
"Lam"
Ina terperangah mendengar ucapan Alam barusan. Menikah? sedangkan dirinya berkali-kali mengatakan pada lelaki itu belum bisa menikah. Bukan dia tak senang, siapa sih yang tidak mau menikah?tapi sekarang situasinya sedang buruk. Dimana dua keluarga sedang bermusuhan dan sekarang lelaki itu membahas pernikahan.
"Iya, aku tahu, Na. Aku tahu kamu mau bilang belum mau menikah sekarang. Tapi paling tidak ada ikatan diantara kita. Aku akan menunggu kamu selesai kuliah."
"Tapi aku nggak biasa LDR." Jawab Ina lantang.
"Apa itu kau menolakku? Bukankah kita sudah saling berjanji akan memulai dari awal. Kenapa sekarang berubah lagi, Na. Mau kamu apa?"
"Maaf." Ina hanya menunduk.
Alam mendekati Ina dengan menggenggam kedua tangannya.
"Kamu percaya sama aku? Selama kita jauh aku akan menjaga cinta kita. Kamu tahu, Na. Aku benar-benar serius sama kamu. Jadi please, kamu jangan meragukan cinta kita."
Ina yang tadi menunduk menatap lelaki dihadapannya. Alam menggenggam tangan Ina, lalu menyematkan cincin dijarinya.
Na, kamu tahu kenapa kakak tidak setuju dengan Alam. Waktu pacaran sama Gita, dia pernah balikan sama mantannya bahkan hampir menikah. Gita sempat depresi dan kami harus melakukan cuci otak agar dia melupakan Alam.
Kamu tahu, Na ... saat mereka sudah menikah Alam pun kepergok berduaan dengan sekretarisnya dalam kamar hotel di Bali.
Sontak Ina mencoba melepas cincin yang sedang meluncur di jari. Lalu mengembalikan ke tangan Alam. Ada rasa tidak percaya pada lelaki didepannya. Suara suara sumbang tentang masa lalu Alam lmembuatnya ragu untuk mempercayai.
"Na, aku tahu kamu masih meragukan perasaanku. Aku tahu mungkin sudah banyak kamu mendengar tentangku versi mama Lia. Tapi satu yang harus kamu tahu, saat ini yang bernaung dihatiku hanya kamu. Hanya kamu, Karina."
"Lam, ada beberapa pertanyaan yang ingin kuajukan?"
"Silahkan"
"Apa benar kamu memaanfaatkan Gita demi kembali ke mantan pacarmu?"
"Tidak. Aku bahkan tidak jadi menikah dengan Dinda. Dia sendiri yang membatalkan pernikahan kami. Aku dan Dinda hanya dijodohkan keluarga kami."
"Lalu keisya?"
"Sama seperti Dinda, hanya perjodohan keluarga."
"Nabila?"
Alam terdiam saat mendengar nama Nabila.
"Kenapa diam? Apakah dia termasuk wanitamu juga?"
"Bukan. Dia hanya mantan sekretarisku saja."
"Oh, ya. Sekretaris yang kepergok dikamar berdua di Bali."
"Na, bisakah kita tidak melihat masa lalu? bisa kita membahas tentang kita saja."
"Kenapa? Kamu takut? bukankah lebih baik kita saling tahu agar tidak menjadi bumerang untuk kedepannya. Aku nggak mau kalau suatu saat orang-orang yang berkaitan dari masa lalumu masuk dalam hubungan kita. Termasuk soal Gita, maaf kalau terdengar egois."
Alam menarik Ina untuk kembali ke apartemen. Dia akan mengumpulkan keluarga besarnya untuk mengumumkan hubungan mereka.
"Kemana?" Tanya Ina.
__ADS_1
"Pulang ke apartemen mengumumkan hubungan kita."
"Tapi, Lam. Kamu tahu sendiri kan kakakku dan Tante Marni..."
"Dengan atau tanpa restu mereka aku akan tetap memperjuangkan cinta kita."
"Aku takut." Ina menghentikan langkahnya di koridor tangga.
Alam memeluk Ina guna menenangkan kegalauan kekasihnya. Terdengar tangisan kecil dari bibir mungil "Kamu tenang, sayang. Ada aku disini, ada aku yang tidak akan pernah meninggalkanmu. Kita akan berjuang bersama.
Na, sebelum kita menemui keluarga kita, aku tanya sekali lagi. Maukah kamu menjadi istriku, ibu untuk anakku nanti." Ina hanya mengangguk lemah.
Alam dan Ina baru saja turun dari lantai atas tak jauh dari posisi berdiri mereka. Sepasang mata yang menatap nanar kearah mereka. Mata lentiknya seperti habis menangis.
Iya, daridulu dia tak pernah memandangku. Kupikir setelah Bu Gita tiada, aku bisa mengubah hatinya. Tapi ternyata aku salah. Jika Ina hanya beruntung karena wajahnya mirip mendiang bu Gita. Seandainya wajah Ina bukan mirip, mungkin aku bisa mendekati hatinya. Percuma aku menyamar kalau seperti ini.
POV Alam
Pagi ini kuberanikan diri untuk melamarnya. Aku tahu, bukan sekali dua kali Ina menekankan bahwa dirinya tak ingin menikah muda. Dia selalu memintaku agar menunggunya setamat kuliah.
