yang masih dilanda kepanikan.
Alam masih berusaha mengguncang dada Ina. Matanya beralih kearah Reza. Ada rasa emosi membuncah didadanya, tapi ditahannya karena memikirkan situasi sekarang.
"Maaf, Na. Aku terpaksa melakukan ini." Alam mencondong mulutnya ke mulut Ina.
Berharap wanita itu segera sadar. Reza dan Angel membulatkan matanya melihat aksi Alam. Menurut mereka yang Alam lakukan itu terlalu berani.
"Minggir" Usir Reza saat Alam masih berusaha memberikan nafas buatan untuk Ina.
__ADS_1
"Tapi dia belum sadar..." jawab Alam.
Reza membawa tubuh Ina kedalam mobil. Sementara Angel memberikan handuk untuk Alam.
"Terimakasih." Ucapnya lalu meninggalkan Angel.
"Sama-sama" Jawab Angel sambil memberikan senyum terbaiknya.
"Saya pulang dulu. Kamu kalau mau pulang juga silahkan. Ini ongkosnya." Alam pamit meninggalkan Angel, tapi masih berbaik hati memberikan ongkos untuk Angel pulang.
Dimobil Reza meletakkan Ina dengan pelan di kursi mobilnya. Tangannya menggenggam erat jemari Ina. Disatu sisi ada rasa penasaran, kenapa Ina begitu terkejut. Disatu sisi lainnya ada rasa bersalah menderanya. Terlihat gurat kekhawatiran saat melihat wajah Ina yang sudah pucat.
"Ina kenapa, Reza?" Tanya Yulia saat melihat adiknya digotong pingsan.
"Kepeleset dikolam renang, tante." Adu Reza sambil membawa Ina kekamar.
"Ya Allah, kok bisa?"
"Nggak tahu tante tapi sebelum kepeleset dia abis ngobrol sama pak Ronal."
"Papa lihat ulah mantu kesayang papa? Lihat apa yang dia perbuat pada adikku!" Amuk Yulia saat mendengar cerita Reza.
"Ma, Reza cuma bilang kalau Ina cuma mengobrol sama Alam. Bukan berarti Alam yang menyebabkan Ina terpeleset. Jangan telaah ucapan orang mentah-mentah." Papa mencoba meluruskan agar tidak terjadi fitnah.
"Tapi, pa. Papa ingatkan waktu Gita masih ada? Ada saja hal buruk menimpa Gita. Kaitannya pun masih dengan Alam. Setiap ada hubungannya dengan Alam, ada saja masalah buruk yang menimpa kita."
"Istigfar, ma! Istigfar! biar bagaimanapun dia menantu kita, ayah dari cucu kita. Mama lupa kebaikan Alam, yang membiayai semua pengobatan Gita di Malaka, Fasilitas buat Gita selama kemoterapi di Malaka itu dari siapa? Dari Alam, ma. Walaupun kita juga mampu, tapi Alam dengan sukarela membantu kita."
Dul hanya mengelus dada saat mendengar pemikiran istrinya. Kebencian Yulia pada keluarga Spencer yang sudah mendarah daging. Dul tahu sikap Marni memang keterlaluaan saat itu. Dimana Marni menuduh Gita sebagai pembawa masalah di keluarganya. Dul yakin ada cara mendamaikan dua besan yang bermusuhan.
"Tapi kenapa Bobby mau melamarkan Ina, ya?" Ucap Dul sambil berpikir.
__ADS_1
"Siapa yang mau melamar, pa?" Sahut Yulia.
"Oh, ini staf dikantor, minta cuti katanya mau lamaran."kilah Dul.
"Oooo..." Yulia duduk disamping suaminya.
Sepasang suami istri tersebut duduk didepan teras rumah. Yulia memandang senyum kearah suaminya. Lelaki yang mendadak jadi suaminya karena pengantin prianya tidak datang. Lelaki yang dulu diremehkannya karena berasal dari kampung.
"Makasih, Pa."
"Buat?"
"Buat cinta yang telah papa berikan selama ini. Terimakasih dengan ketulusan papa selama menikah denganku, papa adalah suami yang paling sabar menghadapi keegoisanku, keposesifanku, mungkin kalau suamiku bukan papa akan lain rasanya."
Dul tersenyum mendengar ucapan istrinya. Selama ini dia masih belajar menerima Yulia, istri dadakannya. Kenapa dadakan? Karena Dul hanya menggantikan calon suami Yulia yang kabur dihari pernikahannya. Pernikahan dadakan yang diawali saling menyalahkan, berproses saling mengenal satu sama lain, saling menguatkan. Hingga saat ini mereka tetap bersama menua.
"Maaf,ya ma. Kalau papa belum menjadi suami dan ayah yang baik untuk mama juga Gita."
"Nggak kok, pa. Bagi mama, kamu adalah suami yang keren dan bagi Gita kamu adalah ayah yang hebat. Dan mama sekarang merindukan Gita." Yulia tiba-tiba berkaca-kaca ketika mengenang putrinya yang sudah mendahuluinya.
"Yuk, pa sudah malam. Nggak baik diluar nanti masuk angin ajak Yulia.
"Masuk angin apa masuk angin?" Goda Dul pada istrinya.
"Aih .... papa apaan sih!" wajah Yulia memerah ketika digoda suaminya.
Sementara dikediaman Spencer, Alam pulang dengan basah kuyup. Marni mendapati putranya bertubuh basah mengorek informasi. Tapi sayangnya tidak dapat apa-apa. Alam menutup pintu kamarnya dengan keras.
Alam menghidupkan shower dan membasahi tubuhnya. Nafasnya terengal-engal mengingat apa yang dia lakukan pada Ina tadi. Sesekali merutuki kebodohannya.
Kenapa aku kasih nafas buatan? aduh, lam Gila kamu! Kalau Ina tahu apa yang aku lakukan dia pasti makin membenciku.
__ADS_1
Kenapa, Na? kenapa harus kamu yang mengacaukan janjiku pada Gita!
Maafkan aku, Gita! Aku telah menodai janji kita untuk tidak jatuh cinta lagi.