Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)

Kekasihku, Menantuku ( Mantu jadi ipar)
110.Patah


__ADS_3

Denting yang berbunyi dari dinding kamarku


Sadarkan diriku dari lamunan panjang


Tak terasa malam kini semakin larut


Ku masih terjaga


Sayang, kau di mana? Aku ingin bersamak


Aku butuh semua untuk tepiskan rindu


Mungkinkah kau di sana merasa yang sama


Seperti dinginku di malam ini?


...*****...


Dear Alam


Terimakasih sudah mau mencintaiku.


Terimakasih atas hari yang kita lalui selama ini.


Aku tahu kalau ini akan menyakitkan buatmu. Tapi sejujurnya aku sedang belajar menerimamu, walaupun aku tahu kak Rangga masih bertahta lebih kuat dihatiku.


Lam, selama aku mencoba mencintaimu. Jujur saat melihatmu terlihat seperti orang hilang semangat. Apa karena kepergian Gita. Entahlah, kalau kamu mencintai Gita kenapa hidupnya menderita.


Dan aku tidak mau seperti Gita.


Dari


Karina.


Aku terduduk di ujung ruangan. Memandang langit bertabur bintang, indahnya langit tapi tak seindah perasaanku saat ini. Bisa jadi kalian mengatakan aku lebay. Tapi entah kenapa rasanya sakit sekali setelah membaca surat itu. Apakah itu memang perasaannya padaku selama ini? Apakah memang dia hanya kasihan padaku karena aku terlihat seperti kesepian. Tapi itulah yang kamu pikirkan tentangku.

__ADS_1


Suara tangisan terdengar dari ranjang putriku. Kutatap wajahnya dengan tangan kasarku. Ku raih tubuh mungilnya, maafkan ayah, nak. Ayah belum menjadi sosok panutan buatmu. Ayah terlalu sibuk dengan diri sendiri sampai lupa dengan keadaanmu.


Mungkin dengan kepergian Ina adalah teguran agar Ayah lebih fokus denganmu.


Nak jika kamu dewasa nanti carilah pasangan yang benar-benar menerimamu apa adanya. Bukan karena kasihan dan sebagainya. Ayah yakin suatu saat nanti anak ayah yang cantik ini menjadi wanita yang kuat.


"Lam"


"Iya, bu." Aku masih menggendong Shasa yang terlihat rewel.


"Jadi kamu sejak kapan pacaran sama Ina. Kenapa tidak cerita sama ibu. Jujur sejak dia masuk ke keluarga kita. Ibu langsung suka sama dia. Tapi..."


"Tapi apa, bu."


"Mama mertua kamu sepertinya akan jadi penghalang utama kalian. Tadi papa mertua menelepon kalau mereka akan ke Jepang selama satu bulan."


Aku tidak perlu mendengarkan sedang apa dan bagaimana Ina berada. Karena apa? Karena Ina pun memang tidak menginginkan hubungan ini. Jadi buat apa aku kembali mengejarnya.


Patah. Itulah yang kurasakan saat ini. Rasa cinta yang kurasakan tadi hancur lebur bersama kepergian ini. Bukan pertama aku merasakan patah ini, tapi ini lebih sakit dari saat Gita pergi meninggalkanku.


"Lam.. Lupakan Ina. Kamu harus berpikir realistis saat ini. Kamu tidak lupa saat kamu kecelakaan dan terbakar. Gita malah memilih kembali pada Ilham. Sekarang Ina pun begitu, dia malah ke Jepang tanpa pamit sama kamu. Itu artinya apa, lam. Dia tidak serius sama kamu.


Aku bahagia kok,bu. Aku akan bahagia hanya bersama kalian. Ibu, papa Bobby, Shasa dan keluarga lainnya. Aku sudah bahagia walaupun tidak bisa memenuhi keinginan Gita.


"Ya, sudah, Lam. Ini sudah malam. Kamu istirahat dulu."


"Iya,bu."


Aku merebahkan tubuhku diatas ranjang. Melepaskan beban rasa yang menghimpit dadaku. Rasa sesak setelah Ina pergi tanpa pamit. Sekarang perasaanku semakit saat Ilham mendiagnosa gejala yang ada ditubuh putriku.


"Kak, maaf kalau aku harus memberitahukanmu."


"Bilang saja, Ham. Shasa sakit apa?"


"Shasa ... dia ... menurunkan penyakit yang diidap Gita."

__ADS_1


"Apakah parah?"


"Sepertinya masih gejala awal, kak. Tapi..."


"Apa, ham? apa dia harus kemo juga? Dia masih kecil, ham!"


"Untuk sementara ini kita harus kuatkan imunnya dulu. Nanti setelah itu kita lihat pengaruhnya. Kalau parah langsung arahkan ke kemo."


"Kenapa? Kenapa harus anakku yang mengalami ini. Kenapa bukan aku saja? Dia masih kecil, masa depannya masih panjang.


Ya Allah cobaan apalagi ini?"


"Kak, apa sudah kakak temui Ina?"


"Belum. Dia pergi ke Jepang."


"Jadi dia beneran berangkat ke jepang!" Kulihat Ilham seperti kaget.


"Jadi kamu sudah tahu kalau dia mau ke Jepang? Kenapa tidak cerita?"


"Buat apa cerita sama kakak? Dia bukan siapa-siapa kak Alam."


Sepulang dari rumah sakit tulangku rasanya copot. Anakku diagnosa kanker otak sama dengan Gita dulu. Ya Allah kenapa kau timpakan ini pada anakku. Kenapa bukan aku saja yang sakit.


Klik


Esok harinya di kediaman Gunawan.


"Bi Suti!" panggil Grace saat melihat tidak ada sarapan dibawah tudung.


"Iya, non Grace." Bi Suti berlari tergopoh-gopoh ketika mendengar teriakan keponakan majikannya.


"Kamu ngapain aja dari tadi! Mana sarapannya! kamu mau buat saya mati kelaparan!"


"maa...maaaf, non. Biasanya ibu Yulia yang masak. Saya cuma bantu saja." jawab bi Suti terbata-bata.

__ADS_1


"Cepat masak! Saya lapar! Nanti saya aduin kamu sama tante Lia!" titah Grace.


Huh dasar! Baru sehari tinggal disini saja belagu minta ampun. Aku baru tahu non Grace kayak gitu. Beda dengan anaknya Geri. umpat Bi Suti.


__ADS_2