Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
Selamat tinggal


__ADS_3

Kamu dan segala kenangan (kenangan)


Menyatu dalam waktu yang berjalan (berjalan)


Dan aku kini sendirian


Menatap dirimu hanya bayangan hanya bayangan


O-o-oh ...


Daripada kehilangan dirimu


Cintaku tak mungkin beralih


Sampai mati hanya cinta padamu


Tak ada yang lebih pedih


Daripada kehilangan dirimu


Cintaku tak mungkin beralih


Sampai mati hanya cinta padamu


(Kamu dan kenangan, Maudy Ayunda)


Pagi ini Seperti biasa Yulia membangunkan adiknya. Tampak Ina masih terlelap setelah semalam dibawa pulang oleh Alam. Yulia duduk membangunkan sang adik dengan sopan.


"Alhamdulillah, Na. Akhirnya kamu sadar juga." Seru Yulia ketika Ina membuka matanya.


"Kakak?"


Ina membuka matanya sedikit demi sedikit. Tangannya memegang kepalanya yang masih terasa berat. Kepala memutar melihat dimana dirinya sekarang. Ina menelan salivanya ketika menyadari kalau sudah berada dikamarnya.


"Kak, kenapa aku bisa kembali kesini?"


"Na, karena disinilah tempatmu."


"Tapi bukannya aku..."

__ADS_1


"Karina, lupakan yang pernah terjadi. Kakak, kak Dul dan Kamu. Akan membuka lembaran baru. Kamu akan pindah ke Jepang supaya ada suasana baru."


Ina kaget mendengar pernyataan Yulia yang mengajaknya pindah. Rasanya dia ingin bilang pada kakaknya kalau dia tak mau jauh dari Alam. Tapi hal itu diurungkannya, melihat sikon yang tidak memungkinkan untuk membahasnya.


"Kak maafkan aku." Jawab Ina lirih.


Yulia memeluk Ina dengan penuh kasih sayang. Momen ini dia manfaatkan untuk memperbaiki hubungan mereka.


Ina dan Yulia berjalan menuju ruang makan. Yulia tadinya akan membawakan makanan ke kamar, tapi Ina menolak dan memilih ikut ke meja makan. Tampak Dul sudah menunggu di meja makan, sedangkan Gery yang baru saja datang diajak bergabung bersama.


"Wah, tau saja kalau aku lapar!" Seru Gery yang langsung menyerbu beberapa masakan buatan bi Suti.


"Pelan-pelan makannya, Geri. Nanti perutmu meletus." Celetuk Yulia.


"Ih, Oma. Tidak boleh melewatkan rezeki nomplok."


Semua yang berada di meja makan tertawa melihat tingkah Geri. Ina hanya tersenyum kecut melihat suasana tersebut.


"Andai saja aku bisa melupakan yang terjadi diantara kita, Lam. Mungkin rasanya tidak sesakit ini. Jika kamu berniat memulangkanku pada kak Lia, makanya jangan menyesal jika kita tidak akan bisa bertemu lagi.


Kamu tahu kan, Lam, bagaimana beratnya perjuangan kita sampai di titik ini. Tapi dengan kamu membawaku pulang itu menandakan semuanya selesai."


Yulia memandang Ina yang sedari tadi hanya diam. Saat Alam datang membawa Ina yang pingsan, Yulia senang sekali. Dimana dia sudah lama merindukan sang adik, setelah kejadian pertunangan saat itu dia banyak merenung. Hingga dia berjanji akan tetap menerima Ina jika sang adik pulang ke rumah. Hanya sampai saat ini Yulia tetap belum bisa menerima hubungan Ina dan Alam.


Alam berjalan memasuki ruang rawat putrinya. Tatapanya kosong menandakan rasa kecewa teramat dalam. Keputusannya bawa Ina pulang ke rumah mertuanya amat sangat di sesalinya. Mereka menerima kepulangan Ina tapi juga menolak kehadiran Alam. Setelah Ina dibawa ke dalam oleh Gery, Alam langsung diusir oleh Yulia.


