
Suasana di rumah sakit masih terasa lenggang dan tenang. Padahal masih siang hari, tampak beberapa petugas kesehatan berlalu lalang melaksanakan tugasnya. Terlihat sorot kejenuhan yang melandanya, kata andai pun menari dalam pikirannya, Andai kakinya tidak terkilir dia bisa berjalan kesana kemari. Sekarang dia hanya pasrah menunggu suaminya sibuk dengan urusan penangkapan Gilang.
"Aku nggak tahu kalau Gilang pernah mencoba melecehkanku. Dia emang keras orangnya, tapi kalau sampai melecehkan wanita? ckckckckcck..."
Ina terkejut ketika ada yang memegang pundaknya. Seketika dia menoleh kearah sosok yang mendekatinya.
"Karina, kan?" Tanya sosok itu.
"Leo..." Sosok tersenyum mengangguk ketika Ina mengenalinya.
"Kamu apa kabar, Na? Kamu tambah cantik saja."
"Alhamdulillah saya baik. Kamu apa kabar?"
"Ya, seperti yang kamu lihat saya sehat-sehat saja. Makin ganteng pula."
Ina menonjok bahu Leo. Tampak lelaki itu meringis karena tonjokannya kuat.
"Kamu mah dari dulu suka benar nonjok bahu orang."
"Sama kamu dari dulu suka benar narsis."
"Oh ya bagaimana kabar Laras? Aku dengar dia nikah sama anak pengusaha, Ya. Mantap juga seleranya, pantas aja pas SMA dia nolak aku. Tapi nggak apa-apa lah kan ada kamu."
"Eheeemmm..."
"Oh, ya. Ini ada nomor telepon aku. Kalau kamu mau jalan, curhat dan segala macam hubungi aku saja. Aku akan siap untuk kamu."
"Leo, maaf aku..."
"Eheeeeeemm ..." lagi-lagi terdengar deheman dari belakang.
Sebuah tangan mengambil kartu nama yang dipegang Ina. Lalu mengembalikan kartu itu ke pemiliknya.
"Dengar, ya. Karina tidak butuh curhat sama siapapun apalagi sama cowok macam kamu. Jadi simpan kartu ini untuk perempuan lain, paham!"
"Bapak ini siapa?"
"Karina coba perkenalkan saya didepan cowok ini."
"Leo, ini suamiku."
__ADS_1
Leo membulatkan matanya mendengarkan pengumuman dari Ina.
"Serius kamu dah nikah, Na?" Pertanyaan Leo seolah masih tidak percaya.
"Iya aku sudah nikah semalam." Jawab Ina.
"Na, aku ke dalam dulu. Ambil obat adikku?"
"Adik? Maksud kamu Rasya." Ina mengenal Rasya teman sekelasnya.
"Iya, aku duluan ya." Leo langsung menghilang dari hadapan Ina dan Alam.
Seketika tangan Ina langsung mencubit perut suaminya. Ada rasa gemas melihat sikap Alam yang cemas.
"Aaaauuuwwww... sakit sayang." Alam meringis ketika cubitan istrinya terasa dalam.
"Kamu tuh bikin malu saja, itu Leo teman sekolahku. Mamanya Leo itu teman kerja mamaku." Jelas Ina.
"Uluuuuh .. kamu tuh cemberut makin cantik. Pertahankan,ya." Alam menowel kedua pipi Ina saking gemes.
"Nggak lucu!" Ambek Ina.
"Kamu aja udah lucu sayang. Nggak perlu yang lain, lagian kamu ngambek kayak gini cuma demi orang tadi." Alam menggeleng melihat sikap istrinya.
"Yang, aku laper. Daritadi pengen jajan tapi kamu tahu kan gimana kakiku?"
"Naik kesini, sayang." Alam mengjongkokkan badannya.
"Ih, malu ah. Banyak orang ini." Protes Ina.
"Udah nggak usah bawel. Nurut kata suami." Pada akhirnya Ina naik ke punggung Alam. Mukanya merah padam karena merasa jadi tontonan. Ina menenggelamkan wajahnya di bahu Alam. Sementara Alam hanya tersenyum menang melihat tingkah Ina.
...****...
Sementara masih di rumah sakit, tampak seorang wanita yang sedang di rundung kesedihan. pemilik wajah sendu itu tak pernah beranjak dari ruang rawat sang anak. Meskipun dia tahu kalau anaknya sangat membenci dirinya.
