
Dua bulan yang lalu.
"Do" Ucap Arman teman sejawatnya.
"Iya, man."
"Kamu sakit, ya. Pucat banget?"
"Nggak tahu, man. Seminggu ini badanku drop banget. Aku sempat demam yang rasanya mau cabut nyawa."
"Sudah periksa?"
"Sudah, man. Aku masih menunggu hasil."
"Ya, sudah kamu istirahat, pulang ke rumah, muka kamu pucat banget seperti mayat hidup." Ucap Arman meninggalkan Dodo yang masih lemas.
Perasaan cemas melanda pikiran. Dokter muda itu mendaratkan bokongnya di ruang tunggu laboratorium rumah sakit tempat dia bekerja. Hampir dua minggu lelaki berusia 27 tahun menunggu hasil lab. Hasil yang akan menentukan apa yang terjadi dimasa akan datang.
Sudah hampir satu bulan yang lalu, Dodo merasa kondisi tubuhnya yang tidak fit, demam panas dingin, setiap bangun pagi tubuhnya nyeri sampai ke tulang di sekujur tubuhnya.
Sekarang setelah dua minggu dilanda bimbang, dia pun mendapat kabar kalau hasil lab nya sudah keluar. Saat ini dia sudah siap mendengar diagnosa yang akan menempel pada dirinya.
Beberapa petugas berseragam putih mendatangi dirinya. Tatapan mereka seperti kurang bersahabat. Para petugas tersebut meminta lelaki itu menemui pak wibowo. Didalam ruangan para petugas menatap jijik pada lelaki itu. Tapi Dodo tak menghiraukan sikap mereka, saat ini dia masih penasaran tentang penyakit yang diidapnya.
"Dokter Alfredo, dipanggil pak wibowo diruangannya." Panggil salah satu suster.
Dodo melangkah menuju ruangan pak Wibowo. Wibowo adalah pemilik rumah sakit menggantikan Hermawan, pemilik sebelumnya.
Assalamualaikum
"Duduk, Do." Pak Wibowo tanpa basa basi mempersilahkan Dodo duduk dikursi ruang kerja wibowo.
"Kamu tahu kenapa saya memanggil kesini?" Dodo menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak tahu apa maksud pemanggilannya.
"Maaf, sebenarnya ada apa, pak?"
"Baca ini." Pak wibowo menyodorkan sebuah amplop besar yang bermerek hasil Laboratorium rumah sakit tempat dia bekerja.
Mata Dodo membelalak saat membacakan hasilnya.
__ADS_1
Positif? HIV?
Nggak mungkin!
Nggak mungkin aku kena Aids!
Nggak mungkin!
"Bagaimana, do?" suara Wibowo sukses membuat pikirannya kacau. Seperti mendapat mimpi buruk yang membuatnya ingin cepat bangun. Sayangnya itu bukan mimpi tapi kenyataan.
Dodo tetap tak bergeming menatap hasil lab yang di genggamnya. Masih tak percaya apa yang sudah tertera di dalam lembaran kertas tersebut. Dadanya terasa sangat sesak membayangkan bagaimana reaksi rumah sakit. Matanya beralih kearah lelaki didepannya. Seakan menangkap akan ada pengumuman penting yang menghancurkan moodnya.
"Oke, sekarang kita langsung fokus pembahasan awal. Saudara Dodo, anda tahu kan penyakit yang anda derita bukan penyakit biasa." Dodo hanya mengangguk lemah.
Wibowo melanjutkan "Anda tahu ini adalah instansi yang bersih. Maka anda juga harusnya tahu bahwa kami tidak bisa memperpanjang kontrak kerja sebagai dokter dirumah sakit ini."
Dodo menangkap maksud dari ucapan Wibowo. Seketika dia sadar bahwa pihak rumah sakit akan memberhentikannya. Padahal dia sangat yakin ada kesalahan dalam hasil lab tersebut.
"Maksud bapak saya dipecat. Nggak bisa gitu dong, pak. Anda lupa saya satu-satunya dokter jantung dirumah sakit ini. Bapak jangan lupa juga saya pernah membawa piala untuk rumah sakit ini sebagai dokter berprestasi dari kementrian kesehatan."
"Kalau kamu memang merasa berprestasi kamu tidak kena penyakit ini, do. Kamu akan menjaga diri kamu dari kehidupan bebas."
"Itu terserah anda dokter Alfredo. Sekarang saya cuma memberi pengumuman bahwa dokter Alfredo bukan lagi dokter dirumat sakit. Ini kami lakukan demi kenyamanan rumah sakit ini. Maaf kami tidak bisa mempertahankan beasiswa anda. Ada dokter Ilham yang menggantikan anda mengikuti beasiswa di belanda."
