
"Kak"
Ilham kaget dengan kedatangan Ina. Gadis didepannya tanpa ucapkan salam, tahu-tahu sudah duduk manis didepannya.
"Kenapa gitu liatnya?" Ina risih dengan tatapan Ilham.
"Kamu ada keluhan pada jantungmu?" Tanya Ilham yang sekarang duduk dihadapan gadis ini.
"Bukan jantung, kak. Tapi ini?" Ina membuka perban tangannya. Ilham memperhatikan dengan seksama. Tapi dia tidak melihat luka ataupun lecet ditangan gadis itu.
"Mana yang luka? tanganmu baik-baik saja."
"Bukan luka tapi aku mau lepas cincin ini" Ina menunjuk cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Kenapa dibuka? cakep kok cincinnya. Kayaknya mahal itu."
"Karena bukan punyaku, kak. Makanya mau dilepas." Jelas Ina.
"Kalau bukan punya kamu, kenapa dipakai? itu sama aja dengan maling. Kalau orangnya masih hidup kamu bisa dimasukan ke penjara atau kalau orangnya sudah meninggal kamu bisa digentayangin."
Ina menelan salivanya. Kalau Alam tahu dia yang memakai cincin itu, pasti dijeblosin ke penjara, tapi bagaimana kalau Gita yang datang menggentayangi dirinya.
"Kembalikan cincinku ... kembalikan cincinku..." Suara itu menggema di ingatan Ina.
"Nggaaaaak!"
Ina menutup kedua telinganya. Ketakutannya akan rongrongan arwah terus berputar dipikirannya. Ditambah dengan senyum jahat diwajah Alam yang menertawakannya ketika masuk penjara.
"Ina kamu kenapa?" Ilham melihat Ina sudah sangat ketakutan.
"Kak, cepat bantu aku lepaskan cincin ini. Aku tidak mau masuk penjara. Aku juga tidak mau dikejar-kejar arwah penasaran. Ayo kak, tolong lepasin!" Rengek Ina.
Ilham menghela nafas panjang. Langkahnya terdengar berat, lalu mengambil tangan Ina. Dengan detil memperhatikan cincin tersebut.
"Kamu ketemunya dimana?"
"Di kantor kak."
__ADS_1
"Oh, yakin kamu nggak tahu siapa pemiliknya?" Selidik Ilham. Tangannya menari diatas layar pipih tersebut.
"Kak Ilham mau telepon siapa?"
Oh My Gods jangan bilang kak Ilham mau telepon Alam.
"Halo.." Dengan cepat Ina merampas gawai Ilham dan mematikanya.
"Kok.. Saya mau telepon istri saya, lo, Ina. Ah, bisa ngambek dia kalau saya matiin telepon kayak tadi." Keluh Ilham membuat Ina merasa bersalah.
Ina merasa tidak enak. Tujuannya kerumah sakit untuk melepaskan cincin tapi malah di interogerasi kayak maling. Ina menemui Mona yang diyakininya bisa membantunya. Bagaimana dia harus melepaskan cincin daripada masuk penjara atau dikejar arwahnya Gita.
Matahari sudah menampakkan cahayanya, silau terang memperlihat keeksisannya. Ina yang baru saja meninggalkan rumah sakit menampakkan wajahnya yang suram.
"Aku harus gimana? Masa iya nggak bisa dibuka cincinnya." Keluh Ina.
Gita jika memang kamu ada disekitarku. tolong bantu lepaskan cincin ini. Kamu tahu, Gita, aku tidak mungkin terikat dengan suamimu.
Kamu tahu kan kalau kak Lia sangat membenci keluarga Alam. Aku juga tidak mau mengingkari janjiku pada kak Lia.
Maafkan aku, Gita, aku nggak ada maksud memakai cincinmu.
Tolong aku, please.
