
Suasana lift mulai melonggar. Pelan-pelan Alam melepaskan tangannya yang membelit pinggang Ina. Mereka saling menunduk malu tanpa berani saling menatap. Ina pun menjarakkan diri dari Alam.
"Kamu ngapain ke kantor. Pasti nyamperin Reza, ya?"
Aduh ngapain aku nanya kayak gitu? Kayak nggak ada pertanyaan lain aja. Ya wajarlah dia nyamperin Reza secara mereka pacaran.
"Nggak kok! Aku mau pamit sama temen-temanku. Sama Intan cs. Terus kamu ngapain di lantai 4. Bukannya ruanganmu di lantai 3?"
Yaelah, Ina. Mau dia ke lantai berapa kenapa kamu yang kepo sih. Ingat Ina! Ingat pesan kak Lia! Jangan terlalu dekat dengan Alam.
Ting
Pintu lift terbuka. Ina mempersilahkan Alam lebih dulu keluar. Tapi malah Alam yang meminta Ina keluar dulu.
"Itu sudah sampai kamu aja dulu, Lam!"
"Ladien first"
"Man first"
"Kamu aja yang duluan" Balas Alam.
"Laki-laki itu harus jadi pemimpin. Berjalan mendahului makmumnya." Ina tidak mau kalah. Tanpa sadar Ina sudah berjalan keluar lift.
"Tuh, kan keluar juga! dari tadi kek.Buang-buang waktu aja. Atau jangan-jangan kamu modus kali mau lama-lama sama saya." Alam pun keluar dari lift.
PLETAAAK!
"Hey, dengar ya. Tuan Alam. Jangan sok kecakepan situ. Kak Reza masih jauuuuuh lebih ganteng dari situ." balas Ina tidak mau kalah.
"Apa sih? Bawa-bawa Reza. Jelas aja kamu bilang dia ganteng. Kan dia pacarmu. Yaaaa, saya paham sih. Kalau orang mabuk cinta yang kayak monyet pun jadi terlihat ganteng. Hahahahaa..." Alam pun berlalu dari hadapan Ina.
Ina merasa gondok ketika ditertawakan Alam. Tangannya mengepal tinju dari jauh. Rasanya dia mau mencincang mulut lelaki yang katanya menantunya itu. Ina pun melangkah menuju pantry. Begitu pun juga Alam yang masuk ke ruangan dimana Bobby cs berada.
Ina dan Alam berjalan kearah berlawanan. Keduanya berjalan sambil senyum-senyum sendiri. Mereka mengingat kejadian di lift. Sambil memegang dada mereka menahan sisa ndebaran yang masih terasa. Alam berdiri membalikkan badan menatap Ina yang terus berjalan. Ina pun membalikkan badannya hanya saja sosok yang muncul malah Reza.
"Hai, sayang" sapa Reza yang langsung berlari mendekati Ina.
"Hai, juga kak." Jawab Ina datar.
"Kamu kok nggak ngabarin mau kesini? Pasti mau surprisekan aku ya?" Ina hanya membalas Reza dengan senyuman kecil.
Ya Allah aku kok nggak bisa marah sama kak Reza. Tapi kesel juga sih.
Kenapa dia harus bohong soal kolam renang itu.
Ah, Ina itu kan cuma mimpi!
Belum tentu benar.
Siapa tahu yang dibilang Angel benar kalau aku jatuh karena senang jadian sama kak Reza.
Tapi kenapa aku nggak merasakan apa-apa sama kak Reza.
__ADS_1
Aaaaarrrghhh
Ina terus bermonolog seakan masih mempertanyakan hubungannya dengan Reza. Mimpi yang dialami tadi seakan memberi petunjuk tapi lagi-lagi Ina hanya menganggap sekedar bunga tidur.
Langkahnya terhenti ketika melihat Raga Budiman yang baru saja masuk ke salah satu ruangan. Ina sedikit kepo dengan kedatangan Raga. Namun diurungkan karena merasa bukan urusannya.
"Assalamualaikum" Sapa Ina saat memasuki pantry.
"Inaaa..." Pekik Intan langsung memeluk temannya.
Tidak hanya Intan saja. Nofi, Menik, Arthi dan Susan pun memeluk Ina. Kerinduan pasukan OB cantik itu pada Ina yang sudah dua minggu tak masuk kerja.
"Kami pikir kamu nggak akan kesini lagi." Jawab Menik.
"Iya, Na. Kami pikir kamu nggak mau ketemu orang-orang kayak kami." Sambung Arthi.
"Kok ngomong gitu sih kak? Kalian itu temenku. Jadi nggak ada istilah pilih-pilih teman." Jawab Ina yang sudah di antara teman-temannya.
"By the way, katanya kamu dan kak Reza sudah jadian ya. Selamat, ya." ucap Nofi.
Ya ampun semua dah pada tahu hubungan aku dengan kak Eja.
