Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
65.Mati satu tumbuh yang baru


__ADS_3

Seminggu kemudian


Ina kembali dengan aktivitasnya diperusahaan Spencer. Gadis berusia 19 tahun itu mulai bisa membaurkan diri dengan para pegawai disana. Para staf OB pun mulai ramah pada Ina.


"Na, kamu benar nggak ada hubungan apa-apa dengan pak Ronal?" Tanya Alena saat berbaur dengan Ina di jam istirahat.


"Kenapa? Kak Lena suka sama pak Ronal?"


"Bukan itu, na. Tadi aku lihat photo pernikahan kalian di meja pak Ronal. Aku sudah dua bulan kerja sama dia, tapi baru kali ini liat photo pernikahannya dipajang. Jadi kamu istrinya pak Ronal? Tega benar, ya pak Ronal istrinya dijadikan OB."


Ina tersenyum simpul. Dia sudah menebak kalau orang-orang bakal mengira dirinya adalah Gita. Sepertinya Ina harus terbiasa dengan dugaan itu. Sama saat dirinya pertama membiasakan diri di keluarga Gunawan.


"Bukan, kak. Kebetulan mirip." Jawab Ina kembali fokus dengan makan siangnya.


"Oh, aku kira kamu beneran istrinya pak Ronal. Soalnya mirip." Jawab Alena.


"Ya kali aku udah nikah, kak. Aku baru tamat SMA."


Jam istirahat pun telah habis. Ina dan Alena pun kembali ke ruangan masing-masing. Alena meminta Ina membuatkan kopi untuk Ronal dan tamunya. Dengan cepat Ina membuat kopi untuk tamu bos nya.


"Len, suruh OB nofi buatkan kopi untuk saya dan tuan Gilbert." Perintah Ronal.


"Sudah, pak. Saya sudah minta Ina yang buatkan." Jawab Alena.


"Saya kan suruh Nofi. Kenapa kamu minta sama Ina? Kalau orang kasih intruksi didengerin!" Bentak Alam pada Alena.


"Ma..maaf. Saya tahunya bapak biasa sama Ina. Makanya saya minta Ina yang buatin." Jawab Alena sedikit takut.


Iya aku biasa sama Ina. Tapi mulai sekarang aku membiasakan untuk tidak berurusan dengan Ina.


"Sudah, Nak. Siapapun yang buat tidak usah jadi masalah kan." Tuan Gilbert menenangkan Alam yang sedikit emosi.


Ina akhirnya memasuki ruangan kerja Alam. Menyajikan kopi untuk tamunya. Tuan Gilbert pun mengenali Ina sebagai anaknya Aryo.


"Kamu bukannya anak sambungnya Aryo?"

__ADS_1


"Iya, Bapak kenal sama papa Aryo?"


"Tentu saja. Wah kamu sudah besar, ya. Mama kamu apa kabarnya? Masih aktif di dunia model?"


"Mama sudah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu, Tuan." Cerita Ina.


"Innalilahi wa innalilahirojiun. Kamu yang sabar ya,nak.


Jadi kamu tinggal dimana sekarang? Oh ya apa kabar kakakmu? Apa dia sudah menikah?" Tanya Gilbert.


"Oh ya Tuan Gilbert jadi bagaimana dengan program kerja kita." Alam memotong pembicaraan Ina dan Gilbert.


"Ah, Iya. Saya lupa. Ini adalah anak sahabat saya, Aryo. Oke kita lanjutkan pembahasan kita sampai dimana tadi?"


"Tuan saya permisi dulu." Pamit Ina meninggalkan ruangan bos nya itu.


Ina menghela nafas berat. Dia heran dengan sikap Alam yang seperti kembali ketus padanya. Padahal mereka sudah sempat sepakat berdamai. Karena berjalan sambil memikirkan hal lain, Ina tanpa sadar berjalan menubruk seseorang.


Bruukk!


"Maaf, pak."


Ina menoleh kearah suara, senyumnya mengembang melihat siapa yang menyapanya.


"Kak Eja!" Pekiknya senang melihat sosok didepannya.


Eja alias Mahareza adalah teman terdekat Rangga. Ina sangat mengenal Eja yang sudah seperti kakak sendiri. Tentu saja Ina senang sekali melihat lelaki didepannya.


"Adek kakak sudah gede! sudah tamat belum?" Eja menowel pipi Ina dengan gemesnya.


"Sudah dong, kak. Kakak apa kabar? Kok nggak pernah main ke rumah lagi. Kangen sama eskrim buatan kakak." Ucap Ina manja.


"Inaaaa! Kerja!" Omel Alam.


"Reza kamu ke ruangan saya sekarang." Eja mengikuti Alam yang sudah memasang wajah sangar.

__ADS_1


Ina kembali menjalani aktivitasnya. Dibantu dengan Menik, Ina menerima beberapa permintaan staf lain, seperti photokopi berkas, membuatkan kopi bahkan dia juga disuruh membeli makanan di luar kantor.


Dada Ina sedikit sesak, lalu Ina mengambil obatnya dikantong. Menik melihat Ina mengeluarkan satu botol obat "Itu apa, na?" Tanya Menik.


"Obat kak. Vitamin." Jawab Ina singkat.


Ina ini masih muda tapi sudah minum vitamin. Manja banget! Kelihatan nggak biasa kerja. Batin Menik dalam hati.


Sepasang mata tersenyum melihat Ina dari kejauhan. Pemilik mata itu terus mengikuti langkah Ina sepanjang koridor.


"Apakah aku masih punya kesempatan menikung kamu, Rangga? Sama seperti dulu kita selalu bersaing untuk mendapatkan hatinya."


Mata itu berbalik kembali ke ruangannya, tapi saat berbalik ada sosok yang menatapnya penuh arti.


"Pak?" Sapanya pada lelaki itu.


Tanpa membalas sapaan lelaki itu hanya melengos saja.


Angel baru saja sampai diruangan Alam. Hari ini dia yang akan menemani Shasa seperti permintaan Alam. Sepanjang pengasuhan Angel, Shasa terus menangis. Padahal Angel sudah termasuk sabar menghadapi Shasa.


Ina yang mendengar tangisan Shasa pun tergerak mendekati ruangan Alam. Saat mendekati ruang kerja Alam, lelaki itu muncul mengusir Ina.


"Kamu ngapain?"


"Itu Shasa nangis, Lam."


"Kan ada Angel. Kamu urus tugas kamu saja." Alam menutup pintu ruang kerjanya dengan keras.


Hari ini sungguh mengejutkan. Bertemu dengan orang yang membuka ingatanku padanya. Ya Allah kuatkan hati hamba, buatlah perasaan ini hilang tak berbekas.


Aku rasa perasaanku pada kak Rangga harus berhenti sampai disini.


Jika dia tak datang menemuiku artinya dia sudah menikah dengan kak Jihan.


Aku pun harus menerima kenyataan kalau kami memang tak berjodoh.

__ADS_1


Ina berdiri disalah satu balkon kantor memandang langit. Seminggu yang lalu dia dihempas badai karena mendengar Rangga akan menikah.


Tapi sekarang dia akan membuka lembaran baru untuk masa depannya.


__ADS_2