
Kimi ga inai to hontou ni taikutsu da ne
Saat kau tak ada, aku merasa sangat bosan
Samishii to ieba warawareteshimau kedo
Namun saat kuberkata kesepian, kau tersenyum padaku
Nokosareta mono nandomo tashikameru yo
Aku pun terus memastikan hal yang masih tersisa
Kieru koto naku kagayaiteru
Yang bersinar terang dan takkan pernah pudar
Ameagari no sora no you na kokoro ga hareru youna
Bagaikan langit setelah hujan reda, bagaikan hati yang sedang cerah
Kimi no egao wo oboete iru omoide shite egao ni naru
Aku mengingat senyumanmu dan senyuman itu pun menjadi hal yang terkenang
Kitto futari wa ano hi no mama mujakina kodomo no mama
Kita pasti masih seperti di hari itu, masih seperti anak kecil yang polos
Meguru kisetsu wo kakenukete iku sorezore no ashita wo mite
Melewati berbagai musim yang berlalu dan melihat hari esok masing-masing
Koridor rumah sakit tempat dia berdiri saat ini menjadi tujuan pemberhetian petualangan kakinya. Ina memilih duduk di salah kursi di luar kamar pasien. Di dalam ruangan terlalu ramai, orangtua Alam sudah sampai sejak semalam.
Cuaca menjelang siang masih terasa dingin. Ina merapatkan jaketnya lalu melipir ke sebuah kedai tak jauh dari rumah sakit. Sebuah batang yang menjadi ciri negara Naruto itu. Ina memandang dekat, walaupun beku, pohon itu tetap terlihat cantik. Ia meraih ponselnya lalu memotretnya untuk diabadikan ke sosmed.
Langkahnya terhenti melihat seorang wanita berdoa di depan sebuah pohon. Rasa keponya berdesir, tak lama dia ingat sampai saat ini belum fasih bahasa jepang. Ina mencoba mengabaikan tontonan gratis didepannya walaupun sebenarnya rasa kepo nya makin tinggi. Beruntung pemilik kedai bisa bahasa inggris. Membuat Ina tak susah berkomunikasi.
"what did that woman do? (apa yang dikerjakan wanita itu?)" tanya Ina pada pegawai kedai.
__ADS_1
"His son died crashing into that tree (Anaknya meninggal menabrak pohon itu?)"
"What a pity (Kasihan sekali)." Ina menatap Iba pada wanita tersebut.
Ina mendesah panjang salah satu koinnya terjatuh. Koin yang dia dapatkan saat mendatangi sebuah bazar di Jepang. Katanya kalau itu koin keberuntungan. Dimana dengan melemparnya, permintaan akan segera dikabulkan. Antara percaya tidak percaya, dia hanya tidak enak pada penjual koin.
Ina kembali ke rumah sakit, menemui Alam yang sudah hampir seminggu belum sadar dari tidur panjangnya. Ina hanya mendesah kecil, matanya beralih ke koin yang dipegangnya.
"Bukankah nanti malam pergantian tahun? aku akan mencobanya. Semoga berhasil."
Sayup-sayup Ina mendengar pembicaraan antara dokter dan Marni. Wanita berusia 49 tahun itu menanyakan kenapa Alam belum juga sadar.
"Ronald's brother should have realized. Everything is normal, no problem."
"But why is my child still like this? (Tapi kenapa anak saya masih seperti ini, dok.)"
"He's just recovering a bit.(Dia cuma sedikit pemulihan saja")" Jelas Dokter.
"Sayang, kamu harus yakin Alam pasti sembuh. Dokter tadi bilang kalau semuanya normal tinggal menunggu Alam sadar saja." Bujuk Bobby yang melihat istrinya masih gelisah.
Sudah satu mereka berada di Tokyo, menemani putra mereka yang tak kunjung bangun dari tidur panjangnya. Yulia pun masih enggan menemui besan. Ina sudah kehabisan akal untuk membujuk kakaknya. Kebencian dalam diri Yulia sudah mendarah daging. Tadi saja dia hanya menelepon meminta Ina atau Dul menjemput Shasa.
"Kalau begini sikap mama mending mama ikut pulang sama papa saja ke jakarta. Papa capek melihat mama seperti ini, bahkan menengok cucu mama sendiri saja pake nitip. Emang Shasa itu barang? yang bisa dititip sana sini. Mama kenapa sih? Mereka itu besan mama. Kalau mama tidak suka lihat Marni itu urusan mama, tapi hormati Bobby. Bukankah sejak turun temurun keluarga Spencer dan Gunawan sudah akrab. Jangan mama rusak persahabatan orangtua kita hanya karena dendam semata. Istigfar ma!"