Ina berdoa berharap Gita bisa membantunya secara kasat mata. Bayangan sang kakak yang terus mewanti-wantinya agar tidak terikat dengan Alam terus menghantuinya. Belum lama dia pernah berjanji pada kakaknya tidak akan berurusan dengan Alam. Tapi nyatanya cincin ini membuatnya memang harus berurusan dengan lelaki itu.
Ina melangkah lemas memasuki sebuah taksi. Dia memilih pulang ke rumah. Tubuhnya terasa lemas dan tak punya semangat. Sepertinya dia akan demam, besok dirinya pasti tidak akan masuk kantor.
Di kediaman Gunawan
Pukul 20.00
Alam sampai dirumah Yulia untuk memastikan apakah Ina benar-benar sakit atau tidak. Apalagi dia merasa bersalah karena gara-gara kejadian photo tadi.
"Eh, Lam. Mama kira kamu kesini bawa Shasa. Mama kangen sama cucu mama. Shasa sehat-sehat saja kan." Alam mengangguk.
"Ma, Ina ada nggak?"
__ADS_1
"Ada dari tadi nggak keluar kamar. Pas pulang mukanya pucat. Mama lihat tangannya diperban. Emang tadi dikantor ada kejadian apa, lam? kok tangan Ina bisa luka."
"Seingat aku nggak ada apa-apa, ma. Kalau ada pasti ada laporan. Boleh saya jenguk Ina sebagai keluarga, ma, bukan sebagai bos."
"Jangan dulu, lam. Tadi barusan ada yang jenguk Ina, Ganteng, dia bilang juga kerja di kantor kamu.
Namanya kalau nggak salah ina manggil dia Eja ... ya Eja .."
"Ma, hati-hati sama Eja ... dia itu Duda ... cerai sama istrinya karena ketahuan selingkuh. Mama nggak mau kan lihat Ina sakit hati lagi."
Saat dikamar Ina terbangun membuka selimutnya dan duduk didekat jendela kamar. Disandarkan kepalanya di dahan jendela. Matanya beralih pada bunga merah yang dibawa Reza untuknya. Ina menghirup wangi aroma bunga, meresapi perhatian lelaki. Ina memejamkan mata, tapi saat membuka mata dia melihat Alam berdiri dibawah kamarnya.
Ina langsung menutup jendelanya "Dia ngapain kesini? jangan-jangan dia tahu kalau aku yang ambil cincinnya. Tapi bukannya sudah dia buang. Ngapain dia masih peduli soal cincin."
Ting
[Cepat sembuh, Oma nya Shasa. Biar bisa main sama Shasa lagi]
klik
"Den Reza ada yang nyari"
Reza yang baru saja pulang dari rumah Ina, harus menunda keinginannya untuk istirahat. Matanya melirik jam di gawainya, dahi nya mengkerut ketika mendengar ada tamu di jam istirahat ini. Reza menggerakkan tubuhnya dengan malas. Mencoba menyapa lelaki didepannya.
"Rangga! Kapan sampai dari Jepang?"
"Barusan. Makanya langsung kesini." Rangga dan Reza saling berpelukan. Dua lelaki yang sudah bersahabat sejak kecil.
"Kok nggak pulang ke rumah?"
"Males. Aku lagi ada masalah sama keluargaku."
"Giliran ada masalah pasti larinya kesini. Giliran senang pasti lupa sama temennya."
"Idiiiih, pake ngambek. Face lo nggak dapet."
Rangga dan Reza adalah sahabat sejak kecil. Dulu rumah mereka berdekatan sehingga mereka selalu bersama. Walaupun Rangga sudah pindah rumah, persahabatan mereka tetap terjalin.
__ADS_1
Reza tahu kalau Rangga menyukai Ina sejak gadis itu menginjak remaja. Reza pun pernah berusaha mendekati Ina meskipun Rangga selalu menjadi bodyguardnya.
"Kamu baru pulang dari kantor ya?pasti capek banget. Uuuu .. kasihan mas duda nggak ada yang ngurusin. Makanya jangan banyak tingkah, sekarang nyahok kan." Omel Rangga.