Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Tamu dari Belanda


__ADS_3

"Akhirnya kita kembali ke Indonesia, ya, mas." Sahut Siti saat mereka sudah memasuki pesawat.


"Hmmm..." Lelaki disampingnya masih asyik membaca majalah yang disiapkan maskapai.


"Mas, aku lagi ngomong nih." Siti kesal suaminya lebih pentingin bacaan daripada mendengarkan dirinya.


Seketika matanya melirik wanita yang hampir dua tahun dipersuntingnya. Tekukan wajah itu, membuat sang suami hanya bisa tertawa dalam diam. Tak pelak tatapannya tak terlepas dari sosok di sampingnya.


"Napa lihat lihat kayak gitu?" Siti risih dengan tatapan suaminya.


"Nggak papa, aku cuma bidadari turun dari langit."


"Oh, jadi mas senyam senyum begitu, karena liat pramugari yang sedang berdiri itu, ya. Dasar nggak peka!" Siti memukul Ilham dengan bantal milik Dita.


"Sssttt... nanti anak-anak bangun."


Siti baru ingat kalau kedua twins couple D ikut bersama mereka. Keduanya terlelap dengan nyenyak. Tangan kedua membelai masing - masing putri dan putra mereka.


Siti mencium wangi parfum lavender milik suaminya yang sangat menyengat. Tampak ilham kembali fokus dengan bacaannya. Apalagi perjalanan pulang ke Jakarta memakan waktu 8-9 jam.


Pesawat akhirnya terbang melandas meninggal negeri kincir angin. Senyumnya mengembang, terbayang sambutan ibu Aisyah dan kedua kakaknya Jihan dan Edwar. Siti merindukan semua yang berada di jakarta, padahal baru hampir satu tahun dia meninggalkan ibukota indonesia tersebut.


"Sayang..." Siti samar samar membuka matanya. Tampak senyuman khas yang selalu di nantinya.


Senyuman yang selalu ditemuinya ketika membuka mata.


"Good night, i love you."


"Good night juga, we love you." Mata itu kembali terpejam, rasa kantuk lebih menguasai. Ilham mengalihkan pandangannya ke arah putra putrinya yang baru saja genap satu tahun. Tangan kekar membelai keduanya dengan lembut.


Klik


Bandara Soekarno-Hatta


Pukul 10.00 WIB


Ilham dan keluarga kecilnya akhirnya sampai di ruang bagasi. Selama perjalanan kedua buah hatinya tidak rewel, hal itu memudahkan mereka dalam perjalanan. Apalagi mereka bukan memakai yang umum, melainkan pesawat yang dikirimkan sang mertua, Adolf Ford.


Seperti sebelumnya diketahui Adolf adalah CEO maskapai Asia, selain itu Adolf juga memiliki andil besar dalam ikatan pengusaha se-ASIA. Itu yang memudahkan perjalanan Siti dan keluarga kecilnya. Beberapa tampak Indro yang muncul di ruang bagasi, Siti dan kedua buah hatinya masuk ke mobil sedangkan Indro dan Ilham memasukkan barang.


Tampaknya perubahan cuaca tak membuat dua twins mereka nyaman. Siti harus bergantian menenangkan kedua buah hatinya yang mulai rewel. Ilham melihat kerepotan istrinya pun ikut menenangkan salah satu anak kembarnya. Ajaibnya kedua malah lebih anteng ketika bersama Ilham.

__ADS_1


"Anak papa." Sungut Siti melihat kedua anaknya saling berebut ingin digendong papanya.


"Iya, ini anak papa dan ini istri papa." Sahut Ilham menggoda istrinya.


"Ya, kan memang aku istri papa, nggak ada yang lain kan? Atau sudah ..."


"Ma, omongan itu doa lo." Sahut Ilham.


"Iya, Pa, maaf."


"Nanti dimaafin kalau dirumah. Tunggu hukuman manis menanti."


Siti paham arah ucapan suaminya. Pasti suaminya minta jatah lagi, helaan nafas berat terdengar pelan dari bibir tipisnya. Siti paham sekali suaminya yang memang rada agresif. Meskipun begitu, skala cinta itu tak pernah pudar.


"Ma, jangan mandang papa terus dong." Ilham mengagetkan lamunannya. Seketika wajahnya memerah seketika.


"Mama kenapa?"


"Nggak papa, pa. Mama seneng akhirnya kita bisa pulang kesini. Kita nggak usah balik lagi Belanda ya, pa. Disini aja, disana susah benar cari makanan cocok dilidah, disana susah mendengar kapan adzan terdengar."


"Ya, udah papa saja yang berangkat. Mama tinggal disini saja."


"Emang tahan jauh dari aku?"


"Sepertinya kebalik deh, mama kali yang nggak tahan jauh dari papa. Buktinya saja mama kalau papa ke kampus pasti nelepon. Ada aja alasannya?"


"Ya, wajarkan kalau istri menelepon suaminya."


"Non Tiara, den Rama ... jadi nggak kita berangkat." Indro yang sedari tadi memperhatikan obrolan anak majikannya.


"Astaga, mama nih ajak ngobrol. Kasihan kan Indro nunggu dari tadi."


"Lah, kok mama sih yang disalahkan. Udah pak Indro kita berangkat."


Mobil akhirnya meninggalkan bandara Soekarno-Hatta. Setibanya di rumah mereka disambut dengan keluarga besar Pramono. Ilham memandang suasana rumah yang satu tahun ditinggalkannya.


"Kak ilham."


Seorang perempuan muda berjalan kearah mereka. Ilham dan Siti pun sempat bingung kenapa wanita muda itu ada di rumah mereka.


"Ina. Kok kamu disini?"

__ADS_1


"Ina dititipkan keluarganya untuk melakukan pingitan. Saat ini keluarga Gita tinggal di kediaman Spencer, Jadi karena Alam ada disana maka Ina yang berinisiatif pindah. Mama menempatkan Ina di kamar Keisya." Jelas mama Mila.


Sebentar? Apa yang terjadi pada keluarga Gita sampai harus tinggal di kediaman Spencer. Apakah perusahaannya bermasalah? Atau bagaimana? Ya, Allah begitu banyak kejadian saat kepindahanku.


Siti memandang raut wajah suaminya. Tampak seperti segudang rasa penasaran. Siti yakin suaminya masih memikirkan soal Gita ataupun keluarganya. Pandangannya menunduk. Jujur sampai saat ini rasa cemburunya pada Gita belum pudar, apalagi suaminya sering mengajak tempat yang pernah menjadi kenangan Ilham dan Gita.


Ina memasuki kamar Keisya, pandangannya mengedar ke seluruh sudut kamar. Terlihat sangat luas, rapi dan elegan. Beda dengan kamarnya yang masih terlihat seperti kamar ABG. Ina pernah mendengar tentang Keisya dari teman OB nya, tapi dia baru tahu kalau Keisya dan Ilham kakak adik.


Bokongnya didaratkan pada sudut ranjang. Masih dalam pengenalan ruangan Ina membaca salah satu majalah yang tersusun di nakas. Ina membaca majalah sambil mengusir kesuntukannya. Tatapannya beralih ke sebuah photo bingkai yang tertumpuk di bawah rentetan majalah.


"Na." Ina langsung menutup photo dibingkai.


"Iya, kak Siti."


"Aku pengen ngomong boleh?"


"Silahkan"


Siti mendaratkan bokongnya bersebelahan dengan Ina. Terukir senyum lembut dari bibir istri dokter Ilham tersebut.


"Selamat,ya. Kamu sebentar lagi nikah sama kak Alam, aku harap kamu bisa menjaga kak Alam dan Shasa dengan baik. Aku tahu kamu tadi nyimpan photo kak Alam yang lama, kak Keisya memang mencintai Alam, tapi sayangnya hati Alam hanya untuk Gita.


Kamu tahu, Na. Sepak terjal perjuangan Alam jika dia mencintai seseorang, bahkan dia sampai kecelakaan terbakar tapi saat sembuh orang pertama yang ditemuinya adalah Gita."


Ina hanya menunduk lemas. Dia paham kenapa sampai sekarang Alam belum menyimpan photo-photo Gita. Rasanya penggapaiannya semakin jauh. Terdengar susutan hidungnya, Siti pun sadar bahwa Ina masih di dasari kecemburuan pada Istri pertama.


"Kamu tahu, Na. Ketika aku dan Ilham menjalin hubungan, kami masih di ganjal dengan masalah yang bertubi-tubi, bagaimana transisi perasaan ilham dari Gita terus sama saya, Bagaimana Ilham masih dibayangi sama pernikahannya yang terdahulu, rasa bersalah karena tidak pernah membahagiakan mendiang istrinya, kami melaluinya.


Satu hal yang harus kamu tahu, Na. Jika kamu menjalin hubungan dengan lelaki yang pernah menikah. Kamu harus menerima masalalunya, bukan hanya masa sekarang, apalagi mereka mempunyai anak. Cintai masalalunya, karena kalau tidak karena itu kalian tidak akan bertemu. Cintai anaknya seperti anakmu sendiri, tapi jangan tuntut mereka melupakan ibunya."


Siti masih ingin memberi banyak wejangan pada Ina. Tapi karena suara salah satu si kembar terdengar nyaring, dia memilih pamit dari kamar milik mendiang kakak iparnya. Sepeninggalan Siti, Ina meresapi semua ucapan Siti. Seketika dia menyadari kecemburuannya masih besar pada Gita.


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah

__ADS_1


Bersambu


__ADS_2