Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
112. Penolakan Alam


__ADS_3

"Pa, perusahaan kita lagi bermasalah mana mungkin aku pergi mengikuti undangan teman papa." Protes Alam.


Saat ini yang dia pikirkan hanyalah kasus penyalipan proyek yang dilakukan Damar. Sudah pasti tidak akan ada waktu memikirkan liburan ke luar negeri. Alam tidak mau selama dia pergi pekerjaannya semakin kacau.


"Kau tenang saja, Lam. Papa sudah mengerahkan orang kepercayaan papa untuk mengurus hal ini." Jelas Bobby.


"Tapi, pa?" Sela Alam.


"Papa tidak suka penolakan. Kamu tahu, Lam perusahaan kita dengan perusahaan tuan Okada itu sudah bekerja sama dari beberapa tahun yang lalu. Dan proyek yang dikerjakan Tuan Okada itu juga termasuk proyek perusahaan kita.


Bukankah ini bisa jadi kesempatanmu juga untuk menyelesaikan masalahmu dengan Ina."


"Taaa...pi..."


"Aku tidak punya masalah dengan Ina, pa. Lagian dia sudah memutuskanku. Jadi buat apa dikejar lagi." Nada bicara Alam terdengar pasrah.


"Hei, mana anak papa yang bermuka tembok. Kenapa jadi ciut begini? Mana Alam yang dulu tidak menyerah mengejar Gita walaupun dia sudah berpaling pada laki-laki lain. Mana anak papa yang dulu?" Bobby menyemangati putra tirinya.


Bobby ingat saat Alam sudah putus dengan Gita karena sebuah kesalahpahaman yang rumit. Bagaimana putranya pantang menyerah mengejar Gita. Bagaimana putranya tetap mendekati Gita walaupun nyawanya hampir saja melayang.


Tapi sekarang Lelaki didepannya ini mulai menyerah. Apakah perasaan Alam pada Ina tidak sekuat saat bersama Gita? Hanya Alam yang tahu. Tapi Bobby dan Marni tidak akan memaksa Alam lagi. Dia yakin putranya tahu mana yang terbaik.


"Papa tidak mau tahu! pokoknya akhir bulan ini kamu berangkat ke Jepang. Ini menyangkut perusahaan kita juga. Kamu mau saham kita dicabut Tuan Okada?" Alam hanya menunduk lalu menggelengkan kepala. Dia tidak mau mengecewakan Bobby tapi juga belum mau menemui Ina.


Rasa sakitnya saat membaca surat dari Ina masih membekas dihatinya. Jika dia menemui Ina berarti harus menurunkan harga dirinya sebagai lelaki. Bukankah Ina sendiri yang menuliskan kalau dia hanya kasihan pada Alam? Jadi untuk apa dia menemui gadis itu.


"Pak" Suara Alena yang sudah duduk disampingnya. Alam meminta Alena mengecek berkas dilaptop, Lena menyanggupinya tak lama gadis itu mulai mengerjakan tugas dari bosnya.


Sementara itu Alam kembali ke kamar untuk mengecek keadaan putrinya. Shasa yang usianya 1 tahun dua bulan sudah lancar bicara. Terlihat putri kecilnya asyik bermain bersama Reki, putra bungsu Roki. Tampak Shasa mau mobilan milik Reki tapi sang kakak tidak mau memberikan.


"yaayah, ak ei akal ( ayah, kak reki nakal)" Adu Shasa pada Ayahnya.


"Kan itu mainan cowok, nak."


"Ca uga au, yah. ( ca juga mau yah)" Rengeknya.


"Nanti ayah belikan yang gede buat Shasa. Tapi Shasa main yang ini saja ya." Alam memberikan barbie pada putrinya.


Gadis kecil itu menolak barbie pemberian ayahnya. Dia masih merengek minta mobilan balap yang berwarna merah tersebut. Rere yang melihat memberikan mainan Reki yang lain. Tampak Reki protes karena mainannya beralih ke adik sepupunya.

__ADS_1


"Kak."


"Iya."


"Kakak bisa menemui mas Roki dipenjara? Iya aku tahu kakak masih marah pada suamiku setelah yang dia lakukan pada kalian. Tapi tolong temui dia, kak." Mohon Rere.