Maudy, Rio dan Yoshida masih setia menunggu Grace sadar dari tidur panjangnya.Seburuk apapun hubungannya dengan sang putri Grace tetap anaknya. Ayah Grace telah lama meninggal dunia saat putrinya balita. Dia pun akhirnya merintis usaha snack ringan yang sekarang di kelola putrinya.
Dari usaha itu Maudy mengenal Yhosida turis yang sedang liburan diindonesia. Tak berapa Yhosida mengajaknya menikah dan menetap di Jepang. Saat Grace SMP, Maudy pun menyekolahkan anaknya diindonesia, Grace pun besar di keluarga Gunawan. Hingga saat kelas 3 SMA, Grace hamil dengan pacarnya lalu dinikahkan. Grace yang sempat minta ikut pindah ke Jepang tak di kabulkan mengingat Maudy masih kecewa dengan putrinya.
Grace saat ini masih berjuang melawan maut. Setelah mendapat penanangan dari para medis beberapa jam yang lalu, dokter menyatakan kalau Grace mengalami pergesaran otak. Bahkan menyimpulkan kesempatan sembuh sangat tipis dan kalaupun sembuh Grace akan mengalami kelumpuhan total. Itu di akibatkan benturan keras saat kecelakaan terjadi.
__ADS_1
Dari informasi yang di dapatkan, Mobil Grace sedang hendak memutar balik malah di kejutkan dengan lintasan truk yang sedang lewat. Namun dari penemuan polisi, rem mobilnya sudah blong sebelum kecelakaan terjadi. Grace mengalami kecelakaan tak jauh dari kantor Gunawan Corps.
"Kak Lia tolong maafin Grace. Aku tahu yang dilakukannya sangat fatal. Tapi tolong maafin Grace, supaya dia bisa melewati semua ini. Mungkin benar yang dibilang Gery tadi. Grace seperti karena terpengaruh dengan Gilang, walaupun aku juga tidak menyangka kalau Gilanglah yang membuat usaha kami bangkrut. Gilang dulu adalah sopir keluarga Grace. Karena ketekunan dan banyak membantu pengembangan ide usaha, makanya dia direkrut Grace dari staf biasa hingga ke manajer. Terus Grace dapat info kalau Gilang adalah tamatan universitas di Seoul. Sejak saat semua keperluan kantor diserahkan sama Gilang.
Maka itu Grace sangat sayang pada Gilang. Rasa sayangnya sama rata dengan Gery, apalagi semua keluarga Gilang meninggal tsunami di palu."
Maudy menceritakan perjalanan Gilang saat masuk di keluarga mereka. Awalnya dia juga tidak langsung percaya dengan lelaki itu. Tapi melihat kesungguhan Gilang dalam bekerja, maudy pun ikut luluh. Bahkan saat Grace dekat dengan David, Maudy meminta Gilang mencaritahu tentang David. Saat mendapat info David hampir menodai tamunya Yulia, Maudy langsung memenjarakan David. Tapi dia juga tidak menyangka kalau Gilang malah menusuk dari belakang. Lelaki yang sudah seperti cucunya sendiri.
klik
"Kita kemana sih, Mas?"
"Jalan-jalan lah. Katanya lapar ini sudah jam makan siang lo."
"Ya, tapi kemana?"
"Pokoknya ada deh. Tapi kamu tutup mata dulu." Alam mengambil kain menutup mata istrinya.
"Gelap, mas. Ngapain pake tutup mata segala sih?" Ina berdecak kesal.
Alam hanya tersenyum kecil mendengar omelan istrinya. Tatapannya hanya fokus pada kendaraan yang di kendalikannya. Tangan satunya tak melepas genggaman di jemari sang istri.
Mobil terus melaju mengelilingi kota Jakarta. Hiruk pikuk keramaian kota masih terasa meskipun masa pandemi.
Ina merasakan mobil sudah berhenti. Sayangnya dia tak tahu dimana suaminya mengajaknya. Dengan pandangan yang masih gelap mereka berjalan menuju lokasi yang dituju. Ina merasakan wangi jati seperti berada di sebuah hutan. Entah kenapa dia sangat hapal lokasi ini.
"Kita sudah sampai, sayang. Sekarang aku sedang jongkok di depanku. Kamu naik ke punggungku."
Masih dalam mode gelap Ina meraba ke punggung suaminya.
"Pegang kuat-kuat!"
Tap!
Tap!
Terdengar suara sedang menaiki tangga. Ina memegang kuat-kuat pundak suaminya.
"Kita sampai"
Alam membuka kain penutup mata Ina.
__ADS_1
"Kamu siap? Satu ... dua ... tiga ....!"