"Mama minta sama kamu,Lam. Jangan pernah temui Ina lagi. Sepanjang dia dekat dengan kamu ada saja masalah yang terjadi. Kamu tadi datang membawa Ina yang sedang pingsan. Apa yang sudah kamu lakukan pada Ina? Apa kamu menyakiti perasaannya atau mungkin kamu menyakiti fisiknya. Mama mohon ini pertemuan kalian yang terakhir. Sekarang saya mohon kamu pergi dari sini!"


"Ma, aku tidak akan pergi sebelum tahu keadaan Ina." Alam tetap bertahan didepan rumah mertuanya.


"Pak Yanto! seret dia dari sini!" perintah Yulia.


Pak Yanto selaku sopir keluarga menurut saja dengan perintah majikannya. Lelaki usia 4O-an pun sebenarnya juga merasa tidak enak pada Alam "Maafkan saya, den Alam. Saya hanya menuruti perintah bu Yulia." Ucap pak Yanto.


"Saya paham,pak. Maafkan saya,pak."


"Aduh den, den nggak salah apa apa. Seharusnya bu Yulia tidak sekeras ini pada kalian berdua. Kayak dia nggak pernah muda saja."


Alam hanya tersenyum tipis. Langkahnya berjalan pelan meninggalkan rumah mertuanya.

__ADS_1


"Saya pamit, pak. Ini nomor handphone saya, kalau ada kabar tentang Ina kabari saya."


"Baik, den. Hati-hati." Pak Yanto hanya memandang punggung Alam dari kejauhan.


Aku tidak apa lagi yang harus kulakukan untuk memperjuang semua ini, Ina. Apakah memang sudah waktunya berhenti berharap? Apakah tetap bertahan memperjuangkan kamu, Na? Aku juga manusia biasa. Aku juga punya rasa lelah. Andaikan kamu bukan adik mama, mungkin saat ini kita sudah merasakan kebahagiaan itu.


Na, Jika memang saat ini takdir tidak berpihak pada kita. Aku bisa apa. Aku hanya bisa berdoa semoga suatu saat kita bisa kembali di dekatkan.


Dua hari kemudian.


"Kamu sudah siap?" Sahut Yulia saat menemui adiknya yang masih duduk dikamar.


"Siap kak. Itu barangnya banyak banget gimana bawanya?" Ina menunjuk beberapa koper besar bertengger di dekat pintu.


"Kamu tenang saja. Itu biar jadi urusan Kak Dul dan pak Yanto. Yuk mobil dah siap." Yulia mengajak Ina keluar dari kamar.


Plaaanggg!


Sebuah cincin jatuh tepat dibawah kaki Ina. Gadis itu menatap cincin tersebut sambil menarik nafas dalam-dalam.


"Selamat tinggal Alam!"


Pagi ini Ina akan berangkat ke Jepang. Semua barang sudah diangkat ke dalam mobil. Dengan penuh haru Bi Suti memeluk Ina, Yulia pun memeluk adiknya dengan tangisan haru. Harapannya satu, Ina bisa menata masa depannya dengan baik.


Ina akan berangkat ke Jepang bersama Rangga dan Laras. Karena Rangga akan mengajak Laras bulan madu ke Jepang. Ina menatap ke pagar berharap ada yang datang. Tapi sepertinya dia akan menelan kekecewaan.


"Maafkan aku, Lam. Aku pergi."


Sementara itu, Hari ini Shasa sudah diperbolehkan pulang. Seluruh keluarga besar pun menyambut kedatangan cucu pertama keluarga Spencer. Acara penyambutan kepulangan Shasa.


Tadi dokter menyatakan kalau Shasa hanya akan diberi vitamin. Dokter pun menyatakan kondisi tubuh Shasa sangat kuat sehingga belum sampai tahap kemo.


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate

__ADS_1


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung


__ADS_2