
"Bagaimana kondisi anak saya,dok?" tanya Marni saat dokter selesai memeriksa Alam.
"Seperti anak anda pingsan dalam waktu yang sangat lama. Sehingga perlu penanganan khusus. Apakah dia punya penyakit paru-paru?" Tanya dokter.
"Anak saya pernah terbakar saat kecelakaan. Paru-parunya mengalami infeksi akibat kecelakaan tersebut." Jelas Marni.
Dokter menghela nafas panjang. Suatu penyakit langka yang dia temui dalam diri pasiennya. Biasanya infeksi terjadi ketika si pasien adalah seorang perokok. Tapi yang ini beda, pasien menderita infeksi karena pernah terbakar.
"Apakah anak anda perokok?" Tanya dokter.
"Iya, dok. Dia perokok tapi bukan aktif." Jelas Marni.
"Berarti bukan karena dia pernah terbakar tapi karena dia seorang perokok. Aktif atau tidaknya tetap saja mempengaruhi kesehatannya." Terang dokter sambil menggelengkan kepalanya.
"Dokter tolong selamatkan anak saya, dok. Kasihan dia punya anak yang masih kecil. Istrinya belum lama ini meninggal dunia. Tolong anak saya, dok!" Marni sampai bersujud di kaki dokter.
"Kami akan melakukan semampunya." Dokter berusaha menenangkan Marni.
"Ma, kamu yang tenang. Serahkan semua pada dokter." Bobby ikut membujuk istrinya.
Dul menatap Marni yang masih down mendengar keterangan dokter terkait kondisi Alam. Ada rasa kasihan melihat kesedihan besannya. Orangtua manapun pasti tidak ingin melihat anaknya sakit. Kalau bisa biar mereka saja yang menggantikan sang anak.
Tiba-tiba Dul teringat saat Alam menunggui Gita yang sempat drop saat hamil. Marni datang memarahi Alam karena masih tidak setuju dengan pernikahan mereka. Marni memaki soal Gita didepan Alam dan di depan orangtua Gita. Alam bahkan bersujud didepan Marni agar memaafkan dan menerima pernikahan mereka.
"Apakah ini karma?" Batin Dul.
"Ya, Allah aku yakin ada hikmah dibalik semua kejadian yang menimpa keluarga kami. Aku yakin engkau punya sesuatu yang engkau siapkan untuk kami. Karena Engkau tidak akan menguji kami melebihi kemampuan hambanya.
Sembuhkanlah menantuku, Ya Allah. Sesungguhnya dia lelaki yang baik, tapi orang-orang sekitarnya yang membuat dia terlihat buruk. Hanya kepadamu kami meminta, hanya kepadamu kami memohon."
Dul duduk disamping bobby. Menguatkan lelaki yang pernah menjadi bos nya saat itu. Dul ingat saat keegoannya tak ingin dianggap benalu di perusahaan mertuanya. Dul memasukkan lowongan kerja ke perusahaan Spencer. Saat itu dia belum tahu kalau Perusahaan mertuanya berteman dekat dengan Perusahaan tempat dia bekerja. Dimatanya saat itu, Bobby memang sedikit arogan tapi kalau mengenal lebih dekat sebenarnya orang baik.
"Kak Bobby yang sabar, ya. Aku yakin Alam bisa melaluinya dengan baik. Dia anak yang kuat."
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya bobby.
"Aku tidak tahu. Kami menemukan Alam pagi tadi tergelak di teras belakang." Cerita Dul.
"Padahal waktu dia mau nganterin Shasa masih segar bugar. Kok bisa ya, Alam pingsan seperti itu." Bobby masih penasaran.
"Entahlah, Kak. Pas dia datang kebetulan kami sedang kedatangan tamu."
"Tamu? Siapa?"
"Teman dekatnya Ina. Mereka datang melamar Ina."
"Terus? diterima sama Ina?"
__ADS_1
Dul menggeleng. Dia menceritakan kalau Ina menolak lamaran lelaki itu. Bobby merasa lega setelah mendengar Ina menolak lamaran. Namun dia hanya menyimpan kelegaannya dalam hati saja.
Sementara itu diruang rawat terdengar suara decitan komputer deteksi. Sebuah tangan wanita yang masih mulus menggenggam erat sosok yang sedang terbaring. Isakan kecil terdengar melunturkan riasan wajahnya. Tapi dia tidak peduli itu, yang dia inginkan putranya cepat sadar.
"Sekarang kamu merasakan apa yang aku rasakan dulu. Kamu tidak lupa kan Marni, bagaimana kamu mencap anakku pembawa sial. Tapi yang membuat anakku tertimpa masalah adalah kalian. Kamu tidak lupa kan Marni, bagaimana kamu mengancam Gita akan mengambil anaknya.Sekarang karma sedang berjalan, Marni."
Marni menoleh kearah suara. Didepannya adalah besan wanitanya. Tatapan Yulia penuh kemarahan membuat Marni hanya bisa menelan salivanya. Marni pun bersujud dikaki Yulia.
"Jika kak Lia membenciku karena kesalahanku pada Gita. Hukum aku saja, kak. Jangan pada Alam. Hukum aku saja! Tapi jangan timpakan pada Alam."