Beberapa saat kemudian ada Rasti si Kepala HRD yang masuk ke pantry.
"Intan, saya pesan kopi satu ya."
"Mbak Rasti. Selamat ya atas pernikahannya. Semoga Samawa." Ina menjulurkan tangannya pada Rasti, Kepala HRD.
"Udah jangan dipikirin,Na. Kamu tahu tidak kalau dia dari awal kamu masuk memang kurang suka sama kamu." Nofi mulai melancarkan gosipnya.
"Kenapa?"
"Karena kamu kerja jalur orang dalam." Jawab Arthi.
"Mbak Rasti itu paling nggak suka sama orang yang berbau KKN. Makanya dia rada ketus sama kamu." Sambung Nofi.
"Kan aku bukan masuk jabatan besar. Cuma jadi OB doang." Ina jadi tak enak kehadirannya dianggap jalur KKN.
"Dahlah, nggak usah dipikirin. Kamu masih lama kan disini? Soalnya kami masih ada tugas masing-masing." Para OB girl pun meninggalkan Ina sendiri dipantry.
"Ina?" Terdengar Reza masuk ke pantry saat Ina sedang sendiri.
"Iya, kak. Ada apa?"
"Nggak, papa. Aku lagi pengen sama kamu.
Oh ya nanti malam aku akan datang bawa orangtuaku. Aku bukan laki-laki yang suka pacaran lama. Tapi aku serius sama kamu dan mau halalkan kamu."
Ina menelan salivanya. Dia bingung harus bilang apa. Sementara dia tidak punya perasaan apapun pada Reza. Sejenak Ina terdiam tanpa menyadari tubuh Reza sudah menutupi dadanya. Tangan Reza sudah menaikkan wajah Ina lalu mencondongkan bibirnya. Ina tersadar saat Reza hampir menciumnya. Tangan Ina hendak mendorong tubuh Reza tapi kalah kuat.
"Bisa buatkan..." Alam terdiam saat melihat pemandangan didepannya.
Melihat hal itu, Ina mencari kesempatan untuk melepaskan diri dari Reza. Lalu keluar dari pantry dan Reza pun mengejar Ina sampai keluar kantor. Sayangnya Ina keburu masuk angkot demi menghindari Reza.
__ADS_1
Klik
Ina mematut diri di depan meja rias. Memandang perubahan wajahnya setelah dipoles habis oleh sang kakak. Ina pun diberikan sebuah gaun yang cantik oleh sang kakak. Tentu saja gaun tersebut adalah peninggalan Gita.
"Na, kakak senang jika kamu benar-benar menerima Reza. Paling tidak jika suatu saat kakak lebih dulu pergi hatiku akan tenang jika kamu bersama lelaki yang tepat. Kakak yakin Reza adalah lelaki yang baik."
Ina hanya menunduk lemas. Berharap ada secercah harapan untuk menggagalkan acara lamaran tersebut.
Dia tidak mencintai Reza tapi dia tidak mau mengecewakan kakaknya.
"Kak, Kenapa harus mendadak seperti ini? Kakak kan tahu kalau aku belum mau terikat apapun. Aku ... aku ..." Ina mulai menitikkan airmatanya.
"Na, apa ada orang lain yang kamu sukai?" Selidik Yulia. Ina menggeleng.
"Terus kenapa kamu tidak mencoba membuka hati itu Reza? Apa kamu belum bisa melupakan Rangga?" Ina kembali menggeleng.
"Apa ini ada hubungannya dengan Alam?" Ina menaikan kepalanya.
"Kenapa kakak ngomong begitu?"
"Karena kakak tidak mau apa yang dialami Gita juga terjadi sama kamu, Na. Alam itu pembawa sial, Na. Kakak nggak mau kamu terkena sialnya seperti yang terjadi pada Gita." Kenang Yulia mengingat rentetan masalah yang menimpa Gita setelah menikah dengan Alam.
Yulia bersujud dibawah kaki Ina "Kakak mohon sama kamu, Na. Jika kamu memilih lelaki lain kakak tidak masalah, asal lelaki itu bukan Alam. Tolong penuhi permintaan kakak di sisa umur kakak." Ina terpaku mendengar permintaan Yulia.
Sementara Alam sedang berada didalam mobil menuju kediaman mertuanya. Pikirannya berkecamuk ketika mendengar Ina akan dilamar Reza. Sesaat dia menghentikan mobil, merenung apakah yang dilakukannya gegabah atau benar.
Sejenak Alam memejamkan matanya sambil memijit keningnya. Terbayang saat mereka di lift tadi. Entah kenapa dia yakin sekali kalau Ina punya perasaan yang sama.
Sama disaat dia mengejar Gita dulu setelah rentetan masalah yang memisahkan mereka.
Apakah Ina akan menerima Reza sesuai keinginan sang kakak?
*
*
*
*
Segitu dulu ya.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1