
"Kamu nggak boleh pergi." Larang Akbar.
"Mas, Dodo itu sedang sakit keras. Aku rasa mungkin kedatanganku bisa meringankannya di sisa umurnya. Aku sudah maafin Dodo." Ujarnya sendu.
Akbar duduk dihadapan istrinya. Perempuan yang 7 bulan yang lalu dinikahinya. Tangan Akbar menggenggam erat wanita 33 tahun itu. Sebagai seorang suami, dia tidak ingin melihat istrinya sedih. Waktu Ilham datang meminta Jihan menemui Dodo yang kritis, Akbar langsung menyatakan keberatannya pada Ilham.
"Maaf, ham. Aku rasa jangan lagi melibatkan Jihan dengan urusan Dodo. Kamu tahu, ham? Jihan sempat trauma karena ulah Dodo. Saya tidak ingin menambah rasa traumanya yang sudah sembuh." Akbar menyampaikan keberatannya.
"Maaf, Bar. Tapi Dodo ingin sekali bertemu dengan Kak Jihan. Kamu bisa ikut dampingi kak Jihan untuk menemui Dodo." jawab Ilham mencoba meyakinkan Akbar.
"Saya memang tidak mengenal Dodo. Tapi dari cerita Jihan saya sudah menyimpulkan kalau Dodo bukan lelaki yang baik. Maaf, ham apapun alasannya saya tetap tidak mengizinkan Jihan bertemu dengan orang yang menyakitinya."
Ilham tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya menyampaikan amanah Dodo. Walaupun dia membenarkan tindakan Akbar, karena setelah menikah pergerakan istri harus izin suami.
Di Kediaman Akbar
" Aku tahu, sayang. Kamu sudah maafin Dodo, hatimu sangat lapang karena bisa berdamai dengan masalalu. Tapi maaf aku tetap tidak mengizinkanmu menemui Dodo. Aku tidak ingin kamu kembali terluka. Cukup beri dia doa melalui salatmu. Itu sudah meringankan Dodo."
Jihan tidak bisa membantah suaminya. Dia yakin kalau Akbar melarangnya bukan tanpa alasan.
"Maaf, Mas. Aku tidak akan menemui Dodo." Jawab Jihan pasrah.
"Maaf, sayang. Aku bukan mau mengekangmu. Tapi aku cuma khawatir jika traumamu akan terbuka lagi. Ini untuk kebaikanmu."
"Nggak papa, mas. Aku tahu kalau ini sebagai bentuk rasa sayangmu padaku." Akbar mendekap tubuh Jihan. Memberikan rasa ternyaman bagi istrinya.
Jihan membaringkan kepalanya diatas paha suaminya. Tangan Akbar pun membelai rambut kekasih halalnya. Usia Akbar yang lebih muda 6 tahun dari Jihan tak membuat keduanya terhalang. Cinta yang mereka mulai setelah menikah pun tak menyurutkan semangat untuk membangun chemistry.
Wajah keduanya semakin mendekat. Kecupan kecil dari bibir keduanya pun akhirnya tersalurkan, Akbar menarik tubuh Jihan agar leluasa menjamah istrinya.
Saat mereka hampir menyalurkan hasrat, tiba-tiba handphonenya berbunyi. Awalnya Akbar mengabaikan gawainya, tapi setelah tahu kalau itu adalah telepon adiknya, akhirnya Akbar mengangkatnya.
__ADS_1
📞 Halo, Assalamualaikum, Mayang.
📞 Waalaikumsalam, Bang. Maaf, bang kalo ganggu sebentar. Mayang mau ngabari kalau Edo adiknya kak Bian meninggal dunia.
📞 Edo yang dokter itu? Innalilalahi wa Innalilahi rojiun. Kapan dan dimana?
📞 Barusan aku dapat kabar kak. Katanya sakit keras, bang. Sekarang dia masih di panti rehabilitasi. Hari ini dia mau dikirim ke kampung dan di kuburkan di kuburan orangtuanya dan kak Bian. Abang bisa kan memakai rumah kita untuk menampung jenazahnya sampai Eda Santi tiba di jakarta.
Akbar terdiam. Masalahnya dia tidak mengenal Edo, dia hanya tahu dengan Bian, kakaknya Edo. Sejak kecil ayahnya tidak mengenalkan sepupunya yang tinggal di kampung. Karena keterbatasan ekonomi mereka membuat sang Ayah jarang pulang ke medan. Ibunya Edo adalah adik kandung ayahnya. Tapi menurut cerita, tantenya itu lebih dulu menikah setamat SMA.