Yulia tetap tak bergeming saat Marni memohon pada dirinya. Rasa sakitnya masih terasa ketika mengingat perlakuan Marni pada putrinya. Yulia langsung keluar dari ruangan.
Klik
Satu minggu kemudian
"Na" Panggil Dul.
"Iya, kak."
"Ikut kakak ke kantor bisa?".
"Bisa."
"Ya, udah langsung berangkat."
"Maaf, Na. Kakak ngantar kamu kesini soalnya ada yang nanyain kamu terus."
"Aku?" Ina menunjuk dirinya sendiri. "Siapa?" Tanya Ina penasaran.
"Nanti kamu tahu. Udah cepetan ke kamar melati no 30."
Ina turun dari mobil. Rasanya penasaran tentang siapa yang berada di ruang melati. Setelah ditemani oleh perawat menuju kamar yang dicari. Ina mencoba mengetuk pintu kamar tersebut.
"Hai, Ina." Sapa Alena yang sedang mengupas apel.
"Oh, jadi ini pasiennya." Ina melipat tangannya.
Ina kesal merasa dikerjai sama kakak iparnya. Apalagi pas sampai dapat pemandangan mesra. Membuat dirinya merasa seperti nyamuk.
"Ya, aku pasiennya. Kok baru sekarang jenguknya?" Tanya Alam sambil disuapin apel sama Alena.
"Ya, masih mending aku datang daripada nggak sama sekali. Maaf yah, kalau aku ganggu." Ina keluar dari ruangan Alam.
"Eh, Ina. Kebetulan kamu datang. Hari ini Alam dibolehkan pulang ke rumah. Kamu mau kan ikut ke rumah." Ajak Marni.
"Ah, aku lupa bu Marni jam 10 nanti ada klien yang datang untuk pertemuan bisnis. Saya balik ke kantor ya Bu Marni dan Pak Ronal." Pamit Alena.
__ADS_1
"Sukses, ya, pak." Bisik Alena.
Ina yang tadinya menolak ikut. mau tidak mau harus ikut ke kediaman Spencer. Dengan telaten dia memindahkan Alam ke kursi roda. Kaki Ina sempat tergelincir dengan gesit Alam menarik tangan Ina. hingga gadis itu terduduk diatas pangkuan Alam. Keduanya mencoba menetralisir degupan jantung masing-masing.
"Eeeehmmm.." Mereka tersadar saat deheman membuyar momen itu.
"Maaf, ye ... ganggu! Aku mau jadi setan yang baik aja. Biar kalian nggak aneh-aneh." Goda Ilham.
"Lepasin, Ah. Dasar duda mesum!" Berontak Ina.
"Eeeeehhh ... enak aja! OCAN Oma kelicahan!" balas Alam tidak mau kalah.
Ina langsung beranjak dari pangkuan Alam. Lagi-lagi rasa kesal menyelimutinya. Gadis itu mengambil tas nya dan keluar dari ruangan Alam. Tapi ditahan sama Ilham "Mau kemana, Na?"
"Pulang"
"Loh, kok pulang ini kak Alam gimana?"
"Bodo amat. Dia kan udah gede, bisa pulang sendiri 'kan." sahut Ina yang langsung melepaskan diri dari tangan Ilham.
Ilham menarik tangan Ina lalu menuntun memegang gagang kursi roda. Dengan malas Ina mendorong kursi roda.
"Terimakasih,Na."
"Buat?"
"Buat kami nyempatin datang kesini. Aku pikir kamu nggak akan mau datang nengokin."
"Emangnya harus banget nunggu aku?"
"Nggak tahu, Na. Rasanya kalau belum ketemu kamu masih ada yang kurang gitu."
"Haahahaha... Lebay kamu, Lam."
"Ya gitu, lah. Namanya juga cinta."
Ina terhenti saat mendengar ucapan terakhir Alam. Pelan-pelan dia melepaskan pegangan kursi roda. Ada rasa sesak yang menderanya.
"Dan cinta itu tidak boleh ada, Lam." Beber Ina dengan nada lirih.
"Apakah itu penolakan, Na? Maaf, aku tidak minta kamu harus menerimaku. Aku tahu kalau kamu tidak punya perasaan yang sama padaku. Aku tahu dihatimu masih ada kak Rangga. Tapi aku merasa dekat sama kamu sejak awal pertama bertemu. Aku merasa ada Gita yang hidup dalam dirimu. Maaf kalau aku kesannya membandingkanmu dengan Gita, tapi itu yang aku rasakan setiap berada didekatmu."
Ina melanjutkan mendorong kursi roda hingga sampai didepan mobil. Ada Bobby dan Ilham yang menuntun Alam kedalam mobil. Mereka menawari Ina untuk ikut ke rumah tapi Ina menolak dengan alasan ada urusan lain. Didalam mobil Alam menatap Ina dari balik kaca.
"Maaf, Na. kalau ucapanku tadi membuatmu tersinggung." Batin Alam.
"Maaf, Lam. Aku sudah berjanji pada kak Lia agar tidak berurusan denganmu lagi." Batin Ina.
__ADS_1