"Bukan begitu, pa? Mama tidak mau Ina terlalu dekat keluarga itu. Mama..."
"Ma, Ina itu punya privasi. Ina bukan Gita yang bisa mama kekang seenaknya. Papa tahu mama punya tanggung jawab Ke Ina. Tapi nggak begini juga! Selama ini papa diam setiap melihat tindakan mama. Papa sadar semua ini milik mama, perusahaan milik mama, Papa sadar kalau saya ini hanya menantu yang menumpang. Tapi semakin kesini papa juga sadar kalau wibawa papa sebagai kepala keluarga sudah tidak dibutuhkan lagi."
"Papa kenapa ngomong gitu? Mama tidak pernah berpikir kearah itu, papa tetap suami mama, kepala keluarga, Papanya Gita dan Opa nya Shasa. Tidak ada yang mengubah itu. Tapi Ina, dia adikku, tanggung jawabku. Aku begini juga untuk kebaikan dia. Papa mau kalau Ina ditindas lagi sama Marni? Seperti yang dulu dia lakukan ke Gita!"
"Marni sudah tobat, Ma. Sejak kejadian Alam tertembak saat kabur dari kejaran Polisi dan sejak itu Marni sudah menerima Gita."
"Tetap saja aku tidak setuju dengan mereka." Jawab Yulia dengan tegas.
Dul hanya menggeleng melihat kekeraskepala istrinya. Dia hanya berharap agar dibuka pintu hatinya istrinya. Lelaki itu memilih menumpang istirahat di apartemen Rio. Dalam pembaringannya banyak renungan yang dia pikirkan. Sejak kejadian pengeroyokan Gita di Sukasari dulu mereka memang marah pada Alam. Tapi Dul melihat kesungguhan lelaki itu pada Gita. Meskipun hubungan mereka mendapat penolakan dari Yulia dan Marni. Keterlibatan Yulia dan Marni yang terlalu ikut campur dalam rumah tangga anaknya pun tak membuat kedua anaknya mundur. Mereka tetap berjuang mempertahankan status pernikahan.
Sementara dirumah sakit, Ina duduk sendiri disebuah kursi yang berada di koridor. Renungan tentang keadaan Alam, rasa bersalah serta rasa takut kehilangan bercampuk aduk dipikirannya.
"Na" Sebuah suara membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Kak Rangga!"
Rangga duduk disebelah adiknya. Tangannya memegang dua cup minuman hangat yang dibelinya di cafe rumah sakit.
"Terimakasih" Jawab Ina menerima salah satu cup kopi hangat.
"Na, kalau kakak menikah dengan Laras kamu setuju tidak?"
"Laras? kenapa mendadak? Pasti kakak jadikan pelarian kan! Kalau itu tujuan kakak aku tidak akan setuju. Laras itu sahabatku kak, aku tidak mau sahabatku dipermainkan."
"Na, kakak janji akan membahagiakan Laras. Kakak akan belajar mencintai Laras."
"Kak,pernikahan itu bukan untuk coba-coba. Pernikahan itu sifatnya sakral bukan untuk main-main." protes Ina.
Rangga terdiam. Dia membenarkan ucapan Ina, kalau tetap mengikuti kata hatinya yang ada Laraslah yang tersakiti. Tapi Rangga kembali menepis pikiran itu, dia masih menganggap Laras punya rencana terselubung pada keluarganya.
Malam pun telah datang, detik detik pergantian tahun pun akan dimulai sebentar lagi. Ina memilih menemami Alam dirumah sakit. Tampak beberapa staf rumah sakit merayakan tahun baru di rooftop. Suara ledakan-ledakan kembang api bersahutan, juga jeritan dan sorakan memeriahkan pergantian tahun tersebut. Ina memandang koin yang sedari tadi dipegangnya.
Penasaran apakah koin tersebut ampun memenuhi permintaannya. Atau mungkin hanya trik penjual semata.
Ina memejamkan mata "Apapun hasilnya, aku cuma minta satu. Tolong bangunkan dia."
Ina melempar koin lalu menangkapnya kembali. Saat dibukanya ada lambang yang Ina tidak paham artinya.
"Semoga ini pertanda baik."
"Happy new years!" sorakan itu kembali terdengar menggema.
Tiba-tiba sebuah tangan melingkar erat di pinggang Ina.
...*****...
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
__ADS_1
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung