
Setelan jas pink dengan style simple membalut tubuh Ina yang berkulit kuning langsat. Dipadu dengan sepatu teplek senada dengan tas yang dipegangnya. Ina melenggang dengan santai di karpet merah yang digelar pihak acara. Beberapa wartawan tampak mengabadikan Ina dengan kilatan lampu camera. Padahal dia bukan tamu penting. Hanya disuruh mendampingi bos nya. Pastinya hal yang bikin Ina gondok, bos nya lebih sibuk sama Angel.
Berbeda dengan Ina. Angel tampak lebih Anggun senada dengan pakaian yang dikenakan Alam. Walaupun begitu, wajah Alam tampak tak nyaman dengan gandengan Angel. Tapi mengingat ada Gita dalam diri Angel, dia mencoba menghormati. Apalagi dengan penuh percaya diri gadis itu muncul di rumahnya. Padahal dia tidak mengajak gadis itu atau menceritakan soal acara ini.
Alam memandang Ina yang menjadi sorotan wartawan. Tampak Ina seperti risih dengan kilatan blitz kamera. Dengan cepat lelaki itu menarik tangan tante mertuanya. Cepat-cepat mereka masuk ke aula acara.
"Terimakasih. Sumpah banyak banget wartawan, serem aku lihatnya." Keluh Ina setelah sedikit bernafas lega.
"Kamu harus jaga sikap. Jangan norak kayak tadi, sok sokan masang diri dekat wartawan. Ingat acara kita ini disorot 5 stasiun tv, paham!" Ucap Alam masih terdengar tegas.
Ina memasang wajah kesal. Pasalnya dia tidak merasa seperti yang dituduhkan Alam.
"Iya, Paham!" Jawabnya sambil cemberut.
Ina mencoba memisahkan diri Alam. Tapi lelaki itu malah menarik tangannya.
"Kamu jangan jauh - jauh. Nanti kalau kamu kesasar atau ada yang macam-macam kan aku yang repot." Omel Alam.
Ina melipat tangannya saat lelaki itu menahannya pergi. Decakan remeh terdengar dari suara gadis itu.
"Hey, kamu lupa sekarang bukan lagi sebagai bodyguardku. Daripada urusin aku, mending kamu urusin tuh calon istrimu." Semprot Ina lalu meninggalkan Alam.
"Na..."
"Apa.."
Alam menarik tubuh Ina. Lalu mengunci tubuh gadis itu dengan kedua tangannya. Ina kaget saat jarak wajah mereka terlalu dekat. Lama mereka bertatapan tanpa sadar Alam mencondongkan wajah ke bibir Ina.
Hangat!
Itulah yang mereka rasakan saat bibir mereka menyatu. Ina menggenggam erat kerah baju Alam seakan menikmati bibir lelaki itu.
"Lepaskan!" Ina sedari tadi mencoba melepaskan tangannya.
Ternyata adegan tadi hanyalah hayalan Alam semata. Sementara Ina sedari tadi meronta meminta lelaki itu melepaskan tangannya.
Astaga, kenapa aku memikirkan hal itu sih.
Alam mendengus kesal. Ina sudah menjauh dari genggamannya. Kakinya melangkah mengikuti arah gadis itu melangkah. Tampak beberapa staf acara menyerahkan sebuah kertas pada Ina.
"Kamu jadi MC nya." Ucap salah satu panitia acara.
"Jangan saya, pak. Saya belum pernah bicara depan umum." Tolak Ina.
Yang benar saja aku jadi MC. Bicara depan umum saja aku grogi.
Ina mencoba mempelajari skrip yang ada dihadapannya. Berkali-kali Ina mencoba menghapal diluar kepala tapi ternyata susah. Ina menyerah lalu mencoba mengembalikan scrip karena merasa tidak sanggup.
"Maaf, pak saya tidak bisa." Ina akhirnya lega setelah mengembalikan naskah tersebut.
Ina masuk ke aula acara dimana banyak tamu-tamu penting yang datang. Tubuhnya didaratkan pada sebuah kursi didekat panggung. Menatap seorang penyanyi solo yang bernama Virgoun melantunkan sebuah lagu.
Lihatlah luka ini yang sakitnya abadi
__ADS_1
Yang terbalut hangatnya bekas pelukmu
Aku tak akan lupa
Tak akan pernah bisa
Tentang apa yang harus memisahkan kita
Di saat ku tertatih
Tanpa kau disini
Kau tetap ku nanti
Demi keyakinan ini
Jika memang dirimulah tulang rusukku
Kau akan kembali
Pada tubuh ini
Ku akan tua dan mati
Dalam pelukmu
Untukmu seluruh nafas ini
Kita telah lewati
Bukan hal baru
Bila kau tinggalkan aku
Tanpa kita mencari
Jalan untuk kembali
Takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku
Di saat ku tertatih (saat ku tertatih)
Tanpa kau disini (tanpa kau di sini)
Kau tetap ku nanti
Demi keyakinan ini
Jika memang kau terlahir
Hanya untukku
Bawalah hatiku dan lekas kembali
__ADS_1
Ku nikmati rindu yang datang membunuhku
Untukmu seluruh nafas ini
Dan ini yang terakhir (aku menyakitimu)
Ini yang terakhir (aku meninggalkanmu)
Tak kan ku siasiakan hidupmu lagi
Ini yang terakhir
Dan ini yang terakhir
Tak kan ku sia siakan hidupmu lagi
Jika memang dirimulah tulang rusukku
Kau akan kembali
Pada tubuh ini
Ku akan tua dan mati
Dalam pelukmu
Untukmu seluruh nafas ini
Jika memang kau terlahir
Hanya untukku
Bawalah hatiku dan lekas kembali
Ku nikmati rindu yang datang
Membunuhku
Untukmu seluruh nafas ini
Untukmu seluruh nafas ini
Alam memejamkan matanya meresapi lagu tersebut. Seakan tercubit karena lagu itu membuka kenangannya pada mendiang istrinya yang sudah 10 bulan meninggalkan dirinya. Lagu ini bahkan mengingatkan dirinya pada janjinya untuk tidak jatuh cinta lagi dan tidak menikah lagi.
Maafkan aku, Gita. Aku sudah melupakan janjiku dulu.
Tiba saatnya acara dimulai setelah sejenak terhibur dengan iringan lagu dari Virgoun.
"Selamat malam semua. Terima kasih atas kehadiran para hadirin sekalian disini."
Terdengar suara MC yang menandakan acara akan segera dimulai. Ina yang tadinya fokus ke gawai beralih ke MC, matanya berbinar ketika tahu siapa yang membawakan acara.
Ina melambaikan tangannya saat sang MC mengarahkan pandangan pada dirinya. Lalu gadis itu memberikan jempol pada si MC tadi.
__ADS_1
Dari jauh Angel melihat sosok lelaki yang jadi tamu di acara tersebut "Aduh, ada papa. Mampus aku!"