Dodo keluar dari ruang Wibowo. Perasaan marah, kesal, kecewa semua menyatu didadanya. Semua miliknya dari jabatan kerja hingga beasiswanya akan digantikan oleh Ilham.
"Do. Kamu kenapa?" Suara itu datang dari hadapannya. Sosok lelaki yang dianggapnya sebagai penikung sukses membuatnya melayangkan bogem mentah.
Bugh!
"Dasar penikung! Lo bukan sahabat ku lagi, ham! Tega kamu mengambil semuanya dariku!"
Ilham yang meringis kesakitan akibat bogem yang mendarat ke wajahnya. Lelaki itu kaget dengan ucapan Dodo. Dia tidak merasa menikung siapapun.
"Do. Kamu kenapa? salahku apa?"
Dodo hanya menatap sinis kearah Ilham. Sejak dulu dia tidak pernah suka dengan apa yang didapatkan Ilham. Julukan " Anak emas" Yang melekat pada pria yang berstatus duda tersebut membuat Dodo muak. Terlebih saat dia tahu perempuan dicintainya masih terobsesi dengan Ilham yang notabene adalah mantan suaminya. Dodo meninggalkan Ilham yang masih bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Kakinya melangkah ke ruangannya, beberapa petugas membersihkan ruang praktek lelaki itu.
"Apa-apaan ini! lancang sekali kalian membongkar ruanganku." Amuk Dodo
__ADS_1
"Maaf, pak dokter ini perintah pak wibowo untuk mensterilkan ruangan anda. Sekaligus meminta anda membersihkan barang-barang anda." Ucap salah satu petugas.
"Steril? sehina itukah saya!" Amuk Dodo.
Bisik-bisik para perawat saat melihat Dodo berjalan membawa beberapa barangnya.
"Nggak nyangka, ya? dokter Dodo kena HIV."
"Iya, nggak nyangka. Kayaknya dia nggak banyak tingkah eh, ternyata."
Sekarang semuanya selesai. Ina menjauh dariku, Kania tidak mau lagi membiayai hidupku, dan sekarang mereka memecatku seakan yang penyakitku hina. Kak Bian maafkan aku, aku sudah menghancurkan pengorbananmu selama ini. Kamu rela tidak melanjutkan sekolah demi mengangkat cita-citaku. Maafkan aku, kakak.
Dimasa sekarang
Ditengah lengkingan kokok ayam, Alfredo Sihombing membangkitkan tubuhnya yang masih terasa sakit. Gedoran pintu kontrakannya membuatnya terpaksa membangkitkan tubuhnya yang mulai kurus. Sejak dipecat dari rumah sakit, sejak dia bukan lagi sebagai dokter, hidupnya mulai tidak baik, pagi keluyuran pulang tengah malam, membuat beberapa orang risih. Dodo sering muntah-muntah dan bau muntahan seperti bau busuk. Beberapa orang disekitar bedengan mulai risih.
"Saudara Dodo. Saya minta anda angkat kaki dari kontrakan ini."
"Kenapa, pak? saya sudah bayar kontrakan 3 bulan sekaligus. kok saya malah diusir."
" Kami tidak tahan dengan bau busuk dirumah anda. Sepertinya kamu terkena penyakit berbahaya, kami tidak mau ikut tertular." Ucap para warga sesama penghuni bedengan.
Dengan terpaksa Dodo membawa barang seadanya. Tubuhnya yang sakit-sakitan menyusuri jalanan dengan dengan tas ransel yang menenteng di punggungnya. Kabut subuh membuat giginya gemeletuk menahan dinginnya yang menusuk hingga ketulang.
"Apa! Kamu kena HIV, do." Pekik Kania.
Dodo terpaksa menemui Kania yang menurut satu-satunya harapan bisa memberikan tumpangan. Dia cerita pada Kania kalau sekarang bukan seorang dokter lagi. Sekarang dirinya pengangguran dengan penyakit yang menempel ditubuhnya.
"Itu urusanmu, Do. Bukan urusanku! Rumahku bukan tempat penampungan. Lagian ngapain aku menampung lelaki penyakitan seperti kamu. Nggak berguna!Sekarang pergi dari rumahku! Aku tidak mau kalau Ina melihat dia salah paham lagi." Usir Kania.
"Pak Budi!"
"Iya, nyonya!"
"Usir orang ini darisini. Saya sudah mual lihat wajahnya!" titah Kania pada sopir pribadinya.
"Ingat, Kania, Kamu juga zolim pada anakmu sendiri. Akan ada karma yang akan menimpamu." Amuk Dodo.
Aku harus kemana lagi mencari tempat tinggal.
__ADS_1
Bersambung