
Ina berjalan kearah belakang panggung. Wajahnya berbinar berjalan di lorong stage acara. Seorang lelaki sedang duduk di sebuah sofa beludru hijau. Mata lelaki itu masih fokus di layar gawai. Tampaknya lelaki itu tak menyadari kedatangan Ina.
"Kak ejaaaa!" Ina memekik melihat seseorang dicarinya didepan mata.
Reza menyunggingkan senyuman pada gadis yang berjalan kearahnya. Tangannya melambai pada Ina agar mendekatinya.
"Kakak tadi keren banget!" Seru Ina dengan manja. Karena baginya Reza dianggap sebagai kakaknya sendiri. Awal dia memasuki kantor tak punya siapapun yang dikenalnya. Tapi setelah tahu Reza juga kerja di kantor Spencer, Ina tak merasa kehilangan teman. Karena sejak dulu Reza sama tanggapnya dengan Rangga.
"Kakak siapa dulu!" Reza memencet hidung Ina.
"Na, bukannya bentar lagi giliran kamu yang akan mendampingi anak-anak itu." Reza menunjuk anak-anak tunarungu yang menunggu namanya dipanggil.
"Ah, iya. Apa aku harus dandan dulu." Reza menggeleng.
"Kamu sudah cantik."
"Makasih."
Dari sudut ruangan ada sosok lain yang mendengar keakraban Reza dan Ina. Dialah Angel yang sengaja bersembunyi setelah melihat Tuan Raga Budiman, papanya sendiri. Angel yang mendengar keakraban keduanya merasa jengah dan eneg.
"Dasar murahan! nempel sana sini! Emang benar buah tidak jauh jatuhnya dari pohonnya!" Umpatnya sambil memakan kue yang tadi diambilnya dalam prasmanan.
"Hadirin, inilah anak-anak berprestasi dari 34 Propinsi diindonesia."
Berjejer anak-anak keluar dari belakang panggung. dengan keistimewaan yang mereka miliki. Ina dengan telaten mengantar satu persatu anak- anak yang memiliki talent yang berbeda-beda. Ada yang buta tapi pintar baca Alquran, ada yang bisu tapi dia pintar scient, dan bermacam prestasi mereka.
Ina menitikkan airmata melihat anak-anak itu. Reza sebagai MC mencoba menguatkan gadis itu.
Beda Reza beda lagi dengan Alam. Matanya menatap jengah pada keakraban keduanya. Pandangan Alam kearah Ina seakan menguatkan api yang terbakar.
"Mama minta kamu tidak usah lagi terlalu dekat dengan Ina. Bukankah mama sudah mencabut hukuman itu. Jadi mama mohon tidak usah mengusik Ina lagi."
Tangannya menggepal. Ucapan sang mama mertua terus menari-nari di otaknya. Alam sadar sejak awal mama Yulia tak pernah menyukainya. Dia pun masih bisa mensyukuri kalau mama mertuanya tidak membatasi dirinya dan Shasa. Alam heran dengan Angel yang tiba-tiba menghilang. Namun itu tak menjadi masalah buat dia. Alam sedikit lega ketika Angel tak mengintil dirinya.
"Tuan Ronal anda diminta maju memberikan penyerahan beasiswa dipanggung." Ucap salah seorang panitia acara.
Alam pun berdiri menuju panggung, tampak Ina dan Reza membantu beberapa anak untuk maju. Setelah acara seserahan selesai. Beberapa tamu diminta menikmati hidangan prasmanan yang disediakan pihak acara.
__ADS_1
Ina dan Reza pun membantu beberapa anak tunanetra dengan menyuapinya.
"Kalian serasi banget. Sama-sama suka anak-anak." Puji Angel sambil tangannya menggelayut manja pada lengan Alam. Alam menepis kasar tangan Angel.
Ina hanya tersenyum kecut. Dia lebih mementingkan mengurus anak-anak itu daripada memperdulikan bacot Angel. Reza yang ikut sibuk dengan anak-anak disabilitas hanya tersenyum senang ketika Angel memuji dirinya dan Ina.
"Ina kamu tadi keren banget." Marni muncul memuji Ina. Tubuh wanita 49 tahun itu memuji Ina tanpa menyapa Angel yang ada didepannya. Marni mengajak Ina untuk duduk berdua disofa beludru hijau tersebut.
"Eh, tante." Ina balik menyapa Marni.
"Kamu kenapa nggak pernah ke rumah lagi, Na." Tanya Marni sambil memegang tangan gadis itu.
"Aku sekarang kerja. Tante kesini sama siapa? sama Om bobby ya?"
"Iya, Om bobby lagi bertemu para koleganya. Kamu temani tante yuk! Ketemu sama teman-teman tante" Marni mengajak Ina tanpa menunggu penjelasan Ina.
"Eeeee ciyeeee .. kayaknya ada yang panas nih." Bisik Reza pada Angel.
Angel mengikuti arah perginya Ina dan Marni. Sebisa mungkin dia akan berusaha menggagalkan upaya Marni untuk mendekati Ina.
Klik
Ina dan Marni membaur dengan para tamu kalangan atas. Ina bisa melihat dari kejauhan sosok wanita berhijab berjalan kearahnya. Ina mengenali wanita itu. Senyum ramah wanita itu sangat bertolak belakang dengan sifat putri kandungnya.
"Ina kan?" Tebaknya dibalas anggukan kepala Ina.
"Ya Allah tante lega akhirnya bisa ketemu kamu lagi, nak." Wanita itu berbinar saat menemukan Ina.
"Emang ada apa, tante?"
"Loh, kamu kenal sama Ina?" Tanya Marni.
"Kenal jeng, dia teman anak saya. Na, bisa bicara sebentar?" ajak wanita itu. "Jeng, saya pinjam Ina dulu, ya." Marni mengangguk mempersilahkan wanita itu membawa Ina.
"Ada apa, tante?"
"Na, tolong bantu tante? Angel sudah sebulan tidak pulang kerumah. Dia bahkan tidak membawa fasilitas apapun sejak pergi. Kamu ada mendengar kabar Angel tidak?"
__ADS_1
"Tante mau ketemu Angel kan? Bisa tolong panggilkan Om Raga nggak tante?" Wanita itu mengangguk.
Ina tersenyum menang "Tamat kamu, Angel".
Ina tahu kalau Raga itu sangat keras orangnya. Apalagi Angel pernah mengeluh karena habis dipukuli papanya karena pulang malam.
Sementara Angel duduk menikmati gawainya diruang make up. Wajahnya teramat kesal mengingatkan kedekatan Marni dan Ina. Sedari tadi otaknya berputar mencari cara lain menjatuhkan Ina.
Tok tok tok
Angel membuka pintu ruang make up. Matanya terbelalak melihat siapa yang datang.
"Pa...pa..! Ma ...ma...!"
PLAAAAAK
"Bikin malu saja! ternyata kamu pergi dari rumah hanya untuk bergatalan dengan lelaki itu."
"Pa ..." Angel menangis karena kesakitan.
"PULAANG!" Angel diseret-seret oleh Raga didepan banyak orang.
Ina dengan santai menonton adegan tersebut. Tangan melambai saat Angel menatap dirinya dengan penuh amarah.
"Makanya jangan jadi tukang bohong." Ucap Ina.
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpakalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1