
Sebelum akad
Suasana dirumah sakit terasa mencengang, apalagi lorong-lorong koridor terasa sepi dan mencekam. Padahal masih subuh, Rangga duduk di pinggir koridor. Tangannya berselancar menghubungi keluarganya.
"Ma, Laras sekarang di rumah sakit. Semalam dia kecelakaan nggak jauh dari rumahnya."
"Aduh, Rangga kamu ini nggak bisa menjaga istri kamu. Kalau ada apa-apa sama calon anak kamu gimana?"
"Calon anak gimana,ma? Laras aja belum hamil, dia malah sedang haid sekarang."
"Pokoknya sesudah ini kalian periksa lagi!"
Terdengar Raya menutup teleponnya dari seberang sana. Helaan nafas berat terdengar dari nada baritonnya. Rangga mengacak rambutnya berkali-kali, seakan ada beban berat yang terus menghimpit.
"Bagaimana mungkin aku menjelaskan pada mama dan pada Laras soal semua ini. Kalau aku bilang sama mama, pasti kasihan Laras. Kalau aku bilang sama Laras, dia pasti down. Pasti kemarin-kemarin mama sudah menuntutnya macam-macam. Ya Allah apa aku harus menyembunyikan semua ini pada mereka." Keluh Rangga.
Sementara di sebuah ruang rawat, Laras terbangun tidak mendapati suaminya diruangan. Dia mencoba menggerakkan kakinya untuk turun dari ranjang, tapi ternyata rasa sakit yang dirasakannya. Ada sedikit kecemasan yang melanda saat melihat kondisi kakinya.
Tampak suster memasuki ruangan untuk memeriksa.
Laras bertanya pada suster kenapa kakinya tidak bisa bergerak. Suster menjelaskan kalau itu hanya sementara saja. Seketika Laras merasa lega mendengarnya.
"Suami saya mana,sus?" Tanya Laras.
"Maaf, bu. saya tidak tahu. Oh ya, bu. Nanti ada dokter Hana yang akan memeriksa anda."
"Terimakasih, Sus." Laras merebahkan tubuhnya di ranjang.
Ceklek!
Rangga masuk ke ruang rawat istrinya. Tubuhnya pun disandarkan di samping ranjang istrinya. Rangga memindahkan kepala Laras diatas bahunya. Tangannya menggenggam erat pada jemari istrinya. Rangga Lega Laras sudah sadar setelah semalaman tertidur.
"Mas..."
"Iya sayang."
"Dokter bilang apa?" tanya yang penasaran dengan kondisi dirinya.
"Kamu retak di kaki saja. Dokter bilang kamu harus pake kursi roda sementara."
"Terus keluarga dirumah sudah dikabari?"
Rangga terhenyak mendengar pertanyaan sang istri. Seketika kepala dianggukkan.
"Sudah."
__ADS_1
Mereka saling bertemu pandang, Laras sempat bingung melihat ekspresi wajah suami. Namun pikiran negatif dia hempaskan, anggapannya bahwa suaminya kelelahan. Laras memberikan senyum lembut pada suaminya. Rangga menarik dagu Laras, sesaat mereka terbuai dengan suasana romantis di rumah sakit.
"Eeemmm...aaaah... Mas...aaahhhh" Laras mulai susah bernafas. Sampai tiang infus terjatuh, pada akhirnya mereka menghentikan aksinya. Keduanya saling menatap malu-malu kucing.
"Mas, bukannya jam sepuluh nanti akadnya Ina dan Alam." Laras mengingatkan suaminya acara pernikahan adik suaminya.
"Aku sudah bilang sama tante Lia kalau tidak bisa menjadi wali nikahan Ina. Kata tante Lia, aku bakal digantikan om Dul."
"Mas, kamu bukannya sudah berjanji pada papa Aryo untuk menjadi walinya Ina. Janji itu amanat lo, nggak boleh diwakili, kamu datang, ya. Aku nggak papa kok ditinggal sebentar."
"Nggak, Ras. Aku nggak mau tinggalkan kamu sendiri disini. Kalau kamu tidak ikut aku juga tidak akan pergi."
"Ih, kamu kok jadi lebay gini, sih. Ya, udah aku ikut. Aku juga pengen lihat sahabatku menikah, mas."
Raut wajah Rangga mendadak berbinar saat istrinya ingin ikut ke pernikahan Ina. Rangga mengecup kening sang istri, lalu menghubungi sopirnya untuk menjemput di rumah sakit. Mereka akan pulang ke rumah.
"I Love you."
"Love you to."
Klik
Barangsiapa menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh ibadahnya (agamanya). Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT dalam memelihara yang sebagian lagi." (HR. Thabrani dan Hakim).
"Bismillah. Saudara Ronal Wassalam saya nikahkan engkau dengan adik perempuanku yang bernama Karina Permata Gunawan binti Gunawan Artomoro dengan mas kawin satu aset apartemen mewah dan uang sebesar 5M dibayar tunai."
"Bagaimana? Sah?"
"Saaaah!"
"Alhamdullillah."