Benar saja saat kuutarakan lamaranku dia malah mengembalikan cincin yang baru saja kusematkan di jarinya. Aku cuma ingin ada ikatan yang resmi diantara kami. Itu saja!
Dalam perjalanan menuju apartemen kami hanya diam. Sesekali kulirik sosok yang berada disampingku. Aku tahu dia pasti memikirkan reaksi yang akan terjadi nanti. Aku pun sudah terbayang dengan reaksi yang akan mereka timbulkan. Tanganku dan tangannya saling menggenggam, saling menguatkan, seakan mengatakan kami akan tetap bersama apapun yang terjadi.
"Na."
"Hmmm.."
"Besok, mau kan mendampingi aku diacara tuan Okada."
"Iya, tapi dia juga ikut kok."
"Dengan menjadikan dia nyamuk gitu?" Dia tersenyum seakan tertawa karena Alena bakal jadi sadgirl.
"Dia ikut karena jabatannya sebagai sekretarisku. Dan kamu ikut sebagai calon istriku."
"Aku belum bilang iya."
"Kamu nggak bilang aku sudah tahu kamu akan menerimaku."
"Ih ge-er." Tangannya mendorongku dengan manja. Dengan aku menarik tangannya untuk ku kecup.
"I love you"
"I won't say I love you. but I'm by your side forever. "
"Kreatif, dong. Itu bukannya aku yang duluan ngomong." ucapku.
Kami tertawa bersama. Ada rasa bahagia menyelinap dihati. Walaupun dia bukan yang pertama bagiku, tapi aku berharap dia yang terakhir sampai akhir hayat.
"Kamu siap"
Aku merasa tangannya seperti berkeringat. Aku paham perasaannya pasti gugup. Apalagi mempertemukan kedua keluarga yang sudah lama bersitegang. Dengan rasa yakinku, sebisanya menguatkan hatinya. Sama saat dulu aku meyakinkan keluargaku untuk melamar Gita yang sedang kemo di Malaka.
"Aku takut" Genggaman erat semakin terasa di jemarinya.
__ADS_1
"Kamu tenang, ya. Kita akan melaluinya bersama."
"Tapi..."
Kami sudah berdiri didepan apartemen mama Lia. Dengan bismillah kami masuk menemui dua keluarga yang sudah berkumpul.
"Assalamualaikum mama Lia, mama mertuaku yang sudah seperti ibuku sendiri. Assalamualaikum papa Abdullah dan semua keluarga yang ada disini. Saya mau meminta izin pada kalian untuk meminang Karina.
Saya paham status hubungan kami menjadi halangan untuk menerimanya.
Buat mama Lia, saya sebagai menantu meminta izin untuk restunya, agar kami bisa melanjutkan hubungan ke jenjang lebih serius. Alam janji akan membahagiakan Ina. Alam janji tidak membuat Ina bernasib sama dengan Gita."
Aku duduk dihadapan mama mertuaku, bersujud dibawah kakinya. Dengan harapan bisa melunakkan hatinya.
"Ma, tolong restui kami."
"Ina, masuk ke kamar!" Kudengar suaranya seperti mengeluarkan amarah.
"Aku tidak mau!"
"Kakak bilang masuk! Rio bawa Ina kekamarnya."
"Dan kamu, Lam. Ina itu masih kecil, masa depannya masih panjang. Jangan kamu mengandalkan pikiranmu saja, itu egois namanya. Biarkan dia mengejar cita-citanya.
Dan mama tidak akan merestui kalian. Mama tidak akan pernah mau Ina mengalami apa yang Gita alami. Selama Marni masih hidup kalian tidak akan bahagia. Karena apa? Karena dia sumber utama apa yang Gita alami."
"Kakak!"
Aku merasa sesak mendengar Ina menjerit dari dalam kamar. Terdengar gedoran berkali-kali, membuat aku tak tahan untuk mengeluarkannya. Kulihat kunci masih tergantung didepan pintu. Langkahku terhenti saat Rio menahan tubuhku.
"Kita pulang, Lam. Jangan kamu jatuhkan harga dirimu didepan mereka. Sudah sopan kamu meminta restu pada mereka. Ayo, nak kita pulang. Masih banyak gadis lain yang bisa menerimamu apa adanya." Papa Bobby membawaku keluar dari apartemen mama Lia.
Apakah Harus yang aku lakukan ?
Apakah salah jika kami saling mencintai?
Hanya karena dia adalah adik mama mertuaku?
Klik
Setelah keluarga Spencer pnergi, Yulia duduk menghempas tubuhnya diatas sofa. Kejadian tadi sungguh menyesakkan dadanya. Apalagi terkait masa depan adiknya.
"Na, maafin kakak. Bukan maksud kakak mengekangmu. Kamu masih muda, masa depanmu masih panjang. Kakak cuma mau kebahagianmu, bukankah kamu sendiri yang bilang kalau ingin membuat mamamu bangga diatas sana."
Yulia membuka kunci pintu kamar adiknya. Tak lama terdengar pekikan "Riooo... tolong panggil ambulan!"
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
__ADS_1
Bersambung