📞 Bisa. Aku akan urus agar Edo bisa dibawa ke rumah sebelum dikirim ke Medan. Kamu pulang juga 'Kan mayang.
📞 Maaf, Bang. Aku nggak bisa pulang. Aku masih mabuk.
📞 Ya udah, nggak papa. Kamu jaga ponakan abang baik-baik.
📞 Oke, bang. Semoga abang bisa nyusul.
Mayang dan Akbar menutup komunikasi udaranya. Lelaki itu duduk disamping istrinya. Menceritakan kabar yang di sampaikan Mayang.
"Innalillahi wa Innalilahi rojiun. Kamu yang sabar ya, mas. Terus jenazahnya dimana?" Tanya Jihan penasaran.
"Edo masih dipanti. Kata mayang ada perwakilan keluarga yang akan membawa Edo untuk dimakamkan ke kampung. Kamu ingatkan janji aku untuk membawamu bertemu keluargaku. Sekalian kita mengantar Edo ke peristirahatan yang terakhir.
Aku siap-siap dulu, ya. Kamu dirumah saja, kasih tahu sama pak Tamrin kalau ada saudaraku yang meninggal."
"Siap, bos."
Jihan beranjak dari kamar menuju ke ruang tamu. Sejak menikah, Jihan diboyong suaminya ke rumah mertuanya. Karena kata Akbar, sayang kalau rumahnya kosong karena Mayang ikut suaminya di Bandung. Jihan yang terbiasa hidup mewah harus membiasakan diri tinggal dirumah sederhananya Akbar. Tapi tak masalah, toh Jihan selalu dibantu Akbar. Suaminya pintar masak, bahkan mengajarinya masak.
Tak berapa lama setelah Akbar berangkat. Sebuah mobil berhenti didepan pagar rumah. Jihan pun keluar menyambut tamu, dia menebak kalau tamunya itu keluarga suaminya.
__ADS_1
Seorang wanita tambun turun dari mobil. Jihan langsung menghampiri wanita yang minta dipanggil Eda.
"Aku ini Eda-nya Akbar. Kau istrinya Akbar. Kenapa kelihatan tua wajahmu?"
Jihan hanya menyengir ketika Eda nya Akbar menyebut dirinya tua. Dia tidak bisa marah karena memang fakta usianya lebih tua dari Akbar. Jihan membawa beberapa barang tamunya ke dalam rumahnya. Tapi Eda-nya melarang.
"Kau kan tuan rumah. Jadi tak usahlah kau angkat barang. Biar itu supir yang bawa barang. Kau cukup masak buat aku. Lapar sekali setelah perjalanan jauh. Kau bisa masak 'kan?"
Jihan menelan salivanya. Pasalnya selama ini yang masak dirumah adalah suaminya. Dia hanya masak nasi di magicjar dan masak indomie.
Aduh gimana ini? Apa aku mengaku saja kalau aku tidak bisa masak.
"Kak Jihan?" Sari datang setelah mendengar rumah Akbar menampung jenazah sepupunya.
"Iya, sar. Ada apa?"
"Kita masak sama-sama yuk!" Ajak Sari yang mendengar Jihan kewalahan dengan permintaan famili Akbar.
"Kamu kapan kesini? Sama Jonathan,ya?"
"Sendiri. Mas, Jo udah izinkan aku main tempat ibu." jelas Sari.
Tamu keluarga Akbar ada 5 orang. Satu wanita dan empat laki-laki. Jihan membuat kopi untuk para tamunya. Sementara Sari memasak Gulai dibantu ibu kurnia, Ibunya Sari. .Hubungan akrab keluarga Sari dengan Keluarga Akbar memang sangat dekat. Apalagi Sari dan Akbar pernah punya hubungan dekat.
Tak lama ambulan datang mengeluarkan sebuah peti. Eda nya Akbar langsung memeluk peti tersebut. Tangisan Eda yang kencang membuat warga menenangkan wanita itu.
"Edo.. Edo .... kenapa meninggal seperti ini? Kamu kebanggaan kami dikampung, nak." Tangisnya.
"Eda yang sabar, ya. Edo udah tenang, dia udah tidak sakit lagi" Bujuk Jihan.
Setelah Peti diturunkan, pihak rumah sakit memperlihatkan wajah jenazah pada para pelayat. Jihan yang berada dikamar menenangkan Eda ikut penasaran dengan sosok Edo tersebut. Dengan pelan Jihan mendekati peti tersebut.
__ADS_1
Kepala Jihan terasa berat saat melihat siapa jenazah tersebut. Tubuhnya lemas dan pandangannya terasa gelap.