Di sebuah ruangan tampak seorang wanita duduk menunggu berlangsungnya acara. Degupan jantungnya seakan tak berhenti dimana dia takut acara tak berlangsung baik. Tampak Laras menemaninya di dalam ruangan, sebagai sahabat dia tak henti menenangkan Ina yang terus memainkan tangannya.
"Kamu tenang ya, Na. Alam kan sudah berpengalaman."
Benar kata Laras, hanya satu kali ijab kabul dengan lancar dan lantang. Dalam sekejap dia sudah sah menjadi istri Alam. Ada rasa haru menyelinap dalam dirinya, tangis haru menghiasi ruangan pengantin tersebut.
"Selamat ya, Na. Kamu sudah sah menjadi istri Alam." Ina hanya mengangguk dalam pelukan Laras. Bibirnya tak dapat membahasakan perasaannya.
"Na." Ucap Yulia
Ina menatap Yulia dengan rasa haru "Selamat ya, sayang." ucap Yulia. " Terimakasih, kak." Kakak beradik pun saling berpelukan.
Ina menggunakan gaun pengantin adat jawa dengan mahkota ratu memenuhi kepalanya. Riasan yang tidak terlalu menor tidak melunturkan kecantikannya. Tubuhnya yang ramping dibalut kebaya borkat putih. Ina berdiri menggenggam tangan Dea. Yang belum tahu Dea, Dea adalah sepupu Ilham dari pihak Pramono. Ada rasa gugup membuatnya bergetar menahan gejolak tinggi.
__ADS_1
Langkah kakinya pun berjalan menuju tempat dimana sang suami berada. Melewati tatapan para tamu yang takjub dengan kecantikannya. Beberapa tamu yang mengenal mendiang Gita menatap tak percaya seakan sosok itu hidup kembali. Termasuk Beta, airmatanya terus membasahi wajahnya. Melihat wanita yang sangat mirip dengan mendiang sahabatnya, sahabat yang selalu bersamanya sejak kecil.
Rere tersenyum melihat reaksi Beta. karena pertama kenal dengan Ina dia merasakan apa yang dialami Beta saat ini. Tangannya menepuk pundak Beta.
"Sudah lihat, Kan?" Bisik Rere disambut anggukan dari Beta.
Alam tersenyum melihat wanita yang baru saja sah menjadi Istrinya. Tetap gagah menggunakan jas putih dan Ina tampak cantik menggunakan kebaya putih borkat.
Langkah Ina terus berjalan menuju tempat suaminya berdiri, Keduanya tersenyum sambil menunduk malu-malu.
Alam menatap Ina seakan melihat masa pernikahannya dulu. Seakan devaju sedang menyapanya, seakan yang berdiri didepannya bukan Ina melainkan Gita.
"Aku tahu kamu terpana dengan dia, tapi ingat dia Ina, bukan Gita." Bisik Edwar seakan tahu perasaan sahabatnya.
"Astagfirullah!" Alam mengusap wajah menyadari sosok Gita masih bernaung di pikirannya.
Alam memasangkan cincin pernikahan mereka, begitu juga Ina yang memasangkan cincin ke jari manis. Sekarang mereka SAH menjadi suami. Ina mencium tangan suaminya dibalas dengan Alam yang mengecup kening sang istri.
Suara mc kembali bergema "Mari kita sambut pengantin baru, Ina dan Alam." Mereka berdiri disambut dengan tepuk tangan para tamu undangan.
Di dalam sebuah ruangan para orangtua sudah dikursi yang sudah disediakan. Pengantin diminta melakukan sungkeman pada orangtua mereka.
Pada prosesi sungkeman, orang tua duduk di kursi atau posisi yang lebih tinggi, sedangkan kedua mempelai pengantin berjongkok dengan bertumpu pada lutut di lantai. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua yang telah membesarkan mereka hingga hari pernikahan tiba.
Tangis haru menyelimuti para orangtua dan juga pasangan pengantin baru. Dimana mereka akan melepaskan anak mereka untuk kehidupan yang baru. Yulia dan Marni tak hentinya menangis. Baginya, inilah pernikahan yang sesungguhnya.
"Kakak titip Ina, Lam. Jaga dia seperti kami menyanginya.
"Alam janji akan mencintai Ina sepenuh hati, ma" Jawab Alam.
"Lam, mulai sekarang biasakan memanggil saya dengan sebutan kak Lia. Kamu bukan lagi menantu kami, sekarang kamu adalah adik ipar saya." sahut Yulia.
Yulia memberi wejangan pada adiknya.
"Kakak sebagai keluarga hanya dapat memberikan restu dan doa untuk niat baikmu ini. Namun, ada beberapa hal yang perlu kalian perhatikan dalam menjalani biduk rumah tangga, yaitu senantiasa berpegang pada ajaran agama, sabar, tawadu, ikhlas. Jadilah istri yang istiqomah, menjaga kehormatan suami dan rumah tanggamu. Jadilah istri yang penyayang dan penuh kasih untuk anak-anakmu kelak. Ingatlah bahwa kehidupan ini tidak selamanya berjalan sesuai dengan apa kita harapkan. Tetapi dengan kasih sayang dan saling pengertian, maka biduk rumah tanggamu tidak akan goyah diterpa badai dan gelombang kehidupan."
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
__ADS_1
Bersambung