Alam hanya terdiam. Sebenarnya dia sudah memaafkan Roki. Hanya saja rasa gengsi masih membelenggunya. Alam hanya tersenyum pada Rere. Membuat wanita itu bingung dengan arti dibalik senyuman kakak iparnya.


"Insyaallah." Hanya itu yang keluar dari mulut Alam. Lelaki itu keluar dari kamarnya.


"Sudah, pak." Ucap Alena yang sudah menggantung tas dibahunya.


"Kamu mau kemana? Kan saya belum periksa pekerjaan kamu."


"Maaf, pak. Saya ada urusan penting. Nanti setelah selesai saya kembali kesini."


"Ya, Sudah kalau begitu." Alam mempersilahkan Alena pergi.


Bobby melihat gerak-gerik Alena langsung memerintahkan anak buahnya mengikuti sekretaris anaknya. Tanpa Alena sadari, sejak tadi dia diawasi oleh Bobby. Apalagi saat dia menerima telepon yang menurut Bobby mencurigakan.


klik


Raya Kalendina berjalan menuju ruang kerja suaminya. Saat ini dia menggantikan Rangga yang pergi ke Jepang mengurusi Thunder corps yang sedang ada masalah. Dengan anggun Raya mendaratkan bokongnya di sofa ruangan suaminya.


Wanita berusia 50-an ini memeriksa beberapa barang yang ada diruangan Donal. Entah apa yang merasukinya hingga sampai seperti itu. Donal yang melihat kelakuan istrinya hanya menggeleng-geleng kepala. Dia yakin istrinya berpikir soal perempuan simpanan yang jadi gosipan beberapa bulan ini.


"Ma" Donal membenamkan kepalanya dileher istrinya.


"Mama masih curiga sama papa." Tanya Donal.


"Aku tahu kalau aku sudah tua, mas. Nggak menarik lagi dimatamu. Tapi please jangan menyimpan perempuan lain lagi. Cukup ceraikan aku jika sudah tak cinta lagi."


Donal menutup bibir istrinya dengan telunjuk. Lelaki itu mencoba meyakinkan istrinya kalau dia tidak selingkuh. Hanya saja saat ini ada seorang famili yang sedang dia bantu perekonomiannya.


Donal dan Raya duduk bicara dari hati ke hati. Walaupun mungkin akan sulit meyakinkan istrinya. Raya tidak asal menuduh, dia menemukan hasil transferan suaminya ke rekening lain, yang ternyata milik seorang wanita yang bernama Kumalasari. Raya yakin kalau itu milik perempuan simpanan suaminya.


"Bu, ini kopinya." Salah seorang OB mengantarkan kopi pesanan Raya.


"Bentar?" Raya mencegat OB tersebut untuk keluar ruangan.

__ADS_1


"Ini kamu yang buat?" Tanya Raya.


"Bukan, Bu. Ada OB baru yang buat."


"Panggil dia." Titah Raya.


"Baik." OB tersebut langsung meninggalkan ruangan.


Mampus si OB baru. Pasti dia bakal dimarahi sama bu Raya.


OB tersebut langsung menemui gadis yang dicari bos.


"Ras, kamu dipanggil bu Raya."


"Saya? kenapa? Apa kopi buatan saya tidak enak."


"Sepertinya begitu, Ras. Kelihatan dari wajahnya mulai pucat saat mencoba kopimu. Cepetan minta maaf sebelum dia memecat kamu."


Laras langsung terburu-buru menemui atasannya. Sudah seminggu Laras bekerja di perusahaan Donal. Lowongan yang direkomendasikan Ina untuknya. Laras tahu kalau itu perusahaan keluarganya Rangga.


"Maaf,bu. Atas kecerobohan saya. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Asal jangan pecat saya, saya mau membantu pengobatan ibu saya soalnya."


"Nama kamu siapa?"


"Larasati, bu." Jawab Laras takut-takut.


"Larasati, mulai sekarang kamu yang membuat kopi untuk saya, anak saya dan suami saya. Saya justru suka sama kopi buatanmu."


Laras hanya melongo mendengar ucapan Raya.


*


*


*


Yang menunggu Alam dan Ina bertemu sabar,ya. Pasti mereka akan bertemu, cuma nggak bisa janji bakal ada yang sweet. Masih mode ngambek merekanya.


Happy reading.

__ADS_1


